-->

Lainnya Toggle

Entrok (Okky Madasari): Judulnya akan Dikenang

entrokBocah itu bernama Marni. Ia anak seorang perempuan pengupas ketela di pasar Singget. Bapaknya pergi setelah memukul ibunya yang sedang sakit panas.

Marni sedang tumbuh menjadi remaja. Tubuhnya mulai mekar. Ia rasakan dadanya menonjol. Jika berlari, dadanya akan terguncang-guncang dan membuatnya tak nyaman. Tapi ia melihat sepupunya Tinah tetap bebas berlari meski dadanya juga mekar. Dari Tinah, Marni mengenal sebuah benda yang dapat menyangga dada agar singset, namanya: entrok.

Marni kecilpun ingin memiliki entrok. Ketika meminta pada ibunya, ia harus menelan kecewa. Entrok itu mahal. Meminta pada ayah Tinah, ia justru dihina caci. Maka Marni pun bertekad untuk membeli entrok sendiri. Untuk itu ia harus bekerja, membantu mengupas singkong bersama ibunya di pasar.

Ternyata pengupas singkong tak pernah diberi upah uang, hanya bahan makanan. Marni pun melirik profesi kuli angkut yang dilakukan para lelaki di pasar itu. Marni merasa mampu melakukan pekerjaan itu. Setiap hari punggungnya terlatih mengangkut beban hasil upah ibunya dengan jarak yang cukup jauh. Maka ia pun nekad menerjang tabu, perempuan tak ada yang menjadi kuli angkut, itu tak pantas. Tapi Marni kukuh. Ia ingin membeli entrok.

Sebagai satu-satunya kuli angkut perempuan, Marni banyak mendapat langganan. Hingga akhirnya sebuah entrok pun terbeli. Tapi Marni terlanjur menikmati hasil upahnya sebagai kuli angkut. Meski sudah bisa membeli sebuah entrok, Marni ingin membeli entrok yang lebih bagus, lebih banyak, lebih beragam. Marni terus mengumpulkan uang dengan mengangkut barang. Tapi ia punya rencana lain.

Ketika Marni merasa uangnya cukup, ia menyimpan tekad untuk berdagang sayur. Tapi ia tak akan berdagang di pasar, terlalu banyak saingan. Ia berdagang keliling dari rumah ke rumah. Dari semula hanya memiliki pelanggan sepanjang jalan pasar Singget hingga kampungnya, Marni makin dikenal dan menjadi langganan para istri petinggi kampung. Wilayah dagangnya pun meluas. Marni kemudian mulai memberikan pinjaman uang dengan bunga 10%. Cap rentenir pun melekat padanya. Namun Marni tak merasa apa yang dilakukannya adalah suatu yang salah. Ia tidak merampok, menipu, atau membunuh. Ia hanya menolong.

Marni lalu menikah dengan Teja, lelaki yang jadi kuli angkut turun temurun dari ayahnya. Teja adalah sosok laki-laki yang hanya punya otot. Ia hanya mengantar Marni berdagang, mengangkut barangnya, dan bersantai di rumah. Selebihnya, urusan perdagangan dibawah kendali penuh Marni. Teja bahkan tidak bisa membela istrinya ketika aparat pemerintah mulai dari polisi sampai lurah memoroti harta mereka.

Ketika usaha Marni makin berkembang, ia juga mulai naik kelas dengan membuat dinding bata untuk rumahnya. Sementara Teja mulai menghambur uang dengan mabuk dan meniduri perempuan penghibur. Marni memilih untuk tutup mata atas kelakukan Teja. Ia tak ingin bercerai.   Jika bercerai, harta yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit itu akan menjadi gono gini yang harus dibagi. Marni tak akan pernah rela. Hartanya ia kumpulkan sekeping demi sekeping dengan keringatnya sendiri. Teja tak banyak berperan.

Sementara itu, Rahayu, anak semata wayang Marni tumbuh sebagai anak jaman yang mengenal sekolahan. Disekolahnya itu, Rahayu mengenal tentang agama Tuhan.  Guru agamanya mengatakan bahwa apa yang dilakukan ibunya adalah dosa. Ibunya menyembah leluhur, Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa, melakukan selamatan, dan dimata Rahayu itu musyrik, itu kafir. Ibunya meminjamkan uang dengan bunga, kata guru agamanya, itu riba, dosa. Rahayu pun mengalami pertentangan nilai yang membuatnya merasa tersisih karena menjadi bahan gunjingan di sekolahnya. Ia mulai membenci ibunya.

Tapi bagi Marni apa yang dilakukannya bukan lah sebuah dosa. Ia berdoa memohon dan berterimakasih pada Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa dengan bersemadi di bawah pohon asam kala malam seperti yang diajarkan ibunya sedari ia kecil. Ia mengucap syukur dengan membuat selamatan. Terbukti hamper semua keinginannya terkabul.

Marni meminjamkan uang karena ingin membantu orang lain. Untuk melakukan itu ia berusaha dengan keringatnya sendiri, tidak merampok, tidak menipu, tidak membunuh. Marni tak peduli lagi dengan pandangan dan gunjingan orang tentang pekerjaannya. Ia meneguhkan ketegaran hati, menebalkan telinga dari gunjingan, memantapkan keyakinan, terus berdisiplin dan tekun sebagaimana orang melakukan pekerjaan lain. Karena ironis, guru agama Rahayu yang menyebutnya kafir dan pendosa itu juga salah satu peminjam uangnya.

Gunjingan orang tak menghalangi Marni untuk terus berkembang. Ia berkenalan dengan Koh Cayadi, seorang Tionghoa pemilik toko elektronik di Madiun. Marni diajak Cayadi untuk melakukan ritual di gunung Kawi, berikhtiar mencari mukjizat untuk bisa mengembangkan usaha. Tapi ternyata akibatnya buruk, ia justru disebut-sebut mencari pesugihan. Kematian buruh-buruhnya dan suaminya pun dikait-kaitkan dengan tumbal pesugihan. Orang mulai menjauhi dirinya dengan terang-terangan.

Di sisi lain Marni terus menerus dihadapkan pada realitas kekuasaan yang mencucup keringatnya dengan dalih ‘uang jasa keamanan’. Polisi, tentara dan aparat kelurahan tak hentinya menarik pungutan ini itu. Marni yang usahanya makin mendapat saingan bank kredit itupun tak kuasa selain menuruti permintaan mereka yang mencekik leher.

Jaman terus berubah. Kebijakan politik pemerintah makin cenderung berpihak pada militer. Kekuasaan tentara makin merajalela dan sewenang-wenang menindas. Marni menjadi salah satu korbannya. Ia wajib menyetor upeti saban bulan. Ia tak mau usahanya diganggu apalagi bila sampai dilabeli PKI, ia takut masuk penjara. Saat itu, cap sebagai orang PKI adalah sebuah mimpi buruk bagi setiap orang. Itu artinya menjadi musuh pemerintah. Marni tak mau aneh-aneh. Ia buta politik. Saat pemilu, ia mencoblos gambar beringin seperti yang disarankan Pak Lurah agar usahanya tetap aman.

Tapi tidak bagi Rahayu, anak marni. Rahayu bukan hanya memiliki cara pandang yang berbeda dengan ibunya, tapi dia juga memilih untuk berpisah jarak tanpa sapa. Ia yang mengenyam pendidikan tinggi di Jogja itu memilih jalan pergerakan sebagai perlawanan pada tirani kekuasaan. Ia aktif berorganisasi dan melakukan pendampingan masyarakat yang tertindas oleh ulah penguasa. Salah satunya adalah korban pembangunan sebuah waduk.

Di organisasi pergerakan inilah Rahayu menemukan tambatan jiwanya. Lelaki yang sudah memiliki istri itu dipilih Rahayu sebagai suaminya. Tapi kebersamaan mereka tak berlangsung lama. Amri, suami Rahayu, tewas di ujung bedil tentara ketika mereka membela sekelompok penduduk yang desanya akan digusur menjadi bendungan air.

Kehilangan Amri membuat Rahayu kehilangan separuh keyakinan diri. Ditengah pendampingan warga desa yang tanahnya terancam digusur, ia bercinta zina dengan Kyai Hasbi, ulama yang menampung ia dan Amri. Kemudian ia ditawari menjadi istri ke empat. Kyai Hasbi memilih meninggalkan desa karena memikirkan keselamatan pesantrennya. Rahayu bertahan. Ia berjuang sendiri.

Hingga malam penggusuran itu pun tiba. Rahayu yang semula mengajak anak-anak mengaji, tak kuasa untuk mengikuti ritual orang-orang desa yang mengucap mantra, membuat sesaji, dan berjoget seiring bunyi gamelan. Tubuh Rayahu bergerak menari mengikuti alunan gamelan, orang-orang rubuh, Rahayu tak ingat apa-apa selain ibunya.

Rahayu meringkuk dalam penjara karena membela orang-orang desa itu. Marni datang sebagai malaikat penyelamat. Mengupayakan segala daya dan mencurahkan kasih sayang untuk kebebasan anak kesayangannya. Ketika hari pembebasan tiba, Rahayu tak berkeberatan Marni menggelar selamatan. Hatinya telah mampu bertoleransi atas pilihan keyakinan ibunya, yang juga dianut banyak penduduk lain.

Dua perempuan janda itu kembali rukun sebagai ibu-anak. Hingga muncul keinginan Marni untuk menikahkan Rahayu. Ia belum pernah mantu. Dan Rahayu anak satu-satunya.  Marni ingin merasakan bahagianya mantu. Maka ia carikan jodoh untuk Rahayu. Sutomo anak Pak Kirun tukang andong terpilih.

Persiapan pesta besar dilakukan di rumah Marni. Kurang dua hari dari pesta pernikahan Rahayu-Sutomo, prahara datang. Pak Kirun membatalkan perkawinan anaknya. Kartu Tanda Penduduk milik Rahayu bertanda ET (Eks Tapol), itu berarti PKI. Dan siapapun akan menjauh dari embel-embel PKI bila ingin tetap hidup tenang di negri ini.  Kirun menuduh Marni menipu dan hendak menjadikan anaknya sebagai tumbal pesugihan.

Marni tak mampu lagi mencerna dalam pikirannya. Ia hanya ingin anaknya menikah. Ia tak tahu menahu dengan KTP bertanda ET. Ia hanya ingin menimang cucu. (Diana AV Sasa-Panitera Sidang Dewan Pembaca #6)

Judul :Entrok
Penulis :Okky Madasari
Penerbit : Gramedia
Dimensi: 13.5 x 20 cm
Tebal: 288 halaman
Cover: Soft Cover
ISBN: 978-979-22-5589-8

1 Comment

Robertimmanuel - 24. Okt, 2012 -

barusan nih selesai baca novel entrok…. akhirnya 🙂 menarik banget… seorang penulis muda tapi dia bisa menggambarkan kondisi sosial politik era tahun 65 dengan mulus dan baik. Keren lah… dan juga dibumbui dengan perselisihan ibu anak mengenai masalah kepercayaan.
Mau diskusi dikit nih mbak…
Kalau menurut mbak apa sih yang membuat rahayu bisa berbalik 180 derajat. yang awalnya benci sama ibunya, tiba-tiba balik ke ibunya sampai ibunya juga kaget dengan rahayu.
Kalau menurut saya sih karena melihat orang2 yang tidak bersalah itu dibunuh secara tidak biadab oleh orang2 yang dicap sebagai orang beragama, sehingga rahayu pun mulai sadar.
atau mungkin karena sama-sama janda dan mengalami kesepian? dan tempat satu-satunya bagi rahayu untuk bisa diterima kembali adalah di pangkuan ibundanya?
Hehehhehe… diskusi ngga apa yah mbak?
Monggo lho yang lain bisa saling nimbrung disini…
Makasiii…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan