-->

Lainnya Toggle

Entrok (OM):Pandangan Anggota Sidang

entrokNovel yang ditulis Okky Madasari itu bersampul sisik dengan gambar punggung perempuan yang sedang mengaitkan kancing Bra (BH). Entrok sendiri adalah semacam Bra kuno. Perbincanganpun dimulai dari sana.

Zen RS sang pejalan jauh, mengawali.

“Takdir” novel ini barangkali akan dikenang lewat jdulnya yang khas dan sangat kuat, bukan pada nama-nama tokohnya. Entrok, entrok, entrok… itu bagus banget. Pilihan pada Entrok sudah sangat kuat. Saya tak bisa membayangkan judul yang lebih baik dari Entrok untuk cerita ini, bahkan kendati benda bernama “entrok” sebenarnya sudah terkubur sejak halaman 41. Dengan judul Entrok, setidaknya, novel ini akan lebih mudah diingat, lebih punya bunyi dan pada saat yang sama Okky menghidupkan kembali satu kata yang mungkin akan punah seandainya tak dijadikan judul novel”

Namun Zen menyayangkan, dalam soal Entrok ini, Okky hanya menjadikan Entrok sebagai judul, tidak lebih tidak kurang. Entrok sendiri sebagai sebuah benda sama sekali tidak digarap. “Sayang Okky lebih sibuk menjlentrehkan upacara tebu yg menurut saya ‘bisa dilewatkan atau ditipex’ saja”, tambahnya.

Nisa Diani membagi pengalamannya, “Ibu saya yang juga mengalami masa gadis antara rentang waktu yang sama dengan Marni. Ia pun mengalami pergolakan yang sama dengan Marni. Diam-diam menyisihkan uang dari berdagang demi membeli entrok. Meski saat itu eyang saya juga sangat berbaik hati menjahitkan ibu saya kutang, pakaian dalam perempuan tanpa kawat penyangga. Eyang saya juga masih peduli dengan memberi sedikit kalimat penghibur bahwa kutang memiliki fungsi ganda sebagai tempat penyimpan uang, karena biasanya ada kantung kecil yang dijahitkan pada kutang tersebut. Kalau belum cukup, eyang selalu menambahkan renda-renda pipihan. Tapi tetap saja kutang memang tidak senyaman Entrok dalam menahan beban payudara”.

“Saya tidak tahu seperti apa entrok di kampung Singget”, timpal Zen. “Karena Okky bahkan tidak pernah memberi deskripsi yang memadai tentang benda yang menjadi judul novelnya. Entrok, setahu saya, semacam bra yang di jaman saya kecil lazim digunakan perempuan tua, dengan salah satu ciri utamanya yang saya ingat adalah memiliki kantung kecil tempat menyimpan uang. Entrok punya peluang muncul lagi pada fase-fase di mana Marni mulai berhasil mengumpulkan uang. Agak mengherankan Okky tidak tertarik, misalnya, untuk menjadikan kantung kecil di entrok itu untuk menyimpan sesuatu. Bisa saja itu uang, atau perhiasan, atau rahasia-rahasia kecil kehidupan Marni, yang dengan demikian memperpanjang riwayat entrok di tubuh cerita, bahkan bisa saja dijadikan metafora atas pribadi Marni”.

“Di situlah soalnya. Tanpa mengekplorasi dan membangun kekuatan metaforik dari benda bernama entrok, judul “Entrok” jadi agak sia-sia dari perspektif “logika-dalam” novel ini. Kita lihat, entrok seperti tidak lagi penting justru saat Marni sudah berhasil mendapatkannya. Itu klimaks yang prematur juga mengecewakan. Marni malah hanya diceritakan ingin terus cari uang supaya bisa dapat entrok yang ada permatanya. Buat saya, bukan “entrok yg ada permatanya” yang jadi obsesi, tapi permata (kekayaan) itu sendiri yang jadi obsesi Marni selanjutnya. Dengan demikian, benda “entrok” dari sudut pandang “logika-dalam” novel ini sebenarnya bisa saja digantikan dengan mobil, perhiasan, baju mahal, dll. Gantilah entrok dengan perhiasan, misalnya, maka struktur utama novel ini tidak akan mengalami perubahan banyak”.

“Pilihan untuk meninggalkan entrok begitu saja membuat membuat Okky kehilangan peluang untuk menghadirkan meditasi atas benda sebagai metafora yang kuat dan berumur panjang. Tidak banyak novel Indonesia yang berkembang di bawah asuhan benda-benda yang tumbuh menjadi mahluk-hidup yang memberi pengaruh besar pada perkembangan cerita”, pungkas Zen.

Hernadi Tanzil sepakat dengan tuturan Zen. Katanya: “Judul, judul novel ini memang menarik sekali “Entrok” mudah diingat dan membuat penasaran pembacanya. Entrok memang menjadi dasar dari Marni untuk meraih mimpinya, tapi sayang kisah Entrok ini hanya terdapat di bab pertama, setelah itu Entrok tak lagi disebut-sebut. Padahal penulis bisa saja menyelipkan Entrok dalam kisah perjalanan Marni, misalnya melalui kenangan Marni akan entrok yg tiba-tiba muncul lagi ketika kesulitan menderanya, atau bisa saja dimunculkan ketika Marni memberi wejangan kepada anaknya, dan sebagainya. Karena hal tersebut tidak ada, maka Entrok itu sendiri seakan kurang menjiwai novel ini secara keseluruhan”

Rama Prabu, sedikit berbeda pandangan. Ia menyarankan judulnya diganti. “Apakah cocok novel ini diberi judul Entrok (BH)? Padahal cerita Entrok hanya pembuka jalan cerita. Saya malah melihatnya novel ini lebih cocok diberi judul Rentenir, karena selepas Bab Entrok (1950-1960) praktis cerita seutuhnya telah berubah pola, Tuyul-tuyul Ibuku, Dewandaru, Kentut Kali Manggis, Kembang Setelon, Kerudung Merah, Raga Hampa adalah cerita yang beda. Malah Kerudung Merah bisa jadi cerpen yang terpisah sama sekali”

Perbincangan berlanjut pada penokohan novel. Tanzil berpendapat bahwa karakter tokoh Marni dan Rahayu tampak tereksplorasi dengan baik dalam novel ini. Walau bertutur tentang tokoh perempuan dan ditulis oleh seorang perempuan, penulisnya tak lantas menjadikan kedua tokoh ini sebagai ‘hero’. Marni dan Rahayu hanyalah perempuan biasa. Mereka digambarkan apa adanya termasuk kebaikan dan keburukannya. Marni walau perempuan yang mandiri, ulet dan tegar namun ia menyerah juga terhadap keadaan yang membuatnya menyuap tentara untuk menyelamatkan hartanya. Ia mengutuk kebisaan suap yang dilakukan tentara namun ia tak melawan karena tak punya kuasa dan keberanian untuk melawannya.

Sosok Marni,menurut Rama Prabu adalah sosok yang ulet, tegar, kuat dan dinamis mengikuti zamannya. Tapi sering kali Prabu membaca kata-kata “Duh, Gusti…” dan itu menurut Prabu adalah bentuk penyesalan atau pengaduan.

“Akan lebih baik tokoh ini dipertahankan ketegarannya daripada menjadi sosok yang sering mengeluh pada yang kuasa dan malah di akhir episode digambarkan dia menjadi gila, ini sesuatu yang kontradiktif dengan perjuangan hidupnya hingga jadi “juragan”.  Tapi masih bisa dimaklumi ketika dilanda kebangkrutan dan pemerasan yang dilakukan oknum tentara dan partai politik bergambar beringin itu”.

Mahwi Air Tawar memandang sosok Marni dan Rahayu sungguh kabur. Marni yang buta huruf, dan Rahayu yang cerdas, dan tokoh-tokoh lainnya yang nyaris sama karakternya baik dalam bersikap maupun saat terjadi dialog. Kata Mahwi, “Bukankah karakter masing-masing orang berbeda? Di sini semua karakter nyaris sama. Masing-masing seperti mendapatkan ‘mukjizat’ kecerdasan meski sebelumnya tak pernah belajar membaca, ataukah Mba Bumi Bapa Kuasa, sebagaimana yang dipercaya oleh Marni sebagai tokoh yang selalu melindunginya, juga berperan, merasuk kesetiap pikiran tokoh-tokoh yang ada dalam novel entrok ini?

Dan Zen pun bertutur panjang:

“Novel ini dilambungkan sedemikian rupa oleh karakter Marni, tapi diturunkan sedikit levelnya oleh karakter Rahayu. Rahayu sungguh karakter yang membumi, kuat, dan menghadapi problem-problem yang memang mendatanginya, bukan dia yang mencari dan mendatangi. Ia seorang yang berpijak di buminya sendiri. Sebagai karakter, Marni hidup dan kuat justru karena ia tampil sebagai manusia yang utuh, punya daging dan tubuh, selain punya cita-cita, mimpi dan harapan”

“Karakter Marni langsung dihadapkan Okky dengan persoalan yang fisikal: membesarnya payudara yang tak terpahami oleh Marni, juga problem-problem yang bermunculan karena perkara payudara yang mulai sekel itu. Okky juga mengimbuhi bagian itu dengan gambaran yang tak kalah fisikal: tentang orang-orang yang harus mengenakan baju goni, memakan daging tikus sawah, bau badan simbok dan dadanya yang kenyal”.

“Okky dengan baik mengulik sisi-sisi terdalam karakter Marni. Impian, harapan, hasrat, kemarahan, keletihan, juga mimpi melihat Rahayu anaknya bisa sekolah tinggi dan menjadi seorang pegawai menjadi rajutan benang yang membentuk selembar kain karakter yang puspa-warna, kaya dan pada beberapa bagian sangat menyentuh”.

“Sementara karakter Rahayu hanya kuat saat ia berhubungan dengan ibunya, Marni. Begitu ia meninggalkan kampung Singget, dan dengan demikian menjauh dari ibunya, karakter Rahayu bagi saya sudah menjadi ‘manusia abstrak’ ”.

“Kita bahkan tak pernah mendapatkan gambaran mengenai Rahayu sebagai manusia yang punya daging dan darah. Pembaca tak tahu seperti apa rambutnya, wajahnya, kulitnya atau hidungnya…. Rahayu yang merantau adalah “manusia abstrak”, mungkin ibarat kertas kosong yang dari sana “sang-pengarang” membubuhinya dengan pelbagai gagasan, rupa-rupa kejadian, dan ragam tindakan. Isu politik, militerisme, politik de-islamisasi, juga developmentalisme Orde Baru yang dipilih oleh Rahayu”.

“Rahayu punya peluang untuk menjadi pribadi yang terikat dengan “buminya” sendiri saat memutuskan kuliah di jurusan pertanian dengan alasan agar “bisa membantu orang-orang di desaku sana memperbanyak panen” (hal. 135). Ini alasan yang bagus yang bisa mempertautkan Rahayu dengan masa silamnya, dengan tanahnya sendiri, dengan “bumi persoalannya” sendiri. Tapi Okky memutuskan garis-cerita Rahayu kian menjauh dari itu dengan bergabung ke kelompok dakwah dan pengajian. Dalam kata-kata Rahayu sendiri, “Bukan sekadar pengajian yang membahas surga dan neraka, tapi tentang martabat manusia. Pengetahuan yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya.” (hal. 135)”

“Semua masalah yang dihadapi Rahayu memang terkait dengan soal martabat manusia, bukan martabat Rahayu. Ini memang tentang pengetahuan yang tak pernah didapatkan sebelumnya, bukan hal-ihwal yang sudah lama diintiminya”.

“Daya dan kekuatan dari karakter Rahayu baru muncul kembali saat ia pulang kampung ke Singget dengan membawa kekalahannya yang telak (dipenjara setelah mengadvokasi warga kampung yang jadi korban penggusuran pembangunan waduk dan kehilangan suaminya). “Bersatunya” anak dan ibu yang telah lama terpisahkan oleh jarak dan pengertian itu bukan hanya menjadikan mereka bisa berbagi kesunyian, tapi keduanya dengan baik bahu-membahu kembali meletupkan daya dari cerita ini tepat menjelang novel ini berakhir.”

Lanjut lagi, anggota sidang mulai membahas latar belakang cerita. Tanzil menganggap walau setting novel ini terjadi berpuluh tahun yang lalu namun beberapa situasi sosial yang terekam dalam novel ini masih terjadi di masa kini sehingga masih relevan dengan situasi sekarang.

“Jika kita mencermati berbagai peristiwa yang dialami oleh para tokohnya akan terlihat bahwa novel ini memang memiliki nilai dokumenter khususnya dalam ranah politik. Dengan mudah ketika membaca Entrok kita akan menemukan kronik dari berbagai peristiwa politik yang terjadi di tahun 1950-1999. Misalnya soal Pemilu yang mengharuskan pemilih untuk memilih lambang tertentu, peristiwa peledakan candi Borobudur, petrus (pembunuhan misterius), polemik waduk kedungombo, dll.  Kita akan diingatkan akan sejarah dan peristiwa sosial dan politik masa lampau yang mungkin nyaris kita lupakan. Salah satu contoh adalah kisah penggusuran sebuah kampung untuk dijadikan proyek bendungan. Walau tak disebutkan secara jelas kisah ini akan mengingatkan kita akan waduk Kedungombo. Di kisah ini akan terlihat dengan jelas bagaimana lagi-lagi tentara dikerahkan untuk menekan penduduk desa yang hendak mempertahankan tanahnya agar mau pindah. Cap sebagai kampung PKI kembali menjadi senjata ampuh untuk menakut-nakuti masyarakat agar mau pindah”.

Pernyataan Tanzil dikuatkan oleh Muhidin M Dahlan. Tutur Muhidin, “Ini debutan yang baik. Bagi yang sudah menyelesaikan dengan baik Para Priyayi Umar Kayam atau Ronggeng Dukuh Pruk karya Ahmad Tohari, buku ini masuk dalam genre itu. Konflik yang diambil sebagai latar, bagi para pembaca kronik yang tekun, akan mudah dideteksi: pemboman candi Borobudur yang dilakukan seorang habib yang buta yag kemudian ditangkap dalam bus di Probolinggo (laporan utamanya ada di Tempo edisi Maret 1985). Juga Kedung Ombo (kiai yag dimaksud di sini kemungkinan besar adalah mengambil ego Romo Mangun yg menyusup tengah malam ke Kedung dengan beberapa aktivis dan menyamar sebagai guru sekolah membawa peralatan tulis, baca di bunga rampai 70 tahun Romo Mangun terbitan Pustaka Pelajar, 1995). Juga beberapa preman yg mati, adalah latar peristiwa Petrus (penembakan misterius). Okky membidik tentara sebagai jahanam. Sama kan dengan kekuatan yg dihadapi Lantip di Para Priyayi I dan yang dihadapi Srintil di Ronggeng”.

Mengenai alur cerita, Zen berpendapat: “Agak aneh rasanya membaca soal Pak Widji, guru rahayu, yang ngutang pada 1977. Disebutkan Pak Widji masih jadi guru rahayu, padahal pada 1975 rahayu sudah kelas 6 SD. Apa guru itu juga ngajar di SMP nya Rahayu? Atau Rahayu yang tak lulus sampai dua tahun?”

“Blooper terakhir itu lahir karena Okky bergenit-genit dengan plot. Periode waktu diacak dan dimaju-mundurkan sedemikian rupa yang sayangnya perpindahan dan pergantian urutan scene itu tidak mulus digarap Okky. Ini bukan hanya bikin sedikit kebingungan bagi pembaca, tapi terbukti sedikit menyusahkan penulisnya sendiri.Andai saja Okky menggunakan alur yg linier, yang seperti itu bisa dihindari dengan mudah. Saya jadi ingat doktrin neorealisme sineas Italia, Vittorio de Sica, yang pernah bilang bahwa realisme akan jauh lebih kuat mencengkeram jika –salah satunya– menggunakan alur yg realis yaitu linier. Hidup itu kan ya linier dari segi kronologi waktu. Mungkin tu sebabnya novel2 realis yang “berhasil” (dari Ronggeng Dukuh Paruk sampai Bumi Manusia atau Gadis Pantai, juga Ibunda-nya Gorky, misalnya) menggunakan alur yg linier. Orang tentu bisa bolak balik ke masa lalu dan masa kini sekaligus mengkhayal masa depan, tapi itu di pikiran saja, makanya yang begituan biasanya digunakan oleh novel-novel dengan tekanan besar pada psike tokoh, bukan pada alur dan scene by scene (misal james joyce atau yang paling mutakhir dan jadi masterpiece itu ya gao jingxian)”

“Ada satu bagian kisah yang bagi saya agak terlalu mengada-ada dan sedikit berlebihan, yaitu pada bab “Kentut Kali Manggis” dimana ketika seorang penduduk desa kedapatan buang angin saat diinterogasi oleh tentara karena kedapatan bermain kartu akhirnya harus dihukum berendam di sungai semalaman. Kejadian ini diketahui oleh Rahayu dan kawan-kawan sehingga mereka berniat untuk mengungkapkan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh oknum tentara itu ke dalam koran. Akibatnya sungguh tak terduga karena menyebabkan kematian bagi si penduduk desa yang kedapatan buang angin tersebut. Kasus yang berawal dari main kartu dan buang angin yang menyebabkan kematian ini saya rasa terlalu mengada-ngada. Mungkin penulis bermaksud untuk mendeskripsikan kesewenang-wenangan tentara tapi saya rasa hal ini terlalu berlebihan, andai saja kasusnya diganti dengan yang sedikit lebih kompleks maka akan terkesan lebih realistis”, tambah Tanzil.

Mahwi menambahi “Di sini saya menemukan potongan-potongan peristiwa ‘klise’ bejatnya kekuasaan Orde Baru, alangkah lugunya orang Kampung Singget. Dan sebaliknya saya ragu dan terus bertanya-tanya, kenapa orang-orang yang hidup di kampung Singget itu begitu membenci PKI, mengagumi tentara. Masalahnya adalah, Okky tak pernah mengungkit sedikit pun aktifitas PKI, ia hanya bilang, dan tentu saja melalui tokoh yang ia ciptakan, bahwa PKI orang yang tidak baik. Ia tak tak memberi ruang dan alasan kepada pembaca kenapa harus membenci PKI. Bukankah karya sastra hadir bukan untuk mendoktrin pembaca? Sebaliknya, ia memberikan ruang apresiasi, berpikir kritis kepada pembacanya?”

Prabu turut urun pendapat “Dan yang paling membingungkan adalah ketika masuk Bab Kerudung Merah 1987 (mulai hal 211) saya membacanya yang kuat dalam narasi tersebut bukan aku (Rahayu) yang sudah bersuami dan mengajar di pesantren tapi sosok Kyai Hasbi sebagai pemilik pesantren sekaligus tokoh “merah”, keyakinan Rahayu dalam “mencuci segala dosa masa lalu dan memohon ampun tak bisa membawa orang tuanya menuju jalan yang seharusnya (Islam)” menjadi gamang dan setengah hati. Rahayu malah beberapa mau bercinta dengan sang Kyai sepeninggal suaminya, dan itu bukan alasan kesepian tapi sejatinya penggambaran sosok Rahayu yang setengah hati. Cerita ini malah membawa saya pada novel Muhidin M Dahlan (Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur!) perhatikan motif dan karakternya, ada kesamaan trauma sepertinya! Maka dari mulai bab Kerudung Merah itu saya bisa katakan bahwa penulisnya ingin membawa heroisme yang tanggung, setengah hati, hanya baik pada harakiri karakter baik pada Kyai yang akhirnya mundur dari perjuangan dan bercinta dengan bukan muhrimnya dan membujuknya untuk dijadikan istri keempat, ini juga bertolak belakang dengan kondisi di Singget”.

Prabu juga melihat pada kalimat ini: “Di pasar ini, Yu Parti dan Yu Yem menjadi manusia seutuhnya, tanpa harus diembel-embeli suami”.

“Ada kesadaran gender yang signifikan, ketika perempuan-perempuan itu tidak bergantung dan lebih mandiri dari laki-laki. Tapi dalam hal ini kedua perempuan ini sudah masuk pada kasus poligami, RA. Kartini dalam suratnya kepada R.M Abendanon 27 Maret 1920 menuliskan dengan mengutif Prof. Max Muller bahwa “Poligami yang dijalankan bangsa-bangsa Timur adalah suatu kebajikan bagi kaum perempuan dan gadis-gadis, yang di dalam negerinya tidak dapat hidup tanpa suami atau pelindung” walau ini akhirnya ditentang langsung oleh Kartini yang megatakan bahwa “untuk bebas, kawin dulu, lalu cerai! Tapi ini memang sulit dan Kartini juga mengatakan istri dapat menebus diri. Ia harus membayar sekian dari sekian. Suatu kejadian yang tentu saja menyedihkan! Tetapi bagaimana kami hendak menginginkan hukum yang adil kalau pada bangsa Barat juga belum menghargai perempuan”. Pada novel ini, poligami bukan tipe tujuan keduanya, karena suami mereka yang senang main perempuan saja (gendakan), tidak ada motif lain!”

“Konsep labelisasi ET pada KTP Rahayu juga terkesan dipaksakan, tak ada dialektika pasca penangkapan hingga beliau keluar dan dapat KTP tersebut, sepertinya penulis tak melakukan riset untuk hal ini, karena terlihat beberapa fakta pada zamannya tidak muncul, “peristiwa bendungan” itu juga bisa dimainkan mendekati fiksi historis”.

Nisa memberi pendapat lebih pribadi, “Alur Entrok yang saya rasa menjadi terlalu lambat, karena pengalaman saya mendengarkan curahan hati ibu saya. Saya jadi berulah menjatuhkan dakwaan bahwa Marni dan Rahayu adalah dua perempuan penggerutu. Dua orang perempuan dari kultur Jawa yang mencoba melakukan protes terselubung dalam catatan memoarnya. Entrok sangat kontras membenturkan nilai-nilai masyarakat Jawa yang kental balutan filosofis “Nerimo ing pandum” dan ikhlas, dengan sikap protes menuntut keadilan atas ganjaran usaha dan kerja keras yang dilakukan. Filosofis kultur masyarakat Jawa yang patriarki juga coba digelitik penulis. Tapi lagi-lagi saya sadar saya jadi membenci buku ini, karena buku ini benar. Entrok menjadi katup pembuka pasivitas perempuan dalam menyikapi masalah hidupnya dengan dialog tokoh-tokohnya secara humanis dan real”

Secara keseluruhan, seluruh anggota sidang bersepakat bahwa novel ini memiliki cara tutur yang bagus, enak dibaca dan mengalir. Namun ada beberapa catatan detil cerita yang luput dari perhatian penulis. Baca disini (DS)

Judul :Entrok
Penulis :Okky Madasari
Penerbit : Gramedia
Dimensi: 13.5 x 20 cm
Tebal: 288 halaman
Cover: Soft Cover
ISBN: 978-979-22-5589-8

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan