-->

Lainnya Toggle

Entrok (OM): Beberapa Catatan Zen RS

(1)   Saya tidak yakin perempuan-perempuan di kampung Singget tak ada yang pernah pakai entrok, apalagi kalau disebut tidak pernah melihatnya (simboknya Marni berkata: “Oalah nduk seumur-umur tidak pernah aku punya entrok. Bentuknya kayak apa aku juga tidak tahu.”). Saya melihat beberapa kali foto lama perempuan Jawa yang sudah mengenakan semacam entrok jauh sebelum perang dunia ke-2.

(2)  simboknya Marni bilang kalau ia tak pernah punya dan tak pernah melihat entrok. Anehnya, Marni bisa dengan mudah mendapatkan dan membeli entrok saat ia sudah punya uang. Coba tebak di mana Marni mendapatkanya? Bukan di kota, tapi di pasar yang setiap hari Marni dan simboknya berkutat di sana. Marni membelinya dari seorang pedagang keliling yang rutin berkunjung. Mestinya entrok bukan barang yang asing-asing amat, sampai-sampai simboknya dan perempuan pedagang lainnya mengaku tak pernah melihatnya.

(3)  Okky juga kurang akurat dalam soal upah dan harga entrok. Okky menulis kalau Teja sekali memikul bisa dapat 1 rupiah, dan sehari bisa dapat 10 rupiah. Menurut taksiran Marni, dalam 5 hari kerja seperti Teja, ia sudah bisa dapat 1 entrok. Artinya, harga 1 entrok ada di kisaran 10 rupiah X 5 hari, sekitar 50 rupiah. Mengingat periode tahun yang ditulis Okky di judul (1950), harga itu kelewat mahal. Pada tahun 1950, satu 1 kg beras ada di kisaran 18 sen rupiah, tak sampai 1 rupiah. Saya punya majalah bernama KELUARGA yang berasal dari tahun 1954. Per edisi majalah itu harganya sebesar Rp. 2,5. Misalkan saja entrok itu ada di kisaran tahun yang sama dengan fluktuasi nilai rupiah yang tdak jauh-jauh amat, berarti harga satu entrok sebanding dengan 14/15 buah majalah (saya juga tidak begitu yakin harga televisi hitam putih pada tahun 1977 sebesar Rp. 150 ribu, tapi saya tidak punya informasi pembanding untuk mendapatkan komparasi yang lebih akurat)

(4)  Saat bertemu pertama kali dengan Tejo, Okky menulis (hal.21) itulah saat di mana Marni pertama kali berbicara dengan lelaki yang usianya tidak seumuran bapaknya tapi tidak juga seumuran dirinya. Teja waktu itu sudah jadi pemuda. Marni sendiri di kisaran 13-15an tahun, karena tak lama kemudian ia haid. Percayakah Anda Marni tak pernah berbicara dengan lelaki seumuran Teja selama 13-15 tahun? Kecuali kalau Marni sejak kecil menjadi semacam Tarzan di hutan, mungkin itu baru masuk akal

(5)  Agak ganjil rasanya melihat ada seorang guru di masa Orde Baru yang menjadi kepala sekolah dan tetap menjadi kepala sekolah setelah yang bersangkutan dengan terang-terangan memasang foto Soekarno di depan rumahnya. (Zen Rahmat Sugito)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan