-->

Kronik Toggle

Ekspresikan Tolak Pelarangan Buku Lewat Performance Art

Pembakaran dan pembredelan buku ternyata masih terjadi dari masa ke masa. Sebagai bentuk perlawanan terhadap aksi pelarangan buku, gerakan penolakan pelarangan bulu mengekspresikannya dalam bentuk performance art.

Seorang pria berdiri di tengah ruangan. Tubuhnya tertutup kertas bertuliskan ratusan judul buku yang pernah dibredel sejak era kolonial hingga reformasi. Antara lain “Lekra Tak Membakar Buku” karya MUHIDIN M DAHLAN, “Bumi Manusia” karya PRAMOEDYA ANANTA TOER dan buku lainnya.

Seorang laki-laki lainnya membakar dupa dan mengarahkannya ke tubuh penuh kertas yang ditulis dengan tinta merah. Menggambarkan bagaimana sejarah mengukir peristiwa pembakaran buku.

DIANA AV SASA Humas pagelaran mengatakan pembakaran buku merupakan kekerasan yang dilakukan Pemerintah melalui kejaksaan. Warisan otoritarianisme Orde Baru itu ternyata masih berlangsung hingga kini.

Saat ini, kasus pelarangan buku sedang dalam tahap judicial review dengan mendengarkan pihak penggugat. “Ini upaya kita untuk mendukung itu. Ini sebagai bentuk perjuangan kita menolak pelarangan buku,” kata SASA dalam konferensi pers, Selasa (18/05).

Performance art yang ditampilkan oleh TAUFIK MONYONG dan WELDO WNOPHRINGGO itu menjadi awal rangkaian acara bertajuk “Melawan Dengan Karya: Sebuah Pagelaran Buku-buku Terlarang”. Pagelaran tersebut juga akan diwarnai pameran poster dan arsip pelarangan buku dari masa ke masa mulai 19-21 Mei 2010, parade puisi serta perkusi etnik

Menurut HERU satu diantara komunitas penyelenggara, pagelaran di Balai Pemuda Surabaya ini lebih menarik diantara kota-kota lain yang juga mengadakan acara serupa.

“Hanya di Surabaya yang ada sejarah pelarangan dari masa ke masa. Di sini, dipamerkan kronologi sejarah pelarangan buku dari jaman kolonial sampai reformasi,” pungkasnya.(git/ipg)

*) Suarasurabaya, 18 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan