-->

Kronik Toggle

Diskusi Cerpen 'Mata Blater'

YOGYAKARTA–Cerita pendek Mata Blater karya Mahwi Air Tawar didiskusikan dan dipertunjukan di Yogyakarta dengan menampilkan pembicara Abdur Rozaki dan Bandung Mawardi. Juga disertai dengan pembacaan cerpen dan monolog. Kontributor Indonesia Buku yang juga seorang penyair, Indrian Koto, melaporkan acara itu dengan gaya transkrip. (Red)

Tempat: Karta Pustaka Lembaga Indonesia Belanda, 7 Mei 2010)
Mc: Eko

1. Pembukaan
2. Pembacaan Cerpen Karya Mahwi Air Tawar “Cerita Penandak”: Eka Nusa Pratiwi (Mahasiswa ISI)
3. Monolog “Sape Sono’”: Dinar Sadya Setiawan (Studio Pertujukan Sastra, Mahasiswa UAD Yogyakarta)
4. Diskusi:
• Moderator: Tia Setiadi
• Pembicara: Abdur Rozaki, Sosiolog, dosen UIN Suka
Bandung Mawardi, Esais, Reda

Bandung Mawardi: Kerja estetik dalam sastra Indonesia, antara keperluan disampaikan ke publik dan pola pengarang sastra modern

Politik nama dan tokoh: kecendrungan Mahwi Air Tawar dalam menggunankan tokoh-tokoh dalam cerpennya dengan nama “tetap”: Madrusin, Lubanjir. Ada kesan/kesamaan dengan Seno Gumira Ajidarma yang dalam banyak cerpen-cerpennya menggunakan nama Sukab, dan sepertinya Mahwi ada kepentingan dalam menggunakan nama yang “tetap” itu.

Cara Mahwi menggunakan/menarasikan beberapa tokoh, suasana terlalu puitis. Padahan untuk memahami Madura ‘kepuitisan” tidak begitu diperlukan. Justu sedikit bahasa yang agak kasar yang gampang dilakukan.

Nama tokoh untuk menjelaskan karakter, kebedaan dengan totkoh-tokoh lain.

Eliminasi bahasa Madura dalam cerpen-cerpen Mahwi penuh kerugian. Kecendrungan Mahwi pada “sastra penjelasan”.

Abdur Rozaki: Lokalitas ke-Madura-an, selama ini hanya dikenal melalui Kiai. Padahal selain itu ada yang lain, yaitu Blater. Yang terakhir ini, dalam tingkatan dengan “Bajingan” masih lebih tinggi satu tingkat.

Tiga hal: 1, Blater 2, Tema-kekerasan 3, simbol-simbol.

Ada yang terpotong dari kebudayaan Madura, akibat Arabisasi. Dalam beberapa hal, ada tradisi Madura yang dikafirkan. Contoh kecil, Tandak. Pra Islam, pelaku tandak adalah perempuan, namun pada masa Islam hal itu menjadi haram dan untuk melanjutkan “kebudayaan” ini, penandak diganti oleh laki-laki (bencong!), karapan sapi diharamkan karena menyiksa hewan.

Madura sangat berbeda dengan Jawa: di Jawa, pesawahan menjadi penyebutan yang cukup kuat, sementara di Madura lebih dikenal dengan Tegalan. Sawah mencerminkan individual, dan tegalan kekeluargaan.

Kedua, tema: carok. Pemicu carok terbesar lahir dari perempuan. Perempun dicolek saja menjadi pemicu lahirnya carok. Dalam tradisi Madura, perempuan diprotek/terlalu dibatasi oleh kaum lelaki sebagaimana suku Qurdi.

Kekerabatan di Madura sangat terjaga betul. Namun, dalam cerpen Mahwi, terutama dalam cerpen Eppak; ada anak yang membunuh kakeknya.

Tema Mahwi, kecendrungannya mengangkat kekerasan sebagai tema utamanya. Sementara, kekerasan dalam dunia Blater hanya bagian kecil. Blagter tidak akan melakukan kekerasan kalau tidak diganggu ketenagannya oleh orang lain. Dan, biasanya, orang-orang yang mengganggu ketenangan orang lain, di Madura disebut Bajingan. Blater, maqamnya di atas Bajingan. Untuk menjadi Blater, secara umum orang harus melewati dulu tingkatan Bajingan.

Blater tidak pernah kaya dan juga tidak pernah miskin. Hal itu disebabkan karena di mana-mana, Blater punya banyak teman. Dan, hubungan dengan pertemanan itu secara formal berlangung di acara yang disebut “Remo”. Dalam dunia Blater, rekonsialisi dalam kehidupannya sangat luar biasa kuat.

Pertanyaan:
1. Amin, Magelang: politik nama dalam cerpen Indonesia bukanlah sebuah kemiskinan. Eksplorasi bahasa Madura sepertinya tidak begitu menjadi masalah untuk diperkenalkan (pernyatan ini sangat bertentangan dengan apa yang dijelaskan oleh Bandung Mawardi). Tema apa yang paling meresahkan dalam cerpen Mahwi? Nama Madursin apakah mencerminkan ke-Madura-an.
2. Sulaiman, Madura: hubungan sape sono’ dengan perempuan? Adanya hubungan perempuan dengan kebudayaan Madura, teruma dalam sape sono’ dan karapan sape.
3. Irul, Madura: Madura wilayah barat dan timur?
4. Dini, Solo: kenapa Mahwi memilih tema ke-Blater-an? Kenapa Mahwi tidak memilih tema-tema lain, misalnya tentang kehidupan tukang sate?

Jawab:
1. Mahwi: benar dan tidaknya data nenek yang dibunuh oleh cucunya. Lebih kejam mana antar membunuh dan memberi beban pada orang tua? Tidak menulis tema-tema lain, misalnya seperti orang-orang penjual sate, karena tema-tema itu sudah banyak diangkat orang. Karena seorang penulis ada kecendrungan memilih tema-tema yang unik.
2. Bandung Mawardi: novel/fiksi di Rusia, terutama drama, kekuatan penokahan sangat jelas/identitasnya sangat bisa dibaca. Sementara di Indonesia, hampir tidak…. Nama, sangat penting, tidak hanya sekedar untuk menyebut orang. Nama dalam fiksi memberikan semacam ingatan peristiwa yang terlukis dalam “fiksinya”. Jadi, nama menjadi identifikasi pada beberapa hal yang berkaitan dengan nama itu; baik peristiwa, perjalanan, tempat yang tergambar dalam cerita (fiksi itu), dan lain sebagainya. Aib sastra Indonesia salah satunya adalah persoalan nama tokoh-tokohnya…… Bahasa: di beberapa negara, di antaranya China dan Rusia, bahasa lebih tua dari tanah airnya. Bagi Mahwi, kenapa ia tidak banyak menggunakan bahasa Madura, mungkin ia memilih jalan bahasa Indonesia sebagai jalurnya dalam kerja sastranya dan tentu saja pilihan itu juga berakibat pada karya yang dihasilkan. Di Indonesia, bahasa—terutama pada masa Orde Baru—diusahakan secara sepihak agar tetap menjadi bahasa yang harus selalu digunakan (dalam menulis). Dengan kata lain, bahasa lokal ditekan—untuk tidak mengatakan mau dihilangkan—pada masa itu. “Keterasingan karena bahasa lebih menyakitkan ketimbang keterasingan karena sebuah rezim”.
3. Abdul Rozak: Blater sebagaimana yang telah disinggung, mempunyai istri yang banyak. Ini menunjukkan pesona seksualitas para Blater. Dan akan mengherankan bila Blater yang sudah kesohor kekuatan, namun hanya beristri satu. Fakta di Madura, para Blater hampir ke semuanya memiliki istri lebih dari satu. Nah, akan menjadi kebanggaan bagi para istri jika menjadi istri Blater. Sebab, menjadi istri Blater—selain relatif aman dari gangguan dari para lelaki—ekonominya relatif lebih tinggi dari yang lain. Biasanya, dari setiap istri Blater akan dominan kekayaannya/menjadi simbol ke-Blatera-an”…. Nama: Madrusin, nama tokoh-tokoh dalam cerpen Mahwi sebagai kontrol terhadap hegemoni santri—yang dalam menberi nama cendrung Arab-Islam. Dalam tradisi Madura, nama-nama Arab-Islam cendrung diplesetkan. Barangkali nama Madrusin sebenarnya Muhammad Husin, namun diplesetkan menjadi Madrusin.

Pertanyaan:
1. Fathorrahman: apa yang dimaksud dengan pernyataan bahwa Mahwi terlalu puitis? Perbedaan Blater dengan Bajingan? Ada tidak Blater perempuan?
2. Zamzami Almaki, Betawi: keislaman Madura? Cover: penggunaan gambar buku Mata Blater; kenapa menampilkan sosok muda?

Jawaban:
1. Bandung Mawardi: puitisasi dalam sastra Indonesia, terutama pada jaman Balai Pustaka, menggunakan bahasa yang puitis. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan pada orang luar—tentu saja itu proyek kolonial. Puitisasi bahasa sebenarnya terlalu sarkastik, picisan, bahkan terkesan berlagak romantis. Dan itu berlangsung terus-menerus sampai sekarang, dan akibatnya bisa-bisa sastra Indoensia mengalami “kemandekan”. Bagaimana tidak, dari jaman Balai Pustaka hingga kini, kecendungan bahasa yang dituliskan pengarang dalam karyanya hampir selalu puitis dengan kesadaran yang disengaja.
2. Salman Boosty (tukang cover): cover yang baik bisa membuat pembaca penasaran. Celurit di tangan kiri pada gambar cover, menunjukkan bahwa Blater selalu siap melindungi diri dan keluarganya meski secara kebetulan celurit ada di tangan kiri. Senja: keragu-guan; Madura dalam keadaan sekarang, antara tradisional dan modern. (Indrian Koto/IBOEKOE)

1 Comment

M. Faizi - 06. Agu, 2010 -

@Mahwi: “Selendang Hitam” !!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan