-->

Kronik Toggle

Buku Pembajakan Pilkada Jatim Diluncurkan

I:BOEKOE,JAKARTA-demokrasi di Indonesia masih panjang dan perlu adanya seseorang yang mengingatkan. Peran mengingatkan mungkin dapat diartikan dalam banyak hal tergantung individunya. Seorang yang mengingatkan, mungkin bisa diibaratkan ustadz di kampung maling ataupun seorang nabi yang berteriak-teriak di kampung halamannya tapi tidak dipedulikan.

Itulah pegantar Effendi Gazali dalam buku berjudul “Khofifah Indar Parawansa Melawan Pembajakan Demokrasi, Pelajaran dari Tragedi Pilkada Jawa Timur” yang ditulis oleh Ahmad Millah Hasan. Buku ini diluncurkan dan dibedah pada Selasa (25/05, di Balai Kartini, Jakarta. Turut hadir dalam acara tersebut Effendi Gazali, Ferry Mursyidan Baldan, Jerry Sumampow, Makruf Syah sebagai pembedah buku, Mutia Hafidz mantan presenter televisi swasta sebagai moderator serta Khofifah Indar Parawansa sebagai pengantar bedah buku.

”Peran itulah yang kemudian dilakukan oleh Khofifah sebagai pengingat tentang demokrasi di Indonesia. Dengan adanya buku tentang bagaimana proses Pilkada di Jatim yang banyak menimbulkan tanda tanya ini, kita semua akan selalu belajar bagaimana berdemokrasi dengan baik di masa mendatang,” tutur pakar komunikasi politik dari UI tersebut.

Sementara itu, Makruf Syah yang merupakan kuasa hukum Khofifah saat Pilkada jatim berlangsung menyatakan bahwa kasus yang menimpa Khofifah merupakan suatu pelajaran dan harapan. ”Sebelum dikabulkannya permohonan Khofifah di Mahkamah Konstitusi (MK), banyak orang yang ragu dan tidak percaya dengan jalur hukum. Namun setelah MK menyatakan bahwa di Jatim terdapat kecurangan yang terstruktur, sistematis dan massif, maka hukum di Indonesia semakin menemui titik cerah,” ungkapnya.

Buku tentang perjalanan Khofifah dalam Pilkada Jatim ini berisi tentang bagaimana proses tahapan Pilkada Gubernur Jatim, dari proses pencalonan Khofifah, isu-isu serta wacana seputar pilkada, proses kampanye, modus pelanggaran sistematis, terstruktur dan massif, hingga mencari keadilan di MK.

”Saat itu setelah pengumuman hasil rekapitulasi, wacana yang berkembang adalah saya tidak legowo. Namun saya justru berfikir yang tidak siap kalah itu adalah yang melakukan segala cara untuk menang. Kalau kita mainnya fairness maka saya yakin semua akan legowo, baik kalah ataupun menang. Saya juga mengajukan gugatan ke MK bukan mencari menang tapi mencari kebenaran,” ungkap Khofifah.

Buku ini menurut Effendi Gazali berbeda dengan buku tentang Pilkada pada umumnya. ”Banyak buku yang menuliskan kiat-kiat bagaimana menjadi sukses dalam pemenangan Pilkada. Nah, buku ini justru memotret kekalahan dalam Pilkada terutama di Jawa Timur. Jadi buku ini merupakan dokumentasi penting bagi semua orang yang belajar tentang politik dan juga belajar dari kekalahan akibat kecurangan dalam proses demokrasi terutama Pilkada” ujarnya diakhir diskusi.(RNBA)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan