-->

Kronik Toggle

Buku Asep Sambodja bukan Historiografi Sastra 60-an

YOGYAKARTA–Dengan segala keterbatasan fisiknya, Asep Sambodja menyelesaikan buku Historiografi Sastra Indonesia 60-an pada bulan-bulan awal tahun 2010.

Buku ini, kata penulisnya, menggunakan pendekatan new histocism, di mana sastra tak bisa dilepaskan dari praksis-praksis sosial, ekonomi, dan politik karena sastra ikut ambil bagian di dalamnya.

Dalam perspektif new historicism ini pula karya sastra dinilai ikut membangun, mengartikulasikan, dan mereproduksi konvensi, norma, dan nilai-bilai budaya melalui tindak verbal dan imajinasi kreatifnya.

Pendekatan inilah yang kemudian dikritik dengan tandas oleh Saut Situmorang di Yayasan Umar Kayam Yogyakarta (1/5).

New historicism, kata Saut, adalah sekelompok pakar di Inggris yang terpengaruh dengan temuan-temuan teori Edward W said, Michael Foucault, yang dengan itu mereka membaca ulang Shakespeare dalam konteks zamannya.

Menurut Saut, new historicism tak cocok untuk konteks kelompok dan kemunculan sastra tahun 60-an, melainkan pendekatan pascakolonial.

Hal lain yang mengganggu adalah klaim Asep di judul bukunya, “Historigrafi”, yang menurut Saut, terlampau berat dan tak mampu dipundaki isi bukunya.

“Analisisnya tidak segempar judulnya. Statemennya asersif, tanpa disertai argumen yang memadai. Mirip dengan mahasiswa UGM (Dwi Susanto, red) yang menulis tesis membongkar kejahilan Pramoedya Ananta Toer atas Hikayat Siti Mariah. Mahasiswa ini mengkritik Pram dengan teori marxis yang hanya mempercayakan pada buku Magnis Suseno. Asep sama juga, mengangkat new historicism dengan percaya sepenuhnya pada tulisan Melanie Budianta,” jelas Saut.

Bagi Saut, buku ini bukan historiografi, namun laporan jurnalistik biasa dari buku-buku yang dibaca Asep. Jauh dari penulisan akademik yang dingin dan ketat.

Dalam buku ini, misalnya, Asep sangat bersemangat ingin bersikap netral karena dia ingin berusaha jujur sebagai sejarawan. “Karena berusaha netral, kedua-duanya, produksi sastra Lekra dan Manikebu, tidak dihantamnya secara bener-bener. Dan ini mempengaruhi Sambodja dalam menganalisis masalah,” tandas Saut.

Misalnya, Yudiono K.S. yang pada 2007 menerbitkan buku Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Buku ini disebut Asep tak netral karena tak menyinggung sastrawan Lekra. Padahal, kata Saut, Asep sendiri tidak netral.

Menurut Saut, Asep mestinya dia tidak harus menjilat, tapi menunjukkan simpatinya dengan tafsir. Tafsir itulah yang menentukan sejarah. “Kalau tafsirnya takut-takut, ya mempengaruhi analisisnya. Jadi dia hanya melaporkan. Tapi tidak memberikan penjelasan yang memadai, bagaimana masalah penggelapan ini mempengaruhi sastra kita selama puluhan tahun. Asep tidak sampai ke sana. Semata konflik tahun 60-an,” terang penulis buku esai Politik Sastra ini.

Kecewa

Luqmanul Hakim, staf pengajar Fisipol UGM dalam diskusi yang berlangsung gayeng di Yayasan Umar Kayam itu bersepakat dengan Saut bahwa buku Asep belum layak jadi kajian sejarah yang serius.

“Saya Kecewa. Jangan-jangan ini problem penulisan pesanan. Dalam kajian itu tidak ada pembacaan yang memadai. Ketika membahas penyair HR Bandaharo hanya tiga paragraf. Dan tak ada pembahasan yang memadai, konstruktif, dan mendalam, kita tak mendapatkan,” kata aktivis Parikesit Institute ini.

Hilangnya Dua Dunia

Pengarang Aguk Irawan juga menyayangkan buku ini hanya fokus pada Lekra dan Manikebu. Menurut Aguk, ada 4 dunia di era itu. Selain kubu Lekra dan Manikebu, ada juga LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) yang berafiliasi pada PNI dan Lesbumi yang berafiliasi ke NU.

“Tapi ke mana LKN dan Lesbumi. Ada kesan buku ini menyingkirkannya dari pembahasan sastra 60-an,” tuding Aguk.

Dalam tanggapannya Saut mengatakan bahwa itulah bolongnya bagaimana Asep tak waspada dengan kata yang dia pakai “60-an” yang berarti sejarah sastra menyeluruh.

Namun lepas dari kekurangan yang mendasar itu, Saut yakin buku ini penting sebagai komentator sastra Indonesia yang selama didiskriminasikan. Apalagi wacana ini keluar dari dunia akademis yang berhimpun di Universitas Indonesia yang menurut Saut paling getol mendekreditkan sastra-sastra kiri. Tema ini tidak populer di UI.

“Dengan buku ini, ia sangat serius membahas buku-buku terbitan sastrawan Lekra/Kiri selanjutnya,” pungkas Saut.

Selain buku ini, diskusi maraton dalam semalam itu membahas juga buku-buku, yakni Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor, Kumpulan Budak Setan karya Eka Kurniawan dkk (Kumpulan cerpen), Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi (kumpulan cerpen), dan Politik Sastra karya Saut Situmorang (esei).

Sedangkan novel yang dibedah adalah Sinar Mandar karya Aguk Irawan dan Valharald karya Adi Toha.

Juga ada dua buku puisi: Kitab Hujan (Pentas Teater Singkat) karya Nana Sastrawan dan G 30 S: Antologi Gempa Padang karya sastrawan Apsasian.

Dan terakhir karya terjemahan berjudul Proses karya Franz Kafka. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan