-->

Tokoh Toggle

Anas Urbaningrum: Berpolitik dengan gagasan

anas-urbaningrumIntisari Pidato Kebudayaan Anas Urbaningrum: Membangun Budaya Demokrasi. Naskah lengkap bisa ditemukan di http://www.politikana.com/baca/2010/05/17/membangun-budaya-demokrasi.html
~~~

Pidato ini adalah sebuah ikhtiar sederhana untuk melanjutkan dan menguatkan tradisi yang relatif baru dalam politik Indonesia, yaitu “berpolitik dengan gagasan.”

Saya mendengar konsep ini dari almarhum Nurcholish Madjid. Kita ingat bahwa pada tahun 2004 Cak Nur sempat menyatakan kesediaannya untuk dicalonkan menjadi presiden. Sebagaimana kita ketahui, usahanya untuk dicalonkan menjadi presiden tidak berhasil, namun sumbangan Cak Nur dalam pengayaan demokrasi dan politik akan selalu kita hargai.

Pada waktu itu, Cak Nur menyusun platform “Membangun Kembali Indonesia” yang berisi sepuluh butir tawaran Cak Nur kepada kelompok dan partai politik. Mulai dari tata kelola pemerintahan yang baik atau good governance, kesejahteraan tentara dan polisi hingga keadilan dalam memperoleh pendidikan. Belakangan platform ini dibukukan dalam opus magnum beliau yang berjudul “Indonesia Kita.”

Dalam satu kesempatan saya berbincang dengan beliau, sebelum beliau sakit dan berpulang ke rahmatullah, saya mendapatkan inspirasi ketika dijelaskan betapa Cak Nur sadar betul dirinya akan sulit dicalonkan menjadi presiden, Namun, status barunya sebagai semacam “calon presiden independen” pada waktu itu membuat suara beliau semakin nyaring dan mendapat perhatian dari publik. Di situlah Cak Nur menggunakan momentum itu untuk menggulirkan gagasan-gagasan politik dan demokrasi. Di situ pula beliau menjelaskan pentingnya berpolitik dengan tawaran gagasan sehingga ketika publik, kelompok atau orang-per-orang mendukung seorang calon, atau memilih suatu partai politik, dukungan dan pilihan tersebut bukan berdasarkan uang atau, sebaliknya ketakutan karena ancaman dan intimidasi, tapi berdasarkan penerimaan terhadap gagasan yang ditawarkan.

Lebih lanjut dari berpolitik dengan gagasan adalah “berpolitik dengan tindakan.” Pilihan saya masuk ke dalam partai politik adalah untuk mewujudkan dan mendialogkan gagasan-gagasan saya. Dalam konteks berikhtiar dan berkontribusi bagi bangsa, saya melihat politik merupakan sarana pengabdian yang paling efektif dalam mewujudkan gagasan-gagasan saya.

Ketika saya sedang merenung untuk mengambil keputusan masuk partai politik, saya teringat akan rumusan dua orang pemikir politik. “rausyan fikr” yang disampaikan oleh Ali Shariati. Menurut Shariati, rausyan fikr adalah orang yang sadar akan keadaan manusia (human condition) di masanya, serta setting kesejarahan dan kemasyarakatannya. Ia menerima rasa tanggung jawab sosial. Rausyan fikr mampu menumbuhkan rasa tangung jawab dan kesadaran untuk memberi arahan

Kata rausyan fikr berasal bahasa Persia yang artinya “pemikir yang tercerahkan.” Rausyan fikr berbeda dengan ilmuwan. Ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya; rausyan fikr memberikan penilaian seharusnya. Ilmuwan berbicara dengan bahasa universal; rausyan fikr berbicara dengan bahasa kaumnya. Ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya; rausyan fikr harus melibatkan diri pada apa yang ia percayai.

Konsep rausyan fikr sebenarnya beresonansi dengan apa yang digambarkan oleh pemikir politik Italia Antonio Gramsci sebagai “intelektual organik.” Dalam catatan-catatan politik yang ditulisnya ketika di penjara, Gramsci membedakan dua tipe intelektual, yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah para intelektual yang menganggap diri mereka otonom dari kelas sosial mereka, dan mencoba untuk menempatkan diri mereka ke dalam sebuah kontinuitas historis di atas dan di luar perubahan sosial-politik. Bagi Gramsci, inilah kesalahan intelektual tradisonal yang berjarak dan karenanya dianggap Gramsci mementingkan dirinya sendiri. Mereka mengingkari fakta historis ketertindasan dan seakan-akan memberikan keyakinan akan kemerdekaan termasuk di dalamnya menciptakan ideologi, yang umumnya cenderung idealis, untuk menutupi kenyataan akan ide-ide mereka yang sudah usang.

Gramsci melihat kaum intelektual organik secara lebih sosiologis. Intelektual organik mengartikulasikan kesadaran kolektif dari kelas mereka dalam wilayah sosial, politik dan ekonomi. Menurut Gramsci, tugas-tugas dari intelektual organik adalah melahirkan aspirasi-aspirasi rakyat dan mewujudkan potensi yang secara inheren telah ada dalam kelompok sosialnya. Hubungan erat antara kaum intelektual organik dengan kelas mereka merupakan sebuah proses yang dialektis: mereka melahirkan bentuk dari pengalaman kelas dan pada saat bersamaan menanamkan kesadaran kepada rakyat.

Penjelasan di atas tidak dimaksudkan untuk menepuk dada bahwa saya adalah “rausyan fikr”, bahwa saya adalah “intelektual organic”. Bukan!. Namun, inspirasi dari Cak Nur, ditambah lecutan pemikiran dari Ali Shariati dan Gramsci, telah membawa saya untuk menjatuhkan pilihan mengabdikan hidup dalam politik, dan bukan politik untuk hidup.

Pidato ini saya cetak menjadi buku sederhana untuk melanjutkan tradisi berwacana yang sudah lama dijalankan oleh para founding fathers bangsa ini, Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, para pemikir seperti Tan Malaka, Soedjatmoko, bahkan Kartini, yang menuangkan pemikirannya melalui korespondensi. Pada waktu itu mereka menggunakan surat menyurat dan forum-forum diskusi. Jaman sekarang, selain saya cetak menjadi buku sederhana, tulisan ini akan saya posting di blog saya www.bunganas.com dan diskusi dapat kita lanjutkan lewat Facebook dan twitter. Berbagi layaknya founding fathers kita dalam perangkat jaman yang berbeda.

Inilah inspirasi mengapa saya dengan penuh kerendahan hati mengundang kehadiran Bapak, Ibu dan Saudara dan Sahabat sekalian, untuk memperkuat tradisi berpolitik dengan gagasan dan menggunakan kesempatan berkumpul yang sangat membahagiakan ini untuk berbagi tentang gagasan-gagasan politik saya.

~~~
Intisari Pidato Kebudayaan Anas Urbaningrum: Membangun Budaya Demokrasi. Naskah lengkap bisa ditemukan di http://www.politikana.com/baca/2010/05/17/membangun-budaya-demokrasi.html (adv/adv)

*) Detiknews, 17 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan