-->

Tokoh Toggle

Alberthiene Endah; Jurnalis, Penulis Biografi, Novelis, sampai Skrip Film

BUKU-buku biografi umumnya belum mendapat apresiasi cukup bagi publik tanah air. Namun, sebagian besar biografi karya Albertheine Endah berhasil mencetak angka penjualan tinggi. Kini, dia sedang menyelesaikan biografi Ani Yudhoyono.

————————————–
DIAN WAHYUDI, Jakarta

————————————–

KELOMPOK musik akustik mengalunkan lagu-lagu (almarhum) Chrisye di Kinokuniya, Plaza Senayan, Jumat 7 Mei lalu. Petang itu, sejumlah musisi kawakan berkumpul di situ. Antara lain Adhi MS, Erwin Gutawa, Adri Subono, dan masih banyak lagi.

Mereka hadir dalam acara peluncuran buku The Last Words of Chrisye yang ditulis Albertheine Endah. Itu adalah karya paling anyar dari penulis perempuan tersebut. “Saya mencintai seluruh tulisan saya, tapi buku soal Chrisye yang saat itu sudah divonis akan segera meninggal tersebut yang paling punya arti,” ujarnya.

Sampai sekarang Albertheine sudah “memproduksi” tak kurang dari 12 buku biografi. Antara lain, biografi Probosutedjo, Saya dan Mas Harto, dua buku tentang Krisdayanti, 1001 KD dan My Life My Secret, juga biografi Titik Puspa, Legendary Diva.

Perempuan kelahiran Bandung 16 September itu sejak kecil sudah berkhayal jadi penulis terkenal. Dia memimpikan dirinya menjadi seperti Enid Blyton, penulis cerita fiksi Lima Sekawan asal Inggris.

Seri buku cerita petualangan lima detektif cilik yang mendunia itu menjadi salah satu bacaan favoritnya saat kecil. Di masa-masa itu, Albertheine yang matanya sempat menderita minus 12, melahap hampir seluruh seri salah satu buku anak paling laris sedunia tersebut.

“Buat aku profesi penulis itu benar-benar keren banget. Dulu sering saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi Enid Blyton,” katanya ketika ditemui di salah satu kafe di pusat perbelanjaan di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis lalu (13/5).

Hobi membaca yang tumbuh sejak usia dini itu sebenarnya muncul karena berbagai keterbatasan keluarganya. Sebagai anak seorang pegawai negeri, bungsu dari lima bersaudara itu besar di lingkungan keluarga yang sederhana. “Jangankan beli buku, minta dibelikan boneka sederhana saja nggak pernah dituruti,” tuturnya lantas tertawa.

Di antara saudara-saudaranya, Alberthiene mengakui memang paling beda sejak kecil. Daya khayalnya yang tinggi, sering membuat dirinya dianggap aneh. Misalnya, ketika ingin punya radio kecil yang bisa ditenteng kemana-mana, Alberthiene membuat tiruan radio dari kertas. Sedangkan suaranya, dia cukup puas dengan suaranya sendiri. “Akhirnya, yang menjadi penulis Cuma saya. Yang lain normal, ada yang pramugrari, pegawai negeri, atau wiraswasta,” katanya sambil tersipu.

Angan-angan sejak kecil itu ternyata terus melekat hingga dia dewasa. Setelah lulus dari Sastra Belanda Universitas Indonesia, dia langsung memilih profesi sebagai jurnalis. Sekitar sepuluh tahun, sejak 1994, dia melampiaskan hobi menulisnya di majalah perempuan Femina.

Namun, seiring waktu, dia merasa ruang yang tersedia di media terlalu sempit baginya. Keterbatasan jatah halaman membuat perempuan yang kukuh merahasiakan tahun kelahirannnya itu mulai berpikir untuk membuat buku. “Gila, aku sering merasa dapat bahan banyak banget, tapi tak semua bisa ditulis,” kata perempuan yang akrab disapa AE itu.

Kebetulan, waktu itu, tepatnya pada 2003, penyanyi Krisdayanti yang sempat diwawancarainya beberapa kali, mengontak dirinya. Mantan istri Anang Hermasnysah itu mengungkapkan, ingin membuat biografi dan berharap AE yang menulis. “Yang ringan pokoknya, tentang apa yang terjadi dalam hidupku, karirku, gayaku, atau kecantikanku,” ungkap AE, menirukan permintaan Krisdayanti saat itu.

Dia menerima permintaan Krisdayanti dan mengambil cuti panjang dari Femina. Butuh waktu sekitar empat bulan proses pembuatan buku biografi berjudul “1001 KD” yang dikonsep dengan tampilan mewah tersebut. “Meledak, saya nggak menyangka akan meledak. Dalam beberapa hari saja buku yang harganya cukup mahal itu sudah cetak ulang,” kenang AE, bangga.

Sejak itu, Albertheine mulai menapak jalur kedua dalam hidupnya. Selain sebagai jurnalis, dia merintis menjadi penulis biografi. Setelah buku Krisdayanti tersebut, beberapa tawaran datang minta dibuatkan biografi.

Albertheine yang masih dalam status cuti dari Femina mulai gamang meneruskan karirnya di media. Padahal, saat itu, dia sudah menjabat sebagai redaktur senior yang siap naik menjadi redaktur eksekutif.

Di masa-masa kegamangan tersebut, AE justru membuat novel, Jangan Beri Aku Narkoba. Tak disangka, novel itu juga berhasil mendapat respons positif. Dia menyabet penghargaan Adikarya Award dari IKAPI. “Nah, ini menjadi awal jalur ketiga saya, sebagai novelis,” kata AE, lantas tersenyum.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, tepat pada 2004, Alberthiene memutuskan keluar dari Femina. “Harus diakui, ini langkah nekat. Karena dengan menjadi penulis lepas berarti saya kehilangan sumber pendapatan tetap,” katanya.

Namun, kondisi itu justru memicu AE makin produktif. Novelnya terus bertambah. Antara lain, I Love My Boss dan Supermodel. Belakangan, novel-novelnya dibeli stasiun TV. Maka, dia pun ikut membesut sejumlah skrip film televisi yang diangkat dari novel-novelnya. “Ini jalur penulis saya yang keempat,” katanya, dia tersenyum lagi.

Biografinya juga terus bertambah. Bahkan, tidak hanya dari kalangan artis, tapi merambah ke sejumlah tokoh. Mereka, Raam Punjabi, Dwi Ria Latifa, Venna Melinda, Chrisye, Anne Avantie, Titiek Puspa, dan Probosutredjo. “Hampir saya tidak pernah menawarkan diri, mereka yang datang setelah membaca tulisan saya,” katanya.

Dalam menulis biografi, AE berusaha keluar dari pakem yang ada. Dia lebih memilih cara menulis dengan langgam novel yang bertutur dan mengalir ringan. “Saya tak ingin biografi yang saya tulis hanya jadi CV yang dipanjangin, di-Mak Erot-in. Seolah pembaca tidak berhak menikmati sebuah cerita,” katanya.

Salah satu yang ditonjolkan dalam setiap tulisan AE adalah kemampuannya memahami secara mendalam sosok yang akan ditulisnya. Berbagai cara dilakukan. Tak hanya berbekal hasil wawancara atau mengikuti aktivitas tokoh selama beberapa waktu, AE juga memunculkan interaksi batin dengan narasumbernya.

Dia punya trik khusus untuk itu. Pada beberapa orang, dia sengaja menciptakan suasana agar yang bersangkutan marah. Dia belum puas, jika tokoh  yang ditulisnya masih basa-basi mengungkapkan emosinya. “Rasanya masih ada yang ngganjel gitu. Beda kalau sudah bisa ngomelin saya, berarti saya sudah dapat soul-nya,” katanya.

Dia mencontohkan, saat diomeli almarhum Chrisye di tengah penyusunan buku. Melalui SMS, salah satu penyanyi yang namanya melegenda di Indonesia itu akhirnya secara terbuka memprotes kebiasaan terlambat AE, dalam sejumlah sesi wawancara. “Hampir dengan semua saya pernah cekcok, tapi ya percekcokan tentang hal-hal kecil saja,” katanya lantas terkekeh.

Gaya penulisan seperti itu tampaknya menarik beberapa tokoh terkenal. Ramos Horta dan Aburizal Bakrie termasuk yang siap dibuatkan biografinya. Tinggal menunggu kesepakatan waktu untuk memulai.

Ibu negara Ani Yudhoyono juga termasuk yang kepincut dengan gaya penulisan AE. Saat ini, buku biografi istri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  itu sudah memasuki tahap finishing dan siap segera edar. Diperkirakan, Juni atau Juli nanti buku Kepak Sayap Puteri Prajurit tersebut sudah bisa dinikmati publik.

Tentu, secara finansial, AE sukses dari kerja penulisannya tersebut. Hanya, dia enggan membeber pendapatannya setiap menulis biografi atau penulisan lainnya. “Janganlah nanti saya dikejar-kejar petugas pajak,” candanya, lantas tertawa.

AE dan suaminya kini tinggal di sebuah apartemen miliknya di kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Mereka juga sedang membangun sebuah rumah di atas tanah seluas 1.000 meter persegi di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. “Intinya, kami cukuplah, bisa beli tanah, bangun rumah, beli apartemen, punya mobil, semua dari hasil nulis,” ungkap istri Dio Hilaul itu.

Kini, AE menggaji empat karyawan tetap. Di luar wawancara dan penulisan, mereka diberi tugas khusus membantu mengolah data dan proses finishing buku. “Jadi, intinya dengan kesungguhan jangan ragu menjadi penulis,” ujarnya. (*/cfu)

*)Jawapos, 15 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan