-->

Kronik Toggle

Ade Maruf: "Saya nggak takut baca 'Budak Setan'"

YOGYAKARTA–“Kok saya nggak takut ya baca buku ini,” kata Ade Maruf saat diminta memberikan pandangannya atas cerpen Kumpulan Budak Setan di Yayasan Umar Kayam Yogyakarta (1/5). Buku ini ditulis keroyokan oleh tiga sastrawan muda: Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad.

Buku dengan menghimpun 12 cerita ini, sebagaimana pengakuan penulisnya, merupakan pembacaan ulang atas roman-roman horor Abdullah Harahap yang sangat terkenal di era tahun 1980-an. Tapi itu tadi, sebagaimana kata Ade, tak ada horor-horornya.

“Beda bener ketika saya membaca Harahap di persewaan komik kucel dengan harga seratusan rupiah. Di stu lengkap hantunya. gendruwo, wewe, tuyul. Apalagi kalau dah sepi. Menakutkan sekali. Tapi cerita-cerita di buku ini blass nggak ada takut-takutnya saya. Bahkan pembunuhan sadis dan berantai lelaki berhidung kelamin yang dikisahkan Ugoran Prasad, saya nggak berasa tuh,” seru Ade.

Ambil misalnya cerita Eka Kurniawan para peronda di poskamling yang mati satu per satu yang konon dirajang hantu bajang. “Di situ tak jelas ada hantu bajang atau tidak. Eka nggak menggambarkannya. Tapi ya asyik saja,” ujar pekerja buku angkatan ’98 ini.

Ketiga penulis ini, lanjut Ade, ingin benar menawarkan hal lain di luar mainstream Abdulah Harahap. “Mungkin mereka hanya mengambil semangatnya saja, seperti cerita ‘Taman Patah Hati’ bersetting Tokyo yang mirip mitos ‘jangan pacaran di Parangkusumo dan Prambanan ntar putus’. Selanjutnya, ya, inilah genre hantu yang tidak menakutkan,” kata Ade.

Jadi, jika pembaca ingin mencari jejak “hantu umum” dalam buku ini, dipastikan akan kecewa. Menurut Ade, buku ini berhasil melihat hal lain dalam jagad perhantuan tanah air. Buku ini melakukan pembelokan-pembelokan.

Ambil misalnya cerita Intan Paramaditha, “Goyang Penasaran”. Ini cerita tentang seorang santri, Salimah, yang hendak diperkosa kiainya. Dan 8 tahun kemudian, santri ini menjadi penyanyi dangdut dengan goyangan yahud. Istilah Ade, miriplah goyangan pangggung Purawisata Jogja. Salimah diincer banyak lelaki. Termasuk kepala desa. Oleh segerombol moralis, panggungnya dihancurkan dan Salimah pun kehilangan pekerjaan.

Tapi kepala desa masih menyimpan hasrat melihat goyangan maut Salimah. Dan Salimah mau, asal sang kepala desa memenggal kepala Kiai Ahmad. Dibantu beberapa preman, kepala Kiai Ahmad pun dipenggal dan dipersembahkan ke Salimah yang membayarnya dengan goyangan paling oke.

“Coba, mana hantunya. Nggak ada kan. Nggak takut kan. Ya, menurutku hantu itu ya kaum moralis yang menghancurkan harapan santri remaja Salimah yang kemudian menyimpan dendamnya dalam-dalam. Itu hantunya,” kata Ade.

Agus Noor yang diminta komentarnya memberikan tanggapan khusus kepada proyek Eka dan kawan-kawan ini.

“Mereka itu berhasil mengangkat kembali roman picisan ke dalam sastra Indonesia. Menurut saya, Ade Maruf yang nggak takut itu karena perubahan pengetahuannya. Lha wong, anak-anak kecil yang lihat sinetron Hidayah takut-takut juga kok. Tapi dari Abdullah Harahap saya paling suka mencari halaman tertentu yg ada seksnya, dan biasanya itu halaman yg pasti terancam disobek,” terang Agus Noor dan disambut tepuk tangan riuh dari sekira 70-an peserta diskusi.

Selain buku ini, diskusi maraton dalam semalam itu membahas juga buku-buku, yakni Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor dan Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi (Kumpulan cerpen).

Selain itu, ada dua buku esei, yakni Politik Sastra karya Saut Situmorang (esei) dan Historiografi Sastra Indonesia 1960-an karya Asep Sambodja (esei).

Sedangkan novel yang dibedah adalah Sinar Mandar karya Aguk Irawan dan Valharald karya Adi Toha.

Juga ada dua buku puisi: Kitab Hujan (Pentas Teater Singkat) karya Nana Sastrawan dan G 30 S: Antologi Gempa Padang karya sastrawan Apsasian.

Dan terakhir karya terjemahan berjudul Proses karya Franz Kafka. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan