-->

Kronik Toggle

300 Buku Terlarang Dipamerkan di Surabaya

Surabaya – Sebanyak 300 buku terlarang dari tahun 1957 hingga 2009 dipamerkan di Balai Pemuda Surabaya pada 19-21 Mei.

“Ratusan buku terlarang itu kami pamerkan dalam bentuk copy dari cover, kliping, poster, dan manuskrip,” kata Humas Panitia Pameran ‘Melawan dengan Karya’ Diana AV Sasa di Surabaya, Selasa.

Didampingi Ketua Panitia Pameran Yuska Harimurti dan Penanggung Jawab Arsip Pameran Aryo Yudanto, ia mengatakan buku-buku yang dipamerkan juga disertai kronologis pelarangan pada tahun masing-masing.

“Adanya kronologis pelarangan itulah yang membedakan pameran buku-buku terlarang di Surabaya dengan pameran sebelumnya di Yogyakarta dan Jakarta,” katanya.

Buku-buku terlarang yang dimaksud antara lain Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September, Kudeta Soeharto, Suara Gereja bagi Umat Penderitaan Tetesan Darah, Lekra Tak Membakar Buku, Enam Jalan Menuju Tuhan, Peristiwa 27 Juli, Tan Malaka, Aku Bangga Jadi Anak PKI, dan sebagainya.

“Pameran kami adakan untuk mendukung gerakan antipelarangan buku yang saat ini sedang mengajukan judicial review UU 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Barang Yang Dapat Mengganggu Ketertiban Umum,” katanya.

Pada 19 Mei, pameran akan dibuka dengan parade puisi pada pukul 19.00 WIB dengan menampilkan Sirikit Syah, Andreas Nicolas, Slamet Wahedi, Kusnan, Perkusi Etnik (Jajan Pasar), dan performance art oleh Taufik Monyong dan Weldo Wnophringgo.

“Hari kedua (20/5) akan dimeriahkan dengan diskusi buku ‘Lekra Tak Membakar Buku’ dengan penulisnya, kemudian hari ketiga (21/5) juga ada diskusi buku yang menampilkan Basis Susilo (Dekan Fisip Unair) serta pemutaran film dokumenter,” katanya.

Hal senada diungkapkan seniman Weldo Wnophringgo. “Melawan buku dengan kekerasan atau kekuasaan itu merupakan cara yang tidak Islami, karena Islam mengajarkan cara melawan dengan cara yang sama tapi dengan kualitas lebih baik,” katanya.

Ia mencontohkan Nabi Musa saat melawan Fir’aun. “Fir’aun mengeluarkan sihir berupa ular, lalu Musa melawannya dengan melempar tongkat menjadi ular yang memakan ular-ular dari Fir’aun. Jadi, sama-sama ular tapi kualitas lebih baik,” katanya.

*) Antaranews, 18 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan