-->

Lainnya Toggle

Membaca Ulang, Menulis Ulang

Sidik NugrohoOleh: Sidik Nugroho*)

“You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is… to write, not to think!”
~ dari film Finding Forrester

Finding Forrester, sebuah film yang berawal dari kecintaan terhadap dunia perbukuan dan kepenulisan, menunjukkan banyak hal penting seputar tulis-menulis pada penontonnya.

William Forrester, tokoh utama dalam film ini adalah seorang pemenang penghargaan Pulitzer lewat karyanya berjudul Avalon Landing. Namun, ia menghilang dan menyendiri setelah meraih penghargaan yang diimpikan diraih oleh penulis Amerika mana pun itu. Sampai suatu ketika seorang pemuda kulit hitam bernama Jamal Wallace menemuinya. Mereka ternyata punya kesamaan minat. Sang pemuda lalu berguru padanya.

“Mulailah menulis. Mulailah dengan halaman pertama. Seringkali irama ketikan datang dari halaman pertama ke halaman kedua. Waktu kau merasakan kata-katamu, mulailah mengetiknya,” kata William kepada Jamal, yang tampaknya menjadi perluasan pada kutipan di awal tulisan ini.

Ya, kutipan itu menyoroti kemauan dan kemampuan para penulis yang kini makin marak saja bermunculan. Banyak orang, terutama anak muda, yang mau menulis (secara hati), namun belum semuanya benar-benar mampu (secara akal-pikiran) menghasilkan kualitas tulisan yang layak dikonsumsi masyarakat luas.

Di situs jejaring-pertemanan sosial, weblog, bahkan media-media cetak, kini mulai bermunculan para pekerja kreatif dalam tulis-menulis. Suatu keadaan yang amat menggairahkan, namun juga perlu ditanggapi secara lebih cerdas, wajar dan berimbang. Beberapa editor di penerbitan yang saya kenal mengaku kelelahan menangani banyaknya naskah fiksi yang terus berdatangan. Sayangnya, banyak naskah digarap asal-asalan oleh penulisnya.

Dari sinilah sebuah keadaan atas kondisi perbukuan di negeri ini — baca juga: sastra — menemukan sebuah persoalan: Banyak karya tulis yang dibuat dengan dangkal, karena penulisnya tak ingin menapaki sebuah proses kreatif membaca ulang dan menulis ulang karyanya. Dan sayangnya, tak banyak pula pembaca yang membaca suatu karya dengan mendalam.

Membaca dengan Mendalam

Mudji Sutrisno, rohaniwan kenamaan itu, pernah mengesalkan pembacaan karya-karya sastra Indonesia yang dilakukan secara dangkal. Kita kekurangan H.B. Jassin yang baru, yang memberikan apresiasi terhadap karya-karya sastra Indonesia tempo dulu. Kita kekurangan telaah dan kritik sastra yang proporsional karena perkembangan sastra yang begitu pesat, terutama dari segi jumlah, apalagi di era canggih-teknologi seperti saat ini. Kritik dan kritikus sastra bisa saja surut karena mengalami kesulitan untuk menemukan, membandingkan, dan membuat suatu telaah atau kritik atas karya-karya sastra yang kini makin beragam saja.

Kritikus sastra yang ada di negeri ini lebih banyak membuat karya untuk dikonsumsi di kalangan ilmuwan. “Sebagian besar peneliti sastra yang berlatar belakang akademik dan menguasai aspek metodologis, justru tidak tekun menyiarkan ulasan-ulasan mereka di media-media publik…,” kata Damhuri Muhammad yang rajin menulis esai sastra. Para pembaca yang lebih awam, yang kadangkala membuat esai dan resensi di media cetak, karena terbatas dengan latar-belakang akademisnya, tak jarang juga menghasilkan ulasan yang dinilai “dangkal” oleh sebagian kalangan, meski ulasan itu dibuat dengan niat baik dan upaya memberikan apresiasi yang wajar.

Selain itu, kurangnya kritik sastra dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir, salah satunya disebabkan karena kurang adanya pembaca yang serius membaca karya sastra kita. Editor senior Penerbit Mizan, Hernowo, menegaskan, “… membaca seperti itu (membaca dengan penuh penghayatan, yang disebutnya dengan istilah deep reading) bagaikan bertafakur — berpikir hati-hati, sistematis, dan mendalam.” Ia juga menambahkan, “Apabila seseorang melakukan deep reading dengan benar, dia pasti ‘menghasilkan’ sesuatu.”

Hal yang disampaikan Hernowo berkaitan dengan kegiatan membaca yang secara simultan dapat menghasilkan kegiatan menulis, yang kerap ia sebut sebut sebagai sebuah kegiatan “mengikat makna”. Jadi, dari sini kita dapat pula membaca situasi ini: Apa yang dihasilkan oleh seorang penulis sebenarnya merupakan proyeksi dari apa yang telah ia terima dan serap.

Membaca sastra dan karya tulis lainnya dengan serius adalah sebuah tugas yang tidak main-main, apalagi bagi seorang penulis atau kritikus sastra. Itu beban dan tanggung-jawab moral yang berat. Di zaman saat internet menyajikan berita-berita super pendek tentang apa yang terjadi di berbagai belahan dunia, dan siaran berita di televisi menghadirkan flash-news selama semenit dan teks berjalan di layar bagian bawah, kita perlu menilik lagi ketahanan dan dedikasi kita mengunyah pelan-pelan sebuah karya sastra yang berbobot, karena kegiatan membaca semacam ini menyita waktu dan energi.

Menulis dengan Hati-hati

“Putting words on paper is easy. Making those words mean something and capture a reader is much more difficult,” tulis seorang blogger.

Eric Sasono, kritikus film peraih penghargaan itu, pernah bersaksi bagaimana sebuah ulasan film ia buat dan kemudian publikasikan. Ia membuat sebuah ulasan setelah menonton sebuah film dengan memperhatikan berbagai aspek pendukungnya — dengan jeli. Ia buat ulasan atas film itu, lalu ia endapkan ulasan itu. Sampai beberapa hari kemudian ia merasa sudah waktunya ulasan itu ia sentuh dan baca lagi, ia menulis ulang ulasan itu — dengan bahasa yang lebih jernih dan tertata.

Saya pernah didatangi beberapa penulis yang mengaku baru saja menyelesaikan cerpen atau karya tulis lainnya. Mereka minta tolong agar semua hal yang bagi saya adalah suatu kesalahan penulisan, diperbaiki. Saya bertanya apakah mereka sendiri sudah membaca ulang karya mereka, mereka jawab tidak. Saya anggap inilah kesalahan yang fatal di kalangan penulis pemula.

Arie Saptaji, seorang penulis dan penerjemah lepas, dalam makalahnya tentang menulis menyebutkan, “Perbaikan atau penulisan ulang adalah tugas penulis, bukan tugas editor.” Setelah sebuah tulisan selesai, tulisan itu perlu diendapkan selama beberapa waktu dengan maksud agar si penulis dapat bersikap lebih obyektif terhadap hasil karyanya, memeriksa kekurangan yang ada dalam tulisannya, dan selanjutnya melakukan perbaikan yang diperlukan.

Arie menjelaskan lebih lanjut tentang poin-poin yang perlu diperhatikan dalam perbaikan tulisan. Hal-hal itu menyangkut kejelasan, konsistensi, kebenaran, dan kerapian bahasa yang kita gunakan. Kita juga bisa menilik ulang sebuah hal lain, contohnya: apakah gaya bahasa kita sudah sesuai dengan sasaran pembaca yang kita tuju atau tidak.

Penulisan ulang mematangkan tulisan kita sehingga kita mendapatkan kepuasan yang lebih besar. Jangan sampai setelah tulisan kita terbit, kita kecewa menemukan banyak kesalahan tulis. Dan yang terpenting, penulisan ulang yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memperbesar peluang untuk membuat editor jatuh hati pada tulisan kita. Seperti yang dinyatakan Alissa King: “You can write something incredibly good but the fact is, it can still be better. Go back with fresh eyes.”

Penulis Serius, Pembaca Serius

“Api memperanakkan api,” demikianlah kata pepatah. Kedua hal yang menjadi persoalan perbukuan (sastra) kita pada pemaparan di atas, kalau ditelisik dengan mendalam memang sangat berkaitan: Seorang penulis yang menggarap karyanya dengan serius akan menemukan pembaca yang serius pula atas karyanya. Demikian pula sebaliknya: kurang adanya pembaca yang serius disebabkan karena kurang adanya penulis yang serius.

“Kebanyakan masyarakat kita, saat ini, memang lebih membutuhkan hiburan ketika membaca (sastra). Tapi saya percaya, ada pembaca yang tidak semata membutuhkan hiburan. Ada pembaca yang membutuhkan tantangan atas bacaan yang dihadapinya,” kata Agus Noor, sastrawan yang dikenal sering menghasilkan karya-karya sastra serius dan berbobot.

Daripada pembaca atau kritikus, beban yang lebih berat memang diberikan bagi para penulis — bila ia memang menulis sesuai panggilan jiwanya untuk memberikan warna baru bagi dunia perbukuan (dan sastra) di negeri ini. Beban itu datang dalam tuntutan baginya untuk membaca lebih banyak buku, membaca ulang karya tulisnya sendiri, dan menulis ulang karya tulisnya sendiri pula, sebelum nanti karyanya itu menghadirkan pencerahan dan kenikmatan membaca yang besar di antara sidang pembaca — juga kritikus.

***

Malang-Sidoarjo, Maret 2010

*) Guru SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo dan pembaca sastra Indonesia

**) Disalin dari catatan Facebook penulis, 31 Maret 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan