-->

Kronik Toggle

UNAIR Bedah Buku Sepak Bola Tionghoa

I:BOEKOE, SURABAYA-Di mana dan kapan saja, sepak bola selalu menarik dan memesona manusia. Kendati terjadi krisis, perang, bencana, skandal suap, pelanggaran nilai fair play dalam olahraga, sepak bola tidak pernah mati dan justru tetap menghibur. Sepak bola mengajari orang untuk menghadapi pengalaman realisme nasib dengan menerima hasil pertandingan entah kalah ataupun menang. Bagaimana dengan sepak bola Indonesia ketika saat masih bernama Hindia Belanda terutama dinamika yang terjadi di kalangan Tionghoa?

Itulah yang diungkapkan oleh RN Bayu Aji dalam mengawali diskusi bukunya yang berjudul “Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola” yang diselenggarakan oleh HIMA Dep. Ilmu Sejarah Unair di FIB Unair Surabaya, Rabu (31/03).

“Perkembangan sepak bola di Hindia Belanda awal abad ke-20 tidak bisa terlepas dari pengelompokan masyarakat menjadi tiga kelas yakni kelas atas Belanda (Eropa), kelas menengah yakni Vreemde Oosterlingen (Tionghoa, Arab, Timur Jauh) dan kelas bawah yakni Bumiputera (Inlander). Pembedaan tersebut merupakan salah satu faktor penguat bahwa sepak bola bisa tumbuh mengakar melalui etnisitas dan suku,” ujar alumnus Departemen Ilmu Sejarah Unair ini.

Tionghoa Surabaya sebagai representasi kiblat sepak bola Tionghoa di Surabaya dan Hindia Belanda dengan cepat mengikuti perkembangan kemajuan sepak bola. Tionghoa Surabaya dituntut memiliki pengelolaan dan manajemen klub yang teratur dan rapi. Semenjak kompetisi pertandingan antar kota (steden wedstrijden) dilakukan dengan UMS Batavia, Union Semarang dan YMC Bandung, hingga CKTH dan HNVB, Tionghoa Surabaya menempatkan diri sebagai bond elit di Hindia Belanda.

“Tionghoa Surabaya sering mendapatkan juara steden wedstrijden dan kompetisi lokal di SVB. Di antaranya adalah piala Hoo Bie 1921-1922, piala Tjoa Toan Hoen 1925, Juara CKTH 1027-1929, juara HNVB 1030-1932. Masa keemasan Tionghoa Surabaya terjadi pada tahun 1939 dengan meraih juara kompetisis SVB (Soerabajasche Voetbal Bond), HNVB serta juara pada kejuaran Java Club Champion,” lanjutnya.

RN Bayu Aji menambahkan bahwa Pemain Tionghoa juga pernah mengikuti Piala Dunia di Perancis tahun 1938 yang pada waktu itu negara kita masih Hindia Belanda. “Pemain Tionghoa Surabaya yang ikut Piala Dunia adalah Kiper Tan “Bing” Mo Heng dan striker Tan Hong Djien. Sedangkan dari bond Gie Hoo Surabaya adalah Tan See Han,” tutur pria yang gemar sepak bola itu.

Sementara itu, Sidiq Prasetya sebagai pembahas buku mengutarakan bahwa buku yang ditulis oleh RN Bayu Aji memberikan sebuah informasi mengenai keberadaan Tionghoa dan sepak bola dengan sudut pandang berbeda dari buku sepak bola lainnya. Saat ini kebanyakan buku tentang sepak bola menjelaskan secara teknis permainan.

“Dimensi sosial, politik dan semangat nuansa nasionalisme ternyata ada pada saat era kolonialisme dan muncul dalam buku ini,” kata redaktur sepak bola Indonesia Jawa Pos ini.

Namun demikian, menurut Sidiq, buku ini akan lebih menarik apabila terdapat ulasan bagaimana riuhnya sepak bola kalangan Tionghoa saat era kolonialisme tidak muncul pada era sekarang. “Alangkah lebih lengkap bila ulasan setelah masa kemerdekaan, mengapa orang Tionghoa lebih menggeluti bulutangkis dan basket juga disertakan,” kritik terhadap buku ini.(RJ)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan