-->

Kronik Toggle

Minat Membaca Buku Daerah

BANDUNG — Minat membaca buku berbahasa daerah di Jawa Barat tidak dibiasakan sejak dini. Akibatnya, pemahaman generasi muda pada bahasa daerah semakin minim.

“Belum ada perhatian khusus dari sekolah, keluarga, atau pemerintah daerah untuk mengenalkan bahasa atau kesenian daerah pada anak sejak dini. Hal ini berbeda dengan kebiasaan di negara maju,” kata Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia, Selasa (2/2) di Bandung.

Unpad adalah universitas negeri yang rutin mementaskan kesenian daerah di Jabar setiap bulan sejak awal 2009. Terakhir Unpad memfasilitasi pertunjukan “Tina Sajak kana Lagu, nu Kang Ajip ku Kang Nano S” di Bale Rumawat Padjadjaran Kampus Unpad, Jalan Dipati Ukur Nomor 35, Bandung, Minggu (31/01) malam.

Di Eropa, anak-anak diajari membaca buku sejak dini. Sebelum lulus SD, siswa harus membaca sekitar 30 novel, baik bertema daerah maupun umum. Manfaat yang bisa dipetik, anak-anak terbiasa membaca buku di kemudian hari.

Strategi ini, menurut Ganjar, belum diterapkan di Indonesia, khususnya Jabar. Dengan banyaknya buku anak-anak berbahasa daerah yang populer, seperti karangan Samsudi, semestinya minat baca bisa didorong.

Hal ini terasa ironis karena ada tiga peraturan daerah tentang penggunaan bahasa daerah. Perda itu adalah Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah; Perda No 6/2003 tentang Pemeliharaan Kesenian Daerah; serta Perda No 7/2008 tentang Penetapan Bahasa Daerah sebagai Bahasa Kedua di Sekolah.

“Di Jabar ada tiga bahasa daerah yang kerap digunakan, yaitu bahasa Sunda, Cirebonan, dan Melayu Betawi,” katanya.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage Ajip Rosidi mengatakan, saat ini pemahaman generasi muda Jabar terhadap kesenian atau bahasa daerah sangat minim. Kebanyakan tidak mengenal kesenian daerah atau tidak menggunakan bahasa daerah.

Menurut Ajip, hal ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Ia mengatakan, pihak yang masih peduli hendaknya terus melakukan beragam inovasi agar ketertarikan generasi muda pada tradisi daerah bisa ditingkatkan.

*) Dikronik dari Kompas Jawa Barat, 3 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan