-->

Tokoh Toggle

Syamsiar Seman:Menjaga Budaya Banjar Lewat Buku

Oleh M Syaifullah

Rumah Syamsiar Seman di Jalan Anggrek 2 Kebun Bunga, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bisa dikatakan sederhana. Ruang tamu tempat tinggal penulis yang menggeluti budaya Banjar di Kalsel dalam 33 tahun terakhir ini bersahaja. Di ruangan ini hanya ada satu set meja lengkap dengan kursi tamu.

Hal yang membedakan rumah Syamsiar dengan rumah lain di sekitarnya adalah adanya lemari kaca berisi sekitar 50 buku. Buku-buku itu bukan koleksi perpustakaan pribadi, melainkan buah karya si empunya rumah yang menggeluti budaya Banjar.

”Setiap tahun rata-rata saya membuat satu sampai dua buku terkait budaya Banjar,” katanya.

Bagi kalangan peneliti budaya, arsitek, teknik sipil, hingga mahasiswa yang berminat mendalami arsitektur, seni ukir, dan rumah adat Banjar, nama Syamsiar-lah yang menjadi rujukan utama.

Pria kelahiran Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel, ini awalnya dikenal karena menerbitkan dua buku yang khusus membahas rumah adat dan arsitektur Banjar. Kedua buku itu adalah Rumah Adat Banjar terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1982) serta Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan (2001) yang dibuatnya bersama Ir H Irhamna dari Ikatan Arsitek Kalsel.

Selain memiliki kekhasan dalam seni arsitek dan seni ukir, masyarakat Banjar juga memiliki tradisi lisan yang kuat. Namun, tradisi lisan tersebut terancam punah karena sedikit sekali yang sudah dibukukan.

Tradisi lisan Banjar lebih banyak dilestarikan secara turun-temurun. ”Saya berusaha menjaga budaya Banjar dengan membuat buku dari tradisi lisan yang berkembang,” katanya.

Beberapa kalangan menyebut Syamsiar sebagai budayawan atau pemerhati budaya Banjar. Tentang hal ini dia berkata, ”Ah, itu kan mereka yang memberikan julukan.”

Akan tetapi, julukan itu terasa pantas disandang Syamsiar Seman. Sebab, hingga saat ini, penerima penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia Jakarta (1999) dan Borneo Award (2000) itu adalah salah satu penulis lokal yang paling produktif.

Untuk cerita rakyat, misalnya, Syamsiar telah menghasilkan lebih dari 12 judul buku. Terkait dengan pantun dan peribahasa Banjar, ada tiga buku.

Selain itu, ia juga membuat tiga jilid buku Lancar Basa Banjar yang menjadi buku pegangan sekolah dasar di Kalsel. Masih ada lagi tiga buku karya Syamsiar tentang Islam dan budaya Banjar.

Dia juga menulis buku tentang beberapa tokoh semasa Kerajaan Banjar dan saat kemerdekaan, di antaranya Hassan Basry, Bapak Gerilya Kalimantan, yang diterbitkan Lembaga Studi Perjuangan dan Kepahlawanan Kalsel (1999).

Tulisan tangan

Syamsiar sudah menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di kelas II SMP di Barabai. Tulisan pertamanya adalah cerita rakyat, Batu Benawa di Barabai, dimuat di majalah Kunang-Kunang terbitan Balai Pustaka (1952).

”Saya tidak diberi honor untuk tulisan itu, tetapi dikirimi buku Siti Nurbaya dan majalah yang memuat tulisan saya. Itulah yang membuat saya terus menulis,” katanya.

Sebelum usia 40 tahun, Syamsiar tak mengkhususkan diri menulis buku tentang budaya Banjar. Dia justru lebih banyak menulis cerita pendek, puisi, dan pantun. Selain media lokal, beberapa tulisannya pada kurun tahun 1955–1986 juga dimuat sejumlah surat kabar dan majalah di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Syamsiar sedikitnya sudah menulis 78 puisi, 146 cerpen, 9 naskah drama, 6 lagu nasional dan daerah, 327 artikel, 58 makalah tentang budaya Banjar, dan sekitar 50 buku terkait arsitektur, seni, dan cerita rakyat Banjar.

”Sebagian tulisan itu saya buat dengan tulisan tangan,” katanya.

Di usia lanjut, Syamsiar masih membuat buku dengan tulisan tangan. Tulisan tangan itu dia serahkan kepada penerbit untuk diketik ulang, kemudian dibukukan. Dia tak memilih penerbit di Jawa, tetapi penerbit lokal di Banjarmasin, mengingat besarnya biaya untuk itu. Dia beruntung karena selalu ada penerbit lokal yang mau menerbitkan karyanya dengan cetakan di bawah 1.000 eksemplar.

”Saya menerbitkan buku-buku itu dengan modal sendiri. Paling banyak setiap cetak sekitar 500 eksemplar. Kalau habis, baru dicetak lagi. Alhamdulillah, dari buku-buku inilah rezeki datang,” ungkapnya.

Dulu, untuk memasarkan buku-buku itu, Syamsiar harus mendatangi satu per satu toko buku di Banjarmasin. Kini, toko buku besar seperti Gramedia di Banjarmasin secara rutin mengambil buku-buku budaya Banjar itu.

”Saya ikut senang. Ini berarti semakin banyak generasi muda di Kalsel yang mau mempelajari budaya lewat buku,” ucapnya.

Buah observasi

Buku-buku karya Syamsiar bukanlah hasil riset mendalam seperti yang dilakukan para peneliti. Buku-buku itu hasil observasi dan wawancara langsung dengan obyek yang ditulisnya.

Kepandaian menulis guru SD dan dosen di beberapa universitas di Banjarmasin ini terasah karena ia pernah menjadi wartawan. Syamsiar menjadi wartawan setelah mendapat kursus wartawan Pro Patria Yogyakarta selama 10 bulan pada 1956. Dia lalu bergabung dengan beberapa surat kabar dan majalah lokal.

Pengalamannya di dunia wartawan hingga tahun 1989 antara lain menjadi reporter Masyarakat Baru di Samarinda, koresponden Sinar Islam di Jakarta, koresponden Suara Pemuda Medan, dan menulis untuk majalah Pembina di Surabaya.

Syamsiar juga pernah menjadi wartawan Suara Kalimantan, wakil redaksi pada majalah mingguan Waja Sampai Kaputing, wakil pimpinan majalah seni dan budaya Bandarmasih, dan pemimpin redaksi pada buletin Keluarga Berencana di Banjarmasin.

”Saya sekarang sedang menyusun buku terkait makanan tradisional Banjar. Sedikitnya ada 41 macam kue khas yang ada di Banjar. Informasi itu saya dapatkan dari mendatangi beberapa warung yang menjual wadai (kue) Banjar. Sambil nongkrong di warung, saya bisa mendapatkan bahan-bahan untuk tulisan,” katanya.

Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan Syamsiar itu tampak sederhana. Namun dia berkeyakinan, dengan observasi langsung justru dia bisa memperkaya informasi tentang budaya yang akan ditulisnya.

DATA DIRI

Nama               : Syamsiar Seman

Lahir                : Barabai, Kalimantan Selatan, 1 April 1936

Pendidikan    : Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin

Bibliografi: Menulis puisi, cerita pendek dan artikel tentang seni budaya daerah, antara lain dimuat pada majalah Jakarta, Pancawarna (1955), Ipphos Report (1956), Indonesia (1957-1958), Sinar Islam (1957-1958), Konfrontasi (1960), Varia (1962-1963), Bina Sejahtera (1975-1986), Monitor (1981-1982), Warnasari (1981-1982); Majalah di Bandung, Pusparagam (1955-1958), Berita Minggu (1959); Majalah di Medan, Tifa (1955), Suara Pemuda (1956-1957); Majalah di Yogyakarta, Minggu Pagi (1962-1963), Pesat (1962-1963); Majalah di Surabaya, Tanah Air (1961-1962), Pembina (1962-1963) dan pada beberapa Surat Kabar lainnya.
*) Dikronik dari Kompas 21 April 2009

2 Comments

petrukz ponorogo - 10. Feb, 2010 -

teruskan pengembangan buku di indonesia, tuk mencerdaskan anak bangsa.

Kamal Ansyari - 10. Apr, 2010 -

Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, kalimantan selatan seperti datuk panglima hamandit, datu ramanggala di ida manggala sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, legenda datu ayuh/sindayuhan dan datu intingan/bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabo di kalumpang, datu patinggi di telaga langsat,legenda mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari di hamalau, datu kandangan dan datu kertamina, datu hamawang dan sejarah mesjid quba, tumenggung antaluddin mempertahankan benteng gunung madang, bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singakarsa di pandai, mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran dan datu balimau, kuburan tumpang talu di parincahan, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan pemberontak ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Basyri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan.Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan