-->

Kronik Toggle

Sulit Mencari Penulis Produktif

JAKARTA – Hampir 80 persen buku ilmu pengetahuan yang diproduksi di Indonesia adalah hasil terjemahan. Buku-buku itu kebanyakan digunakan kalangan perguruan tinggi. Selain itu, terjemahan juga banyak hadir dalam buku-buku keagamaan.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Setia Dharma Madjid pekan lalu mengatakan, kondisi dunia perbukuan sekarang berbeda dengan beberapa tahun lalu. Beberapa tahun lalu, muncul buku-buku karya para ilmuwan Indonesia yang menjadi buku utama dalam perkuliahan. Misalnya, buku Manusia dan Kebudayaan Indonesia atau Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan karya Koentjaraningrat.

Minimnya buku-buku ilmu pengetahuan karya anak bangsa, melahirkan sejumlah pertanyaan. Adakah budaya menulis buku itu menarik ditekuni? Atau, benarkah budaya omong masih kuat dibanding budaya menulis?

”Memang, sering muncul keluhan, apa yang didapat dari mengarang buku? Berapa royalti yang didapat. Lebih baik bicara dalam seminar, hasilnya lebih banyak. Masalah-masalah ini sering ditampilkan, membuat penghargaan pada upaya menulis kurang dihargai,” kata Alfons Taryadi, anggota Dewan Pertimbangan Ikapi.

Ia juga mengingatkan, manusia hidup tidak cukup hanya dengan menyerap informasi dari televisi. Di mana pun, buku tetap diperlukan karena buku merangsang untuk refleksi. ”Dan manusia memerlukan hal itu.”

Masih tinggi

Meski gempuran media elektronik menggebu-gebu, produksi buku di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Setia Dharma memperkirakan sekitar 15.000 hingga 20.000 judul buku yang diterbitkan per tahun.

Ketua Ikapi DKI Jakarta Lucia Andam mengatakan, kalangan penerbit sebenarnya ingin mendorong terbitnya buku-buku lokal. Namun, bidang studi tertentu di perguruan tinggi memang membutuhkan buku-buku teks terjemahan, terutama untuk bidang studi kedokteran, teknik, dan ekonomi.

Husni Syawie, Direktur Penerbit Serambi, mengatakan, sulit mencari penulis buku yang produktif dan memenuhi standar. Akhirnya, penerbit terpaksa memilih buku terjemahan.

Sumber: Harian Kompas, 15 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan