-->

Lainnya Toggle

Setelah Media Cetak Sekarat

WEB Zamarkhsyasi AbrarOleh: Zamakhsyari Abrar

Tahun-tahun belakangan ini merupakan musim gugur bagi bisnis media cetak di Amerika Serikat. Satu per satu media rontok dan tutup buku akibat menurunnya pendapatan iklan, merosotnya sirkulasi dan terutama kegagalan bersaing dengan layanan gratis portal berita internet. Koran prestisius seperti Christian Science Monitor yang telah berusia satu abad, misalnya, bahkan sudah lempar handuk melawan media online. Dan terhitung April tahun lalu resmi beralih menjadi media online. Koran ini juga tercatat dalam sejarah Amerika menjadi koran nasional pertama yang terbit secara online.

Sebelumnya surat kabar Amerika lainnya Seattle Post-Intelligencer yang berbasis di Seattle juga tak mampu menahan gempuran media internet dan kini bersalinrupa pula menjadi media online. Surat kabar lain seperti Rocky Mountain News yang berbasis di Denver juga sudah almarhum. Daftar ini masih akan panjang bila kita memasukkan banyaknya media yang tutup atau yang tengah sekarat gara-gara banyaknya pembaca yang beralih ke media internet sejak lima tahun belakangan di Amerika maupun di negara maju lain di Eropa.

Menilik suramnya bisnis media cetak di Amerika belakangan ini, mungkinkah kelesuan serupa bisa terjadi pada dunia buku menilik adanya kesamaan karakter cetak tadi? Pertanyaan usil ini perlu saya ajukan dengan pertimbangan makin mewabahnya layanan buku elektronik atau ebook dan menjamurnya perpustakaan online. Fenomena ini tentu tidak bisa dianggap remeh oleh para pelaku bisnis buku di Amerika, bahkan di Indonesia sekalipun. Memang hingga kini belum ada data signifikan beralihnya pembaca buku cetak ke buku elektronik. Tapi faktanya dalam sepuluh tahun terakhir kita semua telah menyaksikan bagaimana dahsyatnya perubahan yang terjadi akibat revolusi internet.

Sejarah Buku Elektronik
Sejarah buku elektronik berkaitan erat dengan Michael Hart, perintis Project Gutenberg. Hart-lah yang mengklaim diri sebagai penemu awal ebooks. Sejak tahun 1971 hingga kini, proyek ebooks miliknya terus berkembang. Ada ribuan sukarelawan yang terlibat dalam Project Gutenberg. Saat ini ada sekitar 28 ribu buku yang disediakan gratis pihak Hart melalui Project Gutenberg. Buku-buku elektronik tersebut bisa diunduh peselancar dunia maya secara gratis, karena memang buku-buku tersebut sudah habis masa hak ciptanya. Sejumlah buku ternama karangan sastrawan dunia Frank Kafka, James Joyce, Mark Twain, hingga Leo Tolstoy tersedia gratis di situs ini.

Perpustakaan dunia maya seperti onlinebookslibrary, misalnya, menyatakan sanggup menyediakan lebih dari 10 ribu buku. Buku-buku karangan Vladimir Nabokov, Henrik Ibsen, Yusuf Qardhawi, Harun Yahya, Sa’di, Tagore, Ibn Al Arabi untuk menyebut beberapa saja juga bisa diunduh pengunjung secara gratis.

Bahkan perpustakaan online seperti Questia Online Library mampu menyediakan 70 ribu buku dan 2 juta artikel dari sejumlah koran, majalah, dan berbagai jurnal. Ada banyak buku bagus di sini, mulai novel Ulyses James Joyce, novel Charles Dicken Great Expectation dan sejumlah buku karya penulis terkenal lain seperti karya Sigmund Freud dan Marry Shelley. Silahkan pembaca mengaksesnya sendiri di dunia maya. Kalau tidak ketemu alamat yang dimaksud, cukup pergi ke “Om” Google dan tinggal memasukkan kata kunci yang tepat. Niscaya akan keluar situs yang dimaksud.

Bagi para pecinta buku, perpustakaan elektronik ini tentu saja sebuah kabar gembira, tapi sebaliknya kabar buruk bagi penerbit. Bayangkan berapa banyak uang yang bisa kita hemat dengan mengunduh gratis puluhan ribu eBooks tadi. Apalagi di Indonesia, di mana harga buku terus melambung dewasa ini. Tapi jumlah puluhan ribu buku itu tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan proyek buku digital Google yang kini menjadi kontroversi itu. Sejak lima tahun lalu, Google yang berambisi menjadi mesin pencari nomor wahid di dunia maya secara berkelanjutan terus mendigitalkan jutaan buku yang terbit dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia.

Google melalui divisi Google Book Search berambisi membangun perpustakaan online dan bisnis buku terbesar yang pernah ada di planet kita ini. Sebagai informasi saja, kanal pencari Google didukung 2 juta buku., diramaikan 20 penerbit serta 70 domain besar dunia, termasuk penerbit yang ada di Indonesia. Pengunjung bisa membaca cuplikan isi buku yang mereka unduh, tak soal apakah membeli atau tidak. Tentu saja sejumlah penulis dan penerbit di negara Barat sana mencak-mencak dengan tindakan Google tadi. Google seperti yang ramai diributkan dituding melanggar hak cipta karena tanpa izin menampilkan cover buku, cuplikan isi buku, dan menciptakan database elektronik tanpa seizing pemegang hak cipta.

Terlepas dari konflik tadi, satu hal yang pasti kita tidak dapat memandang sebelah mata dengan proyek buku digital Google. Ingat saja apa yang dirintis Google melalui Google Arts, Google Alerts, Google Checkout, Google Earth, Google Finance, Google Food, Google Health, Google Images, Google Labs, Google Maps, dan Google Sports telah mengubah secara signifikan dunia maya. Konon lagi bila Google berhasil mewujudkan perpustakaan digitalnya.

Mungkin saja di masa depan kita tidak perlu berkunjung lagi ke toko buku untuk membeli buku atau pergi ke perpustakaan yang kotor dan berdebu untuk meminjam buku. Cukup dengan hanya mengklik blackberry atau perangkat elektronik terbaru yang tidak seorang pun tahu bentuknya, kita pun bisa mengakses jutaan buku. (Saya membayangkan sebuah buku elektronik yang lebih besar dari ukuran blackberry kini). Sebuah pilihan yang praktis dan mudah ketimbang menenteng buku ke mana-mana. Buku elektronik juga bebas lecek dan dijamin tidak bakal ada halamannya yang sobek.

Bagaimana dengan buku elektronik di Indonesia? Meski pengguna internet di Indonesia jumlahnya masih belum signifikan dibanding negara lain di Asia Tenggara, kehadiran eBooks ternyata juga bukan lagi barang mewah. Rintisan eBooks secara besar-besaran malah dimulai oleh pemerintah sendiri. Pada Agustus 2008, Depdiknas melalui situsnya menyediakan 400 buku pelajaran gratis, 95 buku untuk SD, 72 buku untuk SMP, 24 untuk SMA, dan selebihnya untuk vocational school. Jadi seperti apakah dunia buku di masa depan? Mari kita tunggu saja karena tidak seorang pun dapat memprediksi masa datang.

Sumber: Note Facebook Zamakhsyari Abrar

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan