-->

Lainnya Toggle

Salman Rushdie Menulis Hari-hari Persembunyiannya

Atlanta – Salman Rushdie, penulis The Satanic Verses yang dijatuhi fatwa mati oleh Ayatollah Khomenini, akan menulis tentang hari-hari selama dia bersembunyi sejak fatwa itu keluar pada 1989. Rushdie, 62 tahun, membahas rencananya itu di Emory University, yang menggelar pameran manuskripnya sejak Jumat pekan lalu.

“Itu kisahku, dan pada suatu masa, dia perlu diceritakan,” katanya dalam konferensi pers pameran tersebut pada Selasa waktu setempat. “Aku pikir, masa itu sudah semakin dekat. Ketika kisah itu masih tersimpan di kotak-kotak kardus dan komputer mati, dia akan sangat susah (ditulis), tapi sekarang semuanya sudah tertata,” katanya.

Pada 2006 Rushdie menyumbangkan koleksi manuskrip, surat, dan foto pribadinya ke Emory, yang kemudian mengkatalogkannya dan memindahkannya ke format digital. Manuskrip itu berasal dari naskah novel dan karya yang tidak dipublikasikan. Arsip itu kini dipamerkan ke publik hingga September mendatang. Salah satu dinding pameran berisi catatan Post-It yang ditulisnya ketika sedang menulis novel.

Selama ini Rushdie bersembunyi dan mendapat kewarganegaraan di Inggris karena Ayatollah Khomeini mengeluarkan fatwa mati kepadanya, karena The Satanic Verses dinilai telah menghina Islam. Pemerintah Iran mengumumkan pada 1998 bahwa mereka tidak mendukung fatwa itu, tetapi tidak dapat mencabutnya. Tapi, kelompok-kelompok muslim garis keras terus memprotes Rushdie dan mengancam akan memboikot lembaga-lembaga yang berhubungan dengannya.

Novel Rushdie, Midnight’s Children, meraih Booker Prize di Inggris pada 1981 dan terpilih sebagai novel terbaik dalam perayaan 25 tahun Booker Prize pada 1993. Rushdie dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Ingggris Elizabeth II pada 2007, tahun yang sama ketika dia menceraikan Padma Lakshmi, model yang tiga tahun dinikahinya.

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 24 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan