-->

Kronik Toggle

Profesor Favorit Jiplak Tulisan

Terancam Dipecat dan Gelar Dicopot
BANDUNG –
PROFESOR Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Anak Agung Banyu Perwita, diduga menjiplak artikel-artikel yang dimuat di harian nasional.

Akibat tindakan itu gelar profesor (guru besar) Banyu Perwita, 43, diusulkan untuk dicabut. Hal itu dibenarkan Rektor Universitas Katolik Parahiyangan (Unpar) Bandung, Cecilia Lauw, Selasa (9/2). Unpar melalui Senat Universitas tengah membuat surat rekomendasi pencabutan gelar terhormat itu.

“Barusan saya ngobrol dengan staf saya yang akan berangkat ke Jakarta. Sekalian saya meminta dia menanyakan apakah mungkin gelar (profesor) itu dicabut,” tutur Cecilia.

Skandal ini terkuak dari keterangan editorial kolom Opini Harian The Jakarta Post pada, 4 Februari lalu. Disebutkan bahwa artikel Banyu Perwita berjudul RI as A New Middle Power, dimuat pada, 12 November 2009, ternyata memiliki kemiripan dengan artikel oleh Carl Ungerer, penulis asal Australia. Tulisan Ungerer berjudul The Middle Power, Concept in Australia Foreign Policy’ dan dimuat di Australian Journal of Politics and History pada 2007.

Yang mengejutkan, Banyu Perwita diduga bukan hanya sekali melakukan perbuatan tercela ini, melainkan juga empat artikel sekaligus dari enam narasumber internasional.

Banyu merupakan salah satu profesor bidang Hubungan Internasional (HI) termuda di Indonesia, yaitu dalam usia 41 tahun,

Meletakkan jabatan profesor adalah konsekuensi terberat dari perbuatan Banyu. Selama ini, Banyu dikenal aktif menulis di media nasional.

Mengundurkan diri

Menurut Cecilia, Banyu telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan sebagai dosen, terhitung sejak, Senin (8/2).

Namun Cecilia menyatakan, yang berhak memberhentikan Banyu adalah yayasan. “Senat akan melakukan rapat lebih lanjut pada Kamis (11/2, Red),” ungkapnya.

Kasus Banyu ini tak urung memukul dosen dan mahasiswa Unpar. Banyu selama ini dikenal sebagai profesor muda yang cerdas, santun, dan ramah dan memiliki karier cemerlang.

Ia sempat menduduki jabatan wakil rektor. Di kalangan mahasiswa, kehadirannya selalu dinanti. “Ia adalah salah satu dosen terfavorit,” tutur Reza Ihsan, mahasiswa tingkat III HI Unpar.

Banyu, yang alumnus Unpar, memperoleh beasiswa British Chevening Scholarship dari Pemerintah Inggris untuk program pascasarjana dan memperoleh MA di jurusan International Relations and Strategic Studies dari Lancaster University-Inggris pada, November 1994. Pada 2002, ia meraih doktor dari Flinders University, Adelaide, Australia. nkcm

*) Dikronik dari harian Surya, 10 Februari 2010

2 Comments

indonesia - 10. Feb, 2010 -

sayang sekali, padahal memiliki karir bagus..

gringgo - 20. Feb, 2010 -

saya punya bukti kalau beliau itu memang sangat ahli dalam plagiatisme,terutama sejak beliau membahas geopolitik energi.ternyatab Buah pemikirannya diambil dari buku geopolitik perminyakan,yg ditulis oleh sdr. dirgo purbo.bahkan beliau pernah buat seminar di UNPAR dengan judul ancaman GOD.sedangkan itu judul aslinya Indonesia dalam cengkraman GOD.,kasian mahasiswa kita di kotorin oleh seorang plagiator.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan