-->

Kronik Toggle

Profesor Banyu: Maaf, Saya Bikin Susah Lagi

Profesor Anak Agung Banyu Perwita yang tersandung kasus dugaan penjiplakan sudah mengakui kesalahan di depan Rektor Universitas Parahyangan Cecilia Lauw. Profesor Banyu ‘melunak’ di hadapan Sang Rektor.

“Pada 4 Februari 2010, saat itu juga kira-kira pukul 4 sore Pak Banyu langsung mengaku,” kata Cecilia Lauw Giok Swan dalam perbincangan dengan VIVAnews, Rabu 10 Februari 2010.

Banyu mengaku telah melakukan penjiplakan pada tulisannya yang dimuat The Jakarta Post edisi 12 November 2009. Saat dipanggil Cecilia, Profesor Banyu langsung mengaku, apalagi saat melihat Cecilia menangis.

“Dia melunak. Waktu melihat saya sedih dan menangis, dia juga menangis. Lalu Pak Banyu bilang, “Saya nyusahin Ibu (Cecilia) lagi”. Lalu saya jawab, Kamu kok nakalnya tidak habis-habis sih,” ujar Rektor yang mengenyam pendidikan S1 di ITB ini.

Menurut Cecil, Profesor Banyu tidak hanya sekali ini tersandung kasus. Dia juga pernah dicopot dari jabawan Wakil Rektor V pada Juli 2009.

“Pencopotan jabatan Wakil Rektor itu karena dia jarang di kampus. Masa saya harus merangkap menjabat wakilnya Wakil Rektor,” ujar wanita yang mengajar struktur baja di Teknik Sipil ini.

Banyu, dosen jurusan Hubungan Internasional, FISIP Unpar ini membuat The Jakarta Post pada Kamis 4 Februari 2010 menarik artikel Banyu yang yang berjudul “RI As A New Middle Power?” yang dimuat harian itu pada 12 November 2009.

The Jakarta Post menilai tulisan itu telah menjiplak sebuah jurnal ilmiah di Australia yang ditulis Carl Ungerer. Harian ini pun meminta maaf kepada pembaca dan penulis.

*) Dikronik dari Vivanews.com 10 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan