-->

Lainnya Toggle

Pleidoi Nusya Kuswantin ('Lasmi')

Tanggapan Nusya Kuswantin untuk Sidang Dewan Pembaca Indonesia Buku.

WEB-LasmiSidang dewan adalah ketika para pakar dari berbagai mazhab dengan berbagai paradigma berkumpul untuk ‘mengadili’ suatu perkara. Ketika Dewan Pembaca Indonesia Buku bersidang membahas sebuah novel maka yang terjadi adalah berbagai pendapat dari berbagai sudut pandang digunakan untuk melihat sebuah novel. Oleh karena sifat sidang dewan yang multi-paradigma maka ia memiliki kecenderungan menjadi makroskopis dan menggeneralisasi.

Padahal sebuah novel – katakanlah Lasmi yang saya tulis – ditulis dengan menggunakan satu sudut pandang saja dan sifatnya juga lebih mikroskopis karena ia berkisah tentang satu sosok manusia. Satu sosok manusia tentu saja memiliki kecenderungan psikologis yang unik, yang tidak mungkin digeneralisasi. Saya jadi merasa aneh ketika tokoh Lasmi digeneralisasi menjadi ‘tipikal’ tokoh-tokoh Gerwani survivor yang pantang menyerah dan heroik. Karena satu hal yang sudah jelas adalah bahwa Lasmi bukanlah survivor. Seseorang yang telah menginspirasi novel saya ini memang mati dengan cara seperti itu.

Saya kutip catatan Sidang Dewan Pembaca: Keresahan Prabu mengenai latar sejarah ini diamini Diana Sasa, yang sedari awal mengawal jalannya sidang. Kata penulis dari Surabaya ini: “Setahu saya, aktivis Gerwani adalah kader-kader terpilih. Mereka yang tertangkap, tersiksa, dan terbuang nyaris di sepanjang sisa hidupnya pun, tak pernah saya dengar menyesali diri telah menjadi bagian dari Gerwani. Mereka adalah kader ideologis yang militan.”

Saya tidak menampik pendapat seperti di atas, terutama yang menyangkut para survivor. Tetapi perlu juga diingat bahwa di dalam tubuh Gerwani ada dua mazhab gerakan. Satu adalah mazhab gerakan politik ideologi dan yang satunya lagi adalah mazhab gerakan emansipasi perempuan. Dan Lasmi sejak awal dikonstruksikan untuk menjadi bagian dari kategori yang kedua. Itu sudah saya gambarkan secara implisit di halaman paling depan menyangkut pilihan tanda gambar yang dicoblosnya dalam pemiliham majelis daerah. Juga tampak dari latar belakang ayahnya dan motifnya mendirikan taman kanak-kanak. Saya pribadi sempat bertemu beberapa tokoh Gerwani survivor dan saya bisa melihat ada sosok Lasmi di sana.

“Riset adalah kelemahan mendasar dari novel ini. Sangat lemah sekali. Bertaburnya kata ‘konon’ dan ‘kabarnya’ menjadikan novel ini semacam novel sejarah konon. Katanya dan katanya. Misal, ia tak dapat menjelaskan mengapa orang Jawa tak mengenal nama belakang atau nama keluarga. Juga alasan apa orang Jawa meletakkan bendera putih di tonggak atap rumah ketika mendirikan rumah. Di sini, ia bersembunyi di balik kata entah, konon, kabarnya, mungkin, yang menurut saya membuatnya kerdil,” tandas Sasa.

Menulis novel dengan setting 1965 jelas adalah tantangan yang sama sekali tidak bisa dianggap sepele. Diksi yang saya pilih dan data yang saya gunakan perlu saya pikirkan lama sekali (itu sebabnya judul novel ini Lasmi – yang merupakan akronim dari lama sekali mikirnya) sedemikian rupa sehingga data-data yang saya gunakan bisa dipertanggung-jawabkan. Saya kira sikap kehati-hatian saya tidaklah berlebihan mengingat buku John Roosa berjudul Dalih Pembunuhan Massal nyatanya dilarang di negeri ini. Padahal buku tersebut adalah disertasi, yang disusun dengan metode penelitian yang sudah pasti bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.

Bahwa kemudian kehati-hatian saya dalam menulis novel ini jadi kurang memiliki greget sastrawi, maka ini adalah sesuatu yang tak bisa saya hindari. Termasuk penggunaan kata konon yang saya gunakan untuk mendeskripsikan bahwa yang saya gunakan bukanlah data primer. Tetapi yang jelas, siapapun yang menulis kisah dengan setting 1965, kendati fiksi sekalipun, tidak mungkin tidak melakukan riset secara serius. Karena bila tergelincir sedikit saja bisa fatal akibatnya.

Itu sebabnya saya gusar sekali kepada editor novel saya (novel kok ada editornya ya?), yang membuat pernyataan sangat tidak hati-hati di cover belakang pada cetakan pertama, yang memvonis Gerwani sebagai terlibat dalam Gerakan 30 September. Saya harap ada kata yang diduga sebelum kata terlibat. Semoga koreksi untuk cetakan berikutnya tidak mengandung kesalahan substantif seperti itu, yang bernada victimizing the victims.

Syukurlah seorang Gus Dur sempat menjadi presiden di negeri ini, sehingga banyak buku menyangkut 1965 yang diterbitkan dan saya bisa mengumpulkan berbagai dokumen pendukung argumentasi saya, termasuk yang paling penting untuk novel saya adalah yang diterbitkan oleh Syarikat Yogyakarta. Saya juga telah berdiskusi dengan, dan mewawancarai, beberapa orang yang memang paham dengan isu itu serta punya pengalaman empirik di era itu. Dan bahkan draft novel saya juga telah dikoreksi dan dikomentari oleh lima orang termasuk seorang suhu sosialisme sepuh yang saya hormati. Beliaulah yang membuat saya membongkar habis karakter Lasmi dari depan hingga belakang agar lebih pas dengan konteks politik di era itu.

Saya juga merasa perlu memberikan gambaran etnografis sebuah keluarga priyayi di daerah Malang di era itu – dengan filosofi Jawanya — yaitu era ketika Islam belumlah semerata sekarang. Tanpa itu setting novel saya bisa saja dituduh ahistoris. Lagu-lagu pembangikit semangat adalah yang juga tak terpisahkan dari zaman itu. Saya teringat kata seorang perempuan mantan aktivis Pemuda Rakyat Bali, ”Acara-acara Golkar tidak pernah menarik karena mereka tidak punya lagu-lagu pembangkit semangat….”

Hernadi Tanzil, resensor dari sebuah pabrik kertas di Bandung, juga menyayangkan kurang tereksplorasinya karakter Lasmi sebagai tokoh sentral. Karena dituturkan melalui sudut pandang suaminya, otomatis pembaca tak banyak mengetahui bagaimana konflik batin yang dirasakan Lasmi selama masa-masa perburuan terhadap dirinya. Hal ini hanya terungkap melalui surat panjang Lasmi untuk suaminya. Walau telah tewakili oleh surat tersebut tentunya akan lebih menarik jika di sekujur novelnya ini pembaca akan disuguhkan konflik batin yang dialami Lasmi terutama saat masa-masa perburuan terhadap dirinya.

Saya lama sekali memikirkan siapa yang pantas menjadi narator dalam novel saya ini. Awalnya saya memilih sudut pandang Lasmi sendiri. Tetapi kemudian saya urungkan. Karena orang Jawa secara budaya sulit menceritakan tentang dirinya sendiri. Terutama karena di dalam novel karakterisasi haruslah kuat; karakter novel diharapkan greater than life. Akhirnya saya memilih suaminya yang menjadi aku di dalam novel ini karena orang yang sungguh memiliki rasa cinta cenderung memberikan penilaian dengan nada memuji. Tentu dengan risiko bahwa pembaca harus menebak-nebak konflik batin yang dialami tokoh sentral.

Akhirnya saya menunggu resensi yang ditulis oleh resensor dengan paradigma yang pas untuk novel Lasmi. Entah paradigma apa istilahnya. Mungkin sastra aktivisme? Atau sastra sosial? Karena paradigma yang berbeda tentulah akan ’membunuh’ novel saya secara tidak adil. Saya tidak ingin nasib Lasmi seperti nasib novel Sang Priyayi karya Pak Umar Kayam yang dibedah Mas Heddy (Sri Ahimsa-Putra) dengan paradigma strukturalisme sehingga yang tampak hanya tinggal relasi-relasi di dalam struktur kekerabatan antar tokohnya. Ketika saya utarakan kepada Mas Heddy bahwa ibarat perempuan saya tak ingin hanya dilihat kerangka saya saja, tetapi juga gagasan saya dan bahkan senyum saya, Mas Heddy menimpali, ”Ya, itulah antara lain kritik terhadap strukturalisme.”

Begitulah apologia saya terhadap hasil Sidang Dewan Pembaca Indonesia Buku atas novel Lasmi yang saya tulis.

Sumber foto: di sini

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan