-->

Kronik Toggle

Pertama, Komik Pertanian di Sumut

MEDAN – Buku komik bernuansa pertanian pertama kali muncul di Medan, Sumatera Utara. Buku yang ditulis Seri Kamila Parinduri ini menghadirkan alternatif bacaan bagi pelajar.

Komik ini mengusung cerita dengan tokoh-tokoh nama tetumbuhan di sekitar manusia.

Buku komik ini lahir di tengah keterbatasan sarana animasi. Kendati begitu, penulis berencana menghasilkan karya berikutnya yang lebih baik. Penulis berharap potensi para animator lokal yang luar biasa bisa terakomodasi kreativitasnya.

”Sejauh ini saya belum melihat adanya bacaan komik edukatif yang lahir di Sumatera Utara. Saya ingin menghadirkan komik ini untuk memenuhi kebutuhan pembaca, terutama pelajar,” tutur Seri Kamila Parinduri, Selasa (23/2), ditemui saat peluncuran komik pertamanya itu.

Proses pembuatan komik berjudul Amarilis Bloom ini berlangsung selama sekitar lima bulan. Amarilis berasal dari nama bunga mempunyai umbi, sedangkan bloom berarti mekar (dalam Bahasa Inggris). Kamila sengaja menghadirkan nama tokoh di dalam bukunya dari nama tumbuhan. Hal ini untuk menumbuhkan minat pembaca pada bidang pertanian. ”Bidang pertanian merupakan sektor yang potensial di Indonesia. Namun, hanya sedikit pelajar yang berminat mengambil studi bidang pertanian. Saya berharap pembaca, terutama pelajar, mulai mencintai bidang pertanian,” katanya.

Komik ini diterbitkan oleh Badan Perpustakaan Daerah Sumut, Januari 2010. Selama proses pembuatan, dia melibatkan dua ilustrator bernama Dodi Pratama dan Azmi Al Zuhri. ”Untuk tahap awal, kami cetak sebanyak 1.000 eksemplar,” kata Kamila yang juga dosen Fakultas Pertanian Universitas Alwasliyah, Medan.

Kendala

Kamila mengakui menghadapi kendala selama proses pembuatan. Salah satu kendala berat adalah belum maksimalnya penggunaan teknologi dalam menggambarkan jalan cerita. Semua proses penggambaran dalam komik dibuat secara manual sehingga membutuhkan waktu yang lama.

Kamila berharap buku ini mampu memacu semangat para animator di Medan untuk membuat karya. Menurutnya, potensi seni animasi di Medan cukup besar. Hal ini terlihat dari banyaknya seniman yang mampu menghasilkan karya bagus namun belum menyalurkan lewatbuku edukatif.

Komik karya Kamila itu mulai menginspirasi pembacanya. Nur Asiah (37), misalnya, merasa menemukan jalan baru untuk mengembangkan bakat anaknnya, Ridha Noor Amalia (8), yang kini duduk di kelas II sekolah dasar. ”Sepertinya saya perlu mengajak anak saya itu bergabung bersama komunitas animasi milik Ibu Mila (panggilan Kamila),” ujarnya.

Dia menceritakan, sejak kecil Ridha gemar menggambar orang atau aktivitas orang-orang. Tidak ada satu pun buku pelajarannya yang bersih dari coretan-coretan tersebut. Makin hari, coretan-coretan Ridha makin sempurna dan mudah dipahami.

Sebagai orangtua, Asiah merasa perlu mendukung bakat anaknya itu. Salah satunya dengan mempertemukan anaknya dengan penggiat atau seniman animasi.

Sumber: Kompas, 24 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan