-->

Kronik Toggle

Pahlawan Kupu-kupu Siap Saingi Harry Potter

MALANG-Masih ingat kisah epik seekor naga dari novel berjudul Eragon? Buku ini mengejutkan dunia, karena ditulis seorang anak bau kencur bernama Christoper Paolini. Sebentar lagi, toko buku di Indonesia akan menyambut novel tak kalah menarik, karya anak SD.

Anak SD itu bernama Nilna Qomara Nurul Husna. Ia masih 12 tahun, dan kini duduk di bangku kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1, Jl Bandung, Malang. Sebentar lagi, Nilna bakal mencoba masuk jajaran penulis berbakat negeri ini. Ia tengah menunggu peluncuran novel buatannya berjudul Butterfly Stories.

“Novel ini menceritakan tentang perjuangan seorang gadis untuk menyelamatkan sahabat kupu-kupunya yang tengah diculik. Ia memakai bando ajaib, sehingga bisa masuk ke dunia kupu-kupu,” cerita Nilna, dengan gaya bicaranya yang kalem, Sabtu (6/2).

Karya Nilna ini ditulisnya sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Bekalnya, hanya imajinasi khas anak-anak. Kenapa harus kupu-kupu? Dari mana inspirasinya? Cecaran pertanyaan Surya ini dijawab Nilna dengan cepat.

“Awalnya, pas jalan-jalan, lihat ada orang pakai kaus bergambar kupu-kupu. Setelah itu langsung kepikiran untuk bikin cerita,” ujar si pelanggan ranking 1 ini yang tinggal di Jl Raya Candi Karangbesuki Sukun itu.

Nilna menang tergila-gila menulis. Setelah belajar dan menyelesaikan PR, ia mulai tenggelam di balik laptop hitamnya. Apa saja akan ditulisnya, mulai cerita pendek hingga puisi. Sesekali, penyuka novel serial Anne ini, juga membaca novel atau cerita-cerita pendek di majalah.

Untuk merampungkan novel pertamanya ini, Nilna menghabiskan waktu satu setengah tahun. Setidaknya, itulah pengakuan ibunda Nilna, Elvi Nur. “Setelah naskah jadi, saya baca, kok menarik juga. Lalu kami coba kirimkan ke penerbit Mizan,” terang Elvi.

Normalnya, lanjut Elvi, penerbit butuh dua bulan untuk menjawab apakah naskah itu layak atau tidak untuk diterbitkan. Namun, tak sampai dua bulan kabar baik itu datang. Sementara itu, Dadan Ramadhan, editor kelompok penerbit Mizan, mengakui, karya Nilna punya daya jual bagus.

“Karyanya unik. Kita sudah punya banyak penulis anakanak yang sudah menerbitkan buku, tapi jarang yang menulis tema dunia imajinasi, seperti dunia kupu-kupu rekaan Nilna ini,” kata Dadan.

Kebanyakan penulis anak-anak, tambah Dadan, menggunakan tema persahabatan antarmanusia. Jarang dari mereka yang berani ‘loncat’ ke dimensi lain. Lagipula, kata Dadan, kemampuan menulis Nilna nyaris lengkap.

“Kami hampir tidak perlu memperbaiki naskahnya. Padahal, banyak penulis cilik yang masih perlu dikoreksi. Rata-rata anak masih lemah dalam memilih variasi kaitan antarkata, atau jalan cerita yang tidak nyambung,” kata Dadan.

Sebelum Nilna ada Putri Salsa bocah 11 tahun asal Lawang yang sudah menerbitkan beberapa seri novel. ■ aji bramastra

*) Dikronik dari harian Surya, 7 Februari 2010

1 Comment

yohanes muryadi - 18. Mar, 2011 -

luar biasa. Semoga semakin banyak penulis cilik mewarnai buku-buku di Indonesia. Kita wajib mengembangkan bakat-bakat mereka.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan