-->

Lainnya Toggle

Matabaru Gerakan Membaca

Oleh Agus M. Irkham

“Tidak ada komunitas
yang melewati persaingan
untuk memperoleh identitasnya”

Goenawan Mohammad

[ 1 ]

Prasyarat bagi suatu bangsa agar dapat maju dan berkembang adalah adanya masyarakat pembelajar. Dan salah satu basis dukungan terpenting bagi pembentukan masyarakat pembelajar adalah masyarakat yang gemar membaca.
Kesadaran demikian naga-naganya semakin dimengerti oleh publik luas.

Rekognisi itu dapat dicandra melalui maraknya gerakan membaca (dan menulis). Baik yang diprakarsai oleh individu, kelompok masyarakat, media, lembaga pemerintahan maupun institusi bisnis. Mulai dari pameran buku yang diselenggarakan lebih dari dua kali dalam setahun di banyak kabupaten dan kota, pelatihan menulis, peluncuran dan diskusi buku, penyelenggaraan lomba menulis, pengoperasian perpustakaan berjalan, munculnya rubrik perbukuan (daftar buku baru, resensi buku, dan kabar di balik dunia perbukuan) di koran, pemilihan duta baca, hingga pendirian perpustakaan warga.

Khusus untuk terakhir disebut, sekarang ini nyaris ada di tiap kabupaten dan kota. Namanya pun macam-macam. Sekadar contoh, ini yang berada di Jawa Tengah: Taman Pintar (Kota Semarang), Rumah Pelangi (Ungaran dan Muntilan), Pondok Baca (Magelang), Rumah Belajar (Wonosobo), Pondok Maos (Kendal), Jala Pustaka (Pekalongan), Mentari Pagi (Blora), Forum Pinilih (Solo), dan Oasebaca (Batang). Dan ikatan yang digunakan untuk menyebut itu semua bukan lagi ”perpustakaan warga” tapi ”komunitas literasi.”

Pamrih yang hendak disasar dari berbagai macam variasi nama komunitas literasi itu adalah agar hambatan psikologis antara masyarakat dengan perpustakaan (tempat banyak buku dihimpun) jadi hilang. Penyebutan ”Pondok Baca” atau ”Taman Pintar” saya kira memang terdengar lebih ramah, bersahabat, lumer, dan mendatangkan kesan nyaman, sekaligus merangkul, dibandingkan ”Perpustakaan”.

Kecenderungan demikian, rupa-rupanya juga tengah terjadi pada komunitas literasi di tingkat yang lebih luas, di belahan propinsi lain di Indonesia. Sekadar menyebut contoh: Rumah Dunia (Serang), Perahu Baca (Tangerang), Rumah Cahaya (Depok), Lentera Kalbu (Pandeglang), Teras Puitika (Banjar Baru), Sanggar Matahari Martapura (Kalimantan), Komunitas Bunga Matahari (Jakarta), Warabal (Bogor), Cahaya Lentera (Bandung), dan Kandangpati (Sumatra).

[ 2 ]

Namun di tengah kemerebakan komunitas literasi tersebut, muncul beberapa persoalan penting. Dari soal definisi komunitas dan literasi, hingga sangkaan keberadaan komunitas literasi yang hanya menjadi skrup dari mesin kapitalisme buku. Terlebih ketika literasi dimaknai dengan melek huruf latin saja dan melulu aktivitas membaca buku.

Padahal ketika makna literasi disamakan dengan buku, risikonya ia akan ikut terimbas pula dengan masalah yang dihadapi dunia perbukuan itu sendiri, baik dari sisi produksi, terlebih segi distribusi.

Oleh karena itu sebelum saya berbicara lebih jauh tentang seberapa besar dan penting peran yang telah dimainkan Komunitas Literasi dalam gerakan membaca (dan menulis) di Indonesia, ada baiknya Anda akan saya ajak terlebih dahulu untuk memahami arti komunitas dan literasi itu sendiri. Pemahaman terhadap simpul-simpul penanda kedua lema atau entri itu penting, agar Anda tidak tersesat.

Saya mulai terlebih dahulu dengan lema pertama, yaitu KOMUNITAS.

”Komunitas adalah sekelompok orang yang peduli satu sama lain lebih dari yang seharus,” Jelas Putu Laxman Pendit dalam bukunya Mata Membaca, Kata Bersama.

”Sehingga terjadi relasi pribadi yang erat antar anggotanya karena kesamaan interest atau values.”

Dengan kata lain komunitas adalah suatu bentuk identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional. Kekuatan pengikat suatu komunitas, terutama, adalah kepentingan bersama dalam memenuhi kebutuhan sosialnya yang umumnya didasarkan atas kesamaan latar belakang budaya, sosial, dan hobi.

Itu komunitas, bagaimana halnya dengan LITERASI?

Secara harfiah literasi bermakna melek huruf (literate). Sedangkan secara istilah, seperti yang pernah diungkap Body dan Luke (2003): Literasi mencakup semua kemampuan yang diperlukan oleh seorang atau sebuah komunitas untuk ambil bagian dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan teks dan wacana (diskursus). Menjadi orang yang literate berarti menjadi orang yang mampu berpartisipasi secara aktif dan mandiri dalam komunikasi tekstual, termasuk dalam komunikasi menggunakan media cetak, visual, analog, dan juga media digital.

Dengan deskripsi yang berbeda: Literasi tidak semata-mata mencakup persoalan membaca dan menulis, namun bergandengan pula dengan aspek lain, seperti ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sejarah, teknologi, gaya hidup, dan sebagainya.

Semula literasi diartikan sebagai kemelek-hurufan. Menurut Ignas Kleden dalam esai berjudul Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Politik tentang Kebudayaan yang kemudian dihimpun dalam buku suntingan Alfon Taryadi, Buku dalam Indonesia Baru (1999), melek huruf itu adalah tiga kategori.

Pertama, melek huruf teknis (performative). Yaitu mereka yang tergolong secara teknis dapat membaca tetapi secara fungsional dan secara budaya sebetulnya buta-huruf. Penyebabnya bisa karena jarangnya bahan bacaan, atau sifat pekerjaan mereka yang menyebabkan tidak punya waktu untuk mempraktikan kemampuan membaca yang dimiliki. Jadi hanya sekadar melek huruf belaka.

Kedua, melek huruf fungsional (fuctional). Yaitu mereka yang tergolong membaca dan menulis sebagai fungsi yang harus dijalankan karena konsekuensi pekerjaan. Akan tetapi, sangat kurang sekali menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan untuk berkomunikasi dan berekspresi. Jadi ketika Anda misalnya memiliki kebiasaan membaca, namun teks (buku) yang dibaca hanya melulu yang berkaitan dengan pekerjaan atau profesi Anda, maka dengan berat hati saya katakan Anda memang telah melek huruf teknis dan fungsional, tapi secara budaya masih buta huruf.

Ketiga, melek huruf budaya (informational-epistic). Yaitu orang-orang yang di samping mempunyai kesanggupan baca-tulis secara teknis dan fungsional, ia menjadikan pula baca-tulis sebagai kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan membaca dan menuliskan hal-hal yang tidak hanya terbatas pada pekerjaan. Dalam kategori ketiga ini, kebutuhan untuk mendengar dan berbicara tidak selalu lebih besar dari kebutuhan untuk membaca dan menulis.

Untuk mengetahui apakah secara budaya Anda tergolong sudah melek huruf atau sebaliknya, adalah dengan cara bertanya pada diri Anda sendiri: Apakah saya telah menulis surat pribadi—surat pembaca ke media, surat untuk teman, keluarga, dan kerabat dekat, menulis diary—secara rutin?

Apakah setiap bulannya saya telah menganggarkan sekian persen dari gaji untuk membeli buku? Apakah saya sudah menjadikan baca-tulis sebagai kebutuhan hidup sehari-hari, dengan membaca dan menuliskan hal-hal yang tidak hanya terbatas pada pekerjaan?

Jika jawaban atas serangkaian pertanyaan tersebut adalah: Tidak! Maka sejatinya Anda masih tergolong buta (huruf secara) budaya.

Peta kategori melek huruf yang dibentangkan Ignas Kleden di atas sekaligus menegasi pandangan umum bahwa literasi itu bermakna kemelek-hurufan. Lantas, kata apa yang tepat untuk menerjemahkan entri literasi itu?

KEBERAKSARAAN. Ya sekali lagi keberaksaraan. BUKAN kemelek-hurufan. Karena kemelek-hurufan hanya menyangkut kemampuan seseorang dalam hal baca tulis secara teknis belaka. Padahal, selaras dengan pandangan Body dan Luke keberaksaraan tidak hanya itu, tapi melingkupi segi-segi fungsional dan budaya.

Mengartikan literasi sebagai kemelek-hurufan juga dapat berakibat terjadinya anomali melek huruf. Sebagai contoh, secara nasional, tahun 2007 tak kurang dari 10,1 juta orang mampu dientaskan dari kegelapan aksara. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, rerata kurang dari 1,7 juta orang. Dengan demikian angka melek huruf Indonesia sekarang ini lebih dari 90 persen. Jauh di atas rerata negara berkembang yang hanya 69 persen. Meskipun anga melek huruf tinggi, pada saat yang sama tingkat kemiskinan di Indonesia juga masih tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik per Maret 2007 saja, angka kemiskinan di Indonesia lebih dari 17 persen atau lebih dari 40 juta jiwa. Padahal dalam berbagai publikasi riset literasi, ada linearitas antara melek aksara tinggi dengan perbaikan kehidupan ekonomi. Seperti yang pernah di lansir UNESCO dalam laporan tahunannya berjudul Literacy for Life.

Anomali itu terjadi lantaran pusat perhatian program literasi yang hanya tertuju pada teknis, bukannya pada fungsi, dan budaya. Ukuran kesuksesan yang digunakan adalah pada saat seseorang telah mengenal huruf, dan dapat mengeja kata. Bukan pada pemanfaatan kemampuan membaca itu, dan bagaimana posisi aktivitas membaca itu dalam jelujur waktu hidup keseharian (life style) seseorang. Jadi yang dikejar hanya melek aksara secara alfabetis. Padahal pengertian itu lazimnya hanya berguna untuk keperluan penghitungan teknis statistik belaka.

Melek aksara secara teknis tidak akan banyak membantu masyarakat untuk survive—dalam pengertian harfiah dan mendasar yaitu melawan kelaparan bukannya kemiskinan—jika tidak disertai pula dengan kemampuan melek aksara (keberaksaraan) secara fungsional. Pengetahuan tentang sesuatu (declarative knowledge) tidak cukup, masyarakat harus pula memunyai pengetahuan melakukan sesuatu (procedural knowledge).

[ 3 ]

Situasi seperti apa yang memicu munculnya beragam komunitas literasi? Apa yang hendak dicari/tujuan dari pembentukan komunitas literasi tersebut?

Paparan berikut adalah jawaban atas pertanyaan itu.

Buku tak pernah sendiri. Ia senantiasa berkumpul dengan buku lainnya. Baik secara fisik, yang tertata di rak buku, perpustakaan, dan toko buku, maupun secara substansial (isi). Maka benar jika ada yang mengatakan buku yang terbit saat ini, sejatinya merupakan hasil pembacaan atas buku yang terbit di masa lalu. Sejak kelahirannya, buku tak pernah sendirian. Setiap buku selalu lahir bersama, dan melahirkan buku-buku lainnya.

Tidak ada satu pun buku di dunia ini yang berdiri sendiri. Ia selalu menjadi bagian dari buku lainnya. Kita cenderung mengait-kaitkan/menggandengkan isi buku satu dengan lainnya. Adalah tugas penulis untuk mencari, dan menemukan ragam ucap dan ekspresi kebahasaan yang berbeda (baru) atas satu subjek pembahasan yang sama. Itu sebab dalam dunia perbukuan muncul istilah buku berbalas buku.

Sebagaimana lahirnya suatu teori: tesis, antitesis, sintesa. Demikian pula buku. Dengan begitu, buku yang lahir saat ini, merupakan himpunan upaya manusia mencari kebenaran suatu teori, dalam tingkat yang lebih tinggi. Lahirnya suatu buku bukanlah sesuatu yang sudah jadi/final/selesai. Melainkan sedang menjadi (becoming). Maka jangan heran, di waktu bersamaan, ada sementara pihak yang fanatik terhadap satu buku, tapi ada juga yang mengharamkannya. Karena dinilai sebagai bentuk pemaksaan secara halus (hegemoni) satu kelas (ideologi) kepada kelas (ideologi) lainnya.

Ada tiga nilai dasar yang harus dipahami dari kenyataan buku yang tak pernah sendiri itu. Pertama, buku memunyai nilai di luar bentuk fisiknya. Bukti yang paling bisa dilihat dari value ini adalah, penataan buku di rak buku. Mereka tidak diletakkan berdasarkan ukuran fisik (tebal-tipis, panjang-pendek, lebar-sempit), tapi berdasarkan kesamaan isi. Mereka memunyai hak yang sama untuk didaras.

Kedua, ketika satu buku diterbitkan, maka sudah dengan sendirinya membawa serta dekontekstualisasi suatu teks. Artinya tiap pembacanya memunyai kebebasan menentukan cara pembacaan dan pemberian makna terhadap buku itu. Termasuk pilihan untuk tidak membacanya.

Ketiga, munculnya perpustakaan sebagai bentuk konsekuensi nyata perpanjangan alamiah dari upaya terus menerus memperbesar himpunan buku (kumpulan dari kelompok-kelompok buku—terciptanya berbagai bentuk data, informasi, dan pengetahuan— yang saling bertalian satu sama lain).

Mengingat perpustakaan, awalnya merupakan wadah bagi buku yang tak pernah sendiri, otomatis ia menjadi lembaga yang bersifat terbuka pula. Terbuka bagi pembaca buku yang memunyai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, minat dan ketertarikan berbeda. Semua orang memunyai kesempatan yang sama dalam membaca hal yang, baik berbeda maupun sama.

Dari sinilah mulai muncul gerakan minat baca (dan tulis) dari komunitas literasi. Basis gerakan komunitas literasi biasanya bermula dari pembentukan perpustakaan. Hingga disebut sebagai perpustakaan komunitas. Perpustakaan komunitas adalah gerakan keberaksaraan yang berpamrih menghilangkan batas antar anggota masyarakat dalam membaca. Serta mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai tempat di mana seseorang dapat memperoleh kembali haknya untuk membaca buku yang ingin dibacanya. Pada titik ini, perpustakaan komunitas hendak mengembalikan kemerdekaan fungsi dan peran perpustakaan itu sendiri.

[ 4 ]

Meskipun target groups atau kelompok sasaran tiap-tiap komunitas literasi berbeda-beda, namun mayoritas menjadikan remaja dan golongan muda sebagai kelompok sasaran. Mulai dari pelajar SMP hingga mahasiswa. Jika sebelumnya kendala terbesar dalam memarketingkan (minat baca) buku adalah kemiskinan; tidak ada waktu senggang akibat bekerja di sektor kasar; tingkat pendidikan yang rendah; dan akses ke buku yang sulit; baik kualitas maupun kuantitas, maka sekarang ini kendala yang dihadapi—dalam konteks kehidupan anak muda sekarang dan perkembangan teknologi informasi yang sedemikian maju—jadi agak sedikit berubah.

Kini, kegiatan membaca harus bersaing dengan televisi, game (online), film, animasi, musik, kuliner, bermain, nongkrong-ngobrol, situs jejaring sosial, dan jalan-jalan (traveling)—yang dalam disiplin studi budaya disebut sebagai ikon budaya pop.

Karena situasi dan kondisi yang dihadapi berubah, maka strategi, pola, dan bentuk gerakan keberaksaraan yang dilakukan komunitas literasi pun berubah. Dan efektifitas program keberaksaraan sekarang ini, tergantung pada kelincahan dan kecerdikan para penggiatnya untuk membonceng atau menindih beragam aktivitas yang disebut sebagai ikon budaya pop itu. Inilah yang saya maksud sebagai mata baru gerakan membaca. Gerakan memasyarakatkan minat baca tidak melulu dijalankan melalui pola-pola linear (dari content ke context). Tapi juga mengikuti arketipe bersifat lateral (dari context ke content).

Berikut adalah beberapa contoh yang bisa saya ajukan:

KOMUNITAS INDOHOGWART

IndoHogwart merupakan komunitas penggemar (novel) Harry Potter. Mereka, kebanyakan anak usia SMA, dan mahasiswa. Mereka membangun sebuah sistem game online berupa permainan karakter dalam bentuk tulisan. HP hanya digunakan sebagai pintu masuk, setelah itu mereka tinggalkan. Sebagaimana kita tahu bahwa Hogwarts adalah nama sekolah sihir-nya Harry Potter. Karena itu, “dunia sihir” di dalam komunitas ini pun diatur sedemikian rupa agar setiap orang dapat berkompetisi dan memacu adrenalin untuk terus menulis dan menulis lagi. Mengembangkan kemampuan dalam bidang penulisan kreatif.

Harapan terjauh dari game online ala Komunitas IndoHogwart adalah menghasilkan cerita (novel) yang bisa diterbitkan.Persis bunyi tagline mereka: Empowering, Netwriting and Get Value. Jadi game online mereka tempatkan sebagai cara mereka belajar menulis. IndoHogwart merupakan representasi komunitas literasi generasi kedua yang naga-naganya akan mendominasi bentuk dan arah gerakan komunitas-komunitas literasi di masa mendatang.

Tidak hanya game online. Mereka juga bermain Quidic(?) layaknya HP. Dengan bermodalkan sapu lidi yang dikempit, mereka berlari kesana-kemari disertai senyum lebar, dan suara ketawa yang keras. Mereka “mempratikkan” apa yang mereka baca. Dengan begitu membaca menjadi aktivitas sangat menyenangkan sekaligus menjadi “magnet” tersendiri buat orang lain untuk masuk, menjadi anggota komunitas.

KOMUNITAS HISTORIA

Tentang Komunitas Historia (Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia), kebetulan saya mempunyai cerita menarik. Sabtu pagi, 26 April 2008 saya berkesempatan mengikuti Jakarta Trail Exploring Jakarta Heritage. Bersama kurang lebih 50 orang lainnya yang dibagi dalam empat kelompok, saya diajak menyusuri Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Taman Fatahilah, PT. Pos Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik. Tiap kelompok ditemani oleh dua orang pemandu. Dari tuturan dua orang pemandu itulah, saya tidak saja dikenalkan dan melihat beragam situs bersejarah, tapi juga menjadi tahu sejarah/cerita di balik artefak tiap-tiap situs. Jadi, sumber keasyikan bukan hanya dari terbukanya kesempatan berfoto-foto ria, lebih penting dari itu, tahu ceritanya.

Acara yang digagas Komunitas Historia dalam rangka World Book Day 2008 itu sungguh menarik. Tak kalah menarik—masih dengan Komunitas Historia—malamnya saya mengikuti Jakarta Night Trail bertajuk Wisata Malam Kota Tua Jakarta. Bersama rombongan yang lebih besar lagi, sekitar 120-an orang, saya diajak menguak sejarah kota di kegelapan serta menelusuri jejak yang tersembunyi di dalam gedung tua. Kali ini rute perjalanan bermula dari Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Gedung Toko Merah, Jembatan Kota Intan, hingga Kawasan Kali Besar. Tiap tempat menyimpan ceritanya sendiri.

Traveling sejarah dapat dijadikan sarana untuk mengkonfirmasi atas apa-apa yang pernah dibaca berkaitan dengan suatu situs sejarah tertentu. Atau sebaliknya, memberikan bekal kepada para eksponennya untuk mencari kelengkapan penjelasan dari artefak sejarah itu melalui teks (buku). Selain itu, Komunitas Historia juga mendokumentasikan temuan-temuan mereka saat meng-explore suatu situs sejarah. Dokumen itu ada yang dalam bentuk foto, video, dan teks (tertulis). Dan semua bentuk dokumen itu bisa menjadi bahan atau materi sangat berharga ketika, misalnya akan menulis buku tentang (kajian) sejarah.

Ide dasar didirikannya Komunitas Historia sebenarnya sebagai upaya dalam membentuk wahana belajar kaum muda dalam mencari format dan strategi bagaimana sesungguhnya menjadikan sejarah dan budaya itu menjadi objek yang menarik, menyenangkan, dan bermanfaat. Kemudian, muncullah konsep kegiatan yang “rekreatif, edukatif dan menghibur” sebagai strategi utama Komunitas Historia dalam mengembangkan pola pikir masyarakat terhadap sejarah dan budaya sehingga tercipta suasana yang menyenangkan, enak dan membekas di hati mereka.

Kalau biasanya mereka membenci sejarah dan menganggap sejarah itu membosankan, garing, ngebetein, bikin ngantuk dan seribu ejekan lain, maka dengan bergabung di dalam Komunitas Historia, mereka akan menemukan tempat dimana mempelajari dan mencintai sejarah dan budaya itu tanpa paksaan dan apa adanya. Sejarah menjadi sesuatu yang gaul dan enak dikonsumsi. Kondisi demikianlah yang dikenal sebagai kesadaran sejarah.

KOMUNITAS PASAR BUKU

Adalah Wien Muldian yang pertama kali menggagas Komunitas ini. Pada awal berdirinya, sekitar Agustus 1998, KPB meliputi toko buku diskon, direct selling, klub buku, jaringan perbukuan, situs perbukuan, toko buku online, media perbukuan, program acara perbukuan, konsultasi dan informasi perbukuan. Namun sejak tahun 2004, seiring semakin meningkatnya pengguna internet, terutama e-mail, di Indonesia, KPB lebih fokus-menempatkan diri sebagai wadah bagi bertemunya para stakeholders dan shareholders perbukuan, atau lebih tepatnya keberaksaraan. Mulai dari pembaca, penulis, toko buku, editor, penerbit, distributor, penerjermah, penggiat perbukuan. Jalinan komunikasi berlangsung secara maya atau melalui mailinglist.

Kini, anggota milis pasarbuku tercatat sekitar 10.000 orang, dengan anggota aktif 7.000 orang. Mereka berasal tidak saja dari Indonesia, tapi juga dari luar negeri. Sesuai dengan namanya “pasarbuku” di milis isinya bermacam-macam. Mulai dari penawaran naskah buku, permintaan naskah, jual-barter buku, informasi lowongan pekerjaan di penerbitan, jadwal pameran buku, peluncuran suatu buku, rangkaian acara kampanye membaca hingga diskusi hangat tentang satu judul buku, kualitas penerjemahan, dan kontroversi relasi penerbit-penulis.

Menariknya, para eksponen KPB hampir tidak pernah bertemu secara langsung atau lazim disebut kopdar (kopi darat). Semuanya komunikasi berlangsung secara online.

“Komunitas ini terus bergerak untuk membuat perubahan,” Terang Wien saat diwawancarai majalah UMMI. “Baik di dalam komunitas itu sendiri, maupun di masyarakat.” Tambah Wien yang pada tahun 2006 menjadi satu dari duapuluh Pemuda Indonesia yang Mengukir Sejarah versi Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga RI. Titik tuju KPB, menurut keterangan Wien, bukan hanya sekadar membuat orang menyukai kegiatan membaca. Tapi bagaimana dengan kegemaran membaca itu, seseorang bisa membuat kehidupannya menjadi lebih baik.

KPB juga memunculkan kecenderungan baru dalam proses produksi buku.

Yaitu tidak lagi memerlukan pertemuan fisik antara penerbit, editor, dengan percetakan dan penulis. Dengan demikian proses produksi pun jadi hemat dan sangkil. Lantaran komunikasi, seluruhnya dapat diselenggarakan secara online. Ada banyak buku (dan penulis) yang lahir, bermula dari milis KPB. Sekarang ini Komunitas Pasar Buku menjadi komunitas online yang paling mapan dan populer. Kehadirannya pun telah banyak menginspirasi orang untuk membuat komunitas literasi online lainnya Komunitas literasi yang berbasis pada penggunaan e-mail (mailing list)

TOBUCIL and KLABS

Sesuai dengan namanya TOko BUku keCIL, komunitas literasi ini bermula dari pendirian toko buku kecil di Bandung. Karena milik komunitas, TOBUCIL disebut pula sebagai Toko Buku Komunitas. Biasanya, mengingat skala ekonominya kecil, TOBUCIL tidak ditempatkan sebagai profit centre, melainkan murni menjadi tempat belajar bersama.

Yang disasar adalah anggota komunitas, yang tentu saja lebih mengedepankan aspek pertemanan, persahabatan, dan kedekatan personal. Dengan kata lain, TOBUCIL mencoba memanfaat kecenderungan para remaja dan anak muda Bandung suka ngumpul, dan ngobrol bareng. TOBUCIL melakukan sedikit modifikasi. Kalau semula yang diobrolkan adalah sesuatu yang tidak jelas, sekarang ada tema khusus obrolan yang sebelumnya telah disepakati. Misalnya ngobrol bareng tentang isi suatu novel, peluncuran album musik baru oleh suatu kelompok band, atau tema-tema keseharian yang dekat dengan mereka.

Nah untuk mengikat para anggotanya, baik fisik berupa kehadiran maupun emosional (agar tambah akrab, dan memiliki rasa butuh dan memiliki) TOBUCIL menyusun program pendamping. Dengan sesanti: Literacy in Your Everyday Life. Dikembangkanlah klab-klab kecil berdasarkan minat, hobi dan kebutuhan. Dari mendesain kartu ucapan hingga merajut. Dari madrasah falsafah hingga klab melipat kertas. Dari pelatihan menulis novel hingga tips presentasi bisnis.

Sistem “belajarnya” pun disusun serapih mungkin. Misalnya dari sisi waktu, ada jadwal khusus. Agar ada kebaruan, saat klab menulis misalnya, pengurus komunitas mendatangkan instruktur dari luar. Dan sebagainya. Jadi oleh TOBUCIL, buku dijadikan pintu masuk untuk melaksanakan program-program keberaksaraan yang memiliki spektrum lebih luas.

[ 5 ]

Paparan saya di atas mengenai perubahan situasi dan kebutuhan kelompok sasaran, serta kecenderungan bergesernya pola gerakan komunitas literasi—jika dikaitkan upaya mengoptimalkan fungsi, peran, dan layanan perpustakaan pemerintah, baik yang berada di kabupaten/kota maupun propinsi—merekomendasikan dua sikap penting.

Pertama, perpustakaan pemerintah harus membuka diri untuk bekerjasama dengan komunitas literasi. Bekerjasama dalam hal: menggagas dan menelurkan program-program kreatif keberaksaraan. Mengingat tujuan dari keduanya adalah sama: menciptakan masyarakat yang mencintai kegiatan membaca, maka segala bentuk sak wasangka antar keduanya harus segera diakhiri. Bentuk sak wasangka itu misalnya, perpustakaan pemerintah memandang para penggiat komunitas literasi sebagai petualang; memanfaatkan perpustakaan untuk mencari keuntungan (finansial) pribadi; cenderung menerabas, tidak taat aturan birokratis; program kerjasama yang ditawarkan lebih banyak dipandang sebagai kedok untuk mencari ketenaran, dan mempertebal kantung saku sendiri.

Sedangkan sak wasangka yang terlontar dari komunitas literasi: perpustakaan pemerintah lebih banyak digerakkan oleh orang-orang yang justru tidak mencintai kegiatan membaca; memiliki motivasi yang rendah dalam bekerja; terlalu fokus pada masalah (gelas setengah isi disebut setengah kosong), sehingga lupa untuk segera mencari solusi; cenderung menciptakan jarak dengan pemustaka; terlalu taat terhadap prosedur teknis dan abai terhadap siasat substantif; tidak sensitif terhadap perubahan dan tuntutan kebutuhan masyarakat (pemustaka).

Kedua, perpustakaan pemerintah hendaknya mau mengadopsi pola gerakan dan strategi memasarkan program keberaksaraan yang dilakukan komunitas literasi. Termasuk menyangkut sikap (attitude). Apa pasal? Karena sekarang ini telah terjadi pergeseran sistem simpan dan temu-kembali, yang semula manual (katalog, koleksi, dan pelayanan berbasis atom/kertas) berubah menjadi digital/otomasi (berbasis image/byte/sistem komputer—library 2.0)

Ciri paling kentara dari library 2.0 adalah terjadinya relasi interaktif, multi arah, dan partisipatif antara pengguna dan pustakawannya, serta sistem kerja dan koleksi yang bersifat kolaboratif (dari banyak sumber) nan dinamis. Library 2.0 mensyaratkan adanya pustakawan yang melek teknologi, bersahabat (friendly), mau berbagi, gaul, menjadi bagian dari jamaah facebook-iyah, prigel menulis, sekaligus narsis. Dalam logika library 2.0, upaya ”menjual” citra diri berada dalam satu tarikan nafas dengan tujuan memasarkan perpustakaan. Oleh karenanya tiap pustakawan “wajib hukumnya” memunyai blog atau website pribadi.

Ketiga, para para kerani perbukuan partikelir dan penggiat komunitas literasi harus masuk ke perpustakaan pemerintah dan rela memosisikan diri sebagai jembatan. Yaitu jembatan yang akan menghubungkan antara masyarakat pembaca (khususnya pemustaka), perpustakaan, dan stakeholders literasi lainnya. Misalnya melalui program-program kreatif yang dirancang berjalan secara reguler: ketemu penulis, peluncuran buku, pelatihan menulis buku, pelatihan meresensi buku, workshop penulisan skenario sinetron dan film, klinik fotografi, klab bahasa asing, belajar musik klasik, menghelat bedah buku, meluncurkan program Sahabat Perpustakaan (Friends of Library), menggagas program pustaka di radio, dan program-program keberaksaraan kreatif lainnya yang sejenis dengan itu.

Dengan demikian posisi para kerani perbukuan dan penggiat komunitas literasi menjadi demikian jelas. Yaitu turut memfasilitasi dan membuka ruang partisipasi seluas-luasnya kepada masyarakat dalam penguatan budaya baca. Pada saat yang sama turut serta juga meningkatkan kapasitas perpustakaan pemerintah. Memberikan advokasi dan menambah bobot posisi tawar perpustakaan ketika berinteraksi dengan institusi layanan publik (pemerintah) lainnya. Begitu.

*) Penulis adalah Pegiat Forum Indonesia Membaca (FIM).

**) Esai ini secara khusus dirakit sebagai pengantar diskusi pada Worksop Pemasyarakatan Perpustakaan dan Pengembangan Minat Baca. Diselenggarakan oleh Badan Arsip dan Perpustakaan Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 26 November 2009. Bertempat di Aula Gedung UPT Perpustakaan Daerah, Jl. Siliwangi 29A Semarang.

Sumber: www.kubukubuku.blogspot.com

3 Comments

sugeng ponorogo - 05. Feb, 2010 -

buka wacana dngn membaca!!!

tarlen - 01. Jul, 2010 -

tidak sengaja menemukan tulisan ini, terima kasih ya sudah membahas tobucil di sini, tulisannya secara keseluruhan juga menjadi referensi saya untuk mengembangkan program-program tobucil selanjutnya. salam hangat dari jalan aceh 56 bandung 🙂

agus irkham - 26. Jul, 2010 -

membaca tulisan di Jawa Pos berjudul Gerakan Keberaksaraan oleh Mursyid Burhanuddin, general manager PT JePe Press Media Utama,

http://jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&nid=146972

jelas banget kalau sebagian besar adalah copas dari tulisan ini. Prihatin banget deh..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan