-->

Lainnya Toggle

Malcolm Gladwell Berbagi Pengalaman Menulis

Dari beberapa wawancara, Malcolm Gladwell, penulis buku What The Dog Saw dan tiga buku lainnya (The Tipping Point, Blink dan Outliers—ketiga-tiganya best-seller internasional yang mengantarnya sebagai penulis non-fiksi kenamaan), bercerita tentang pengalamannya sebagai penulis.

Agar kisah menulisnya mudah diteladani, saya merinci hasil wawancara tersebut (tentu yang mewawancarai orang lain, bukan saya) dalam beberapa kiat. Moga-moga kiat yang saya rinci ini tidak melenceng dari yang sebenarnya ingin disampaikan Gladwell. Saya mencoba memahami bagaimana Gladwell bercerita tentang dirinya, sebagaimana Gladwell membiarkan narasumbernya bercerita padanya. Berikut ini Gladwell berbagi pengalaman tentang menulis. Selamat membaca.

1. Biarkan orang lain bercerita
“Satu hal yang telah saya pelajari dari sepanjang tahun saya di The Washington Postadalah bagaimanakah reportase sosial itu. Reportase sosial benar-benar berbicara kepada orang, mendapati orang-orang bercerita kepada Anda tentang sesuatu. Hal itu akan menjadi cara paling efisien dan berguna untuk menemukan sesuatu yang baru dan menarik. Anda harus menyingkap diri Anda sendiri sebisa Anda seperti beberapa orang yang menarik. Tidak ada jalan pintas untuk jenis proses tersebut.”

2. Menulislah dengan jelas, jernih dan elegan.
“Jika seseorang tidak memahami apa yang Anda tulis, segala yang Anda lakukan itu tidak berguna. Tidak relevan. Jika pembaca yang berpikir dalam dan penuh keingintahuan menemukan bahwa yang saya tulis tidak dapat dicerna mereka, saya telah gagal. Pujian terbesar saya adalah ketika seseorang menemui saya untuk berkata, “putri saya yang berumur 14 tahun atau putra saya yang berumur 12 tahun membaca buku Anda dan mereka menyukainya”. Saya tidak dapat merasakan pujian yang lebih besar dari itu—untuk menulis sesuatu yang orang dewasa merasa puas, tetapi juga yang menjangkau anak usia 13 atau 14 tahun. Itu model saya, dan jika itu model Anda, Anda harus menulis dengan cara yang dapat diterima. Menulis dengan jelas itu universal. Orang berbicara tentang menulis kepada para hadirin, saya kira itu nonsense. Jika Anda menulis dengan suatu cara yang membuat tulisan itu jelas, jernih, dan elegan, tulisan itu akan menjangkau siapapun. Tidak ada ide yang tidak dapat dijelaskan kepada anak usia 14 tahun. Jika anak usia 14 tahun tidak bisa menerimanya, itu kesalahan Anda, bukan kesalahan anak itu. Saya kira itu fakta yang sangat penting.”

3. Keingintahuan yang tinggi: membuat ruwet lalu menyederhanakan kembali.
“Saya seorang yang ingin tahu. Saya diseret pada ide yang penjelasannya banyak yang lebih menarik dan kompleks daripada yang saya kira. Gagasan tersebut mengalir melalui banyak tulisan saya, dan saya selalu tertarik dalam semacam keadaan yang meruwetkan sebelum saya menyederhanakannya lagi. Saya ingin agak membuat hal itu sedikit lebih kompleks hanya karena hal itu menarik dan menyenangkan, dan saya selalu berpikir, kita secara prematur menyederhanakan banyak fenomena yang berbeda. Semacam latihan yang sangat menyenangkan, karena kemudian Anda berurusan dengan semua bidang dimana Anda dapat menggali di sekitar bahan yang sebagian besar orang tidak benar-benar tahu tentang hal itu. Hal itu sangat cocok dengan saya, dan banyak kesenangan bermain detektif yang tidak bisa saya tolak.”

4. Percayalah dengan gagasan sendiri.
“Sebagai penulis, Anda tidak bisa mengontrol –Anda juga tidak ingin mengontrol—bagaimana orang lain menafsirkan hasil kerja Anda. ketika saya melihat seseorang yang membaca tulisan saya dan menggambarkan sesuatu yang sangat berbeda dari perspektif saya, saya kira hal itu benar-benar semacam ketenangan. Maksud saya, kadang-kadang bisa mencemaskan ketika Anda merasa mereka salah menafsirkan dengan buruk, tetapi hanya dengan mengatakan bahwa mereka sedang berpikir dan mereka sedang membawa tafsir mereka untuk berhubungan dengan tulisan saya, dan mereka segera berbeda dari Anda dari waktu ke waktu. Itu adalah bagian dari sesuatu yang sangat bagus tentang mengungkapkan kata pada dunia, dan jika saya khawatir tentang hal itu, saya tidak bisa menjadi penulis.”

5. Bermain-main dengan teori dan fakta—sebelum sampai pada kesimpulan.
“Saya pikir saya akan mendorong orang-orang untuk suka bermain dengan teori dan fakta. Saya ingin mereka akan melihat sesuatu, sejumlah cara yang berbeda dan mempertimbangkan dalam pikiran mereka dan bermain dengannya sebelum mereka menentukan kesimpulan.”

6. Sebagaimana pekerjaan lain, menulis butuh kerja keras.
“Ya, ini sesuatu yang agak menyederhanakan: Anda harus bekerja keras luar biasa untuk menjadi sukses dan hal itu tidak pernah berakhir. Orang berpikir jika Anda adalah penulis sukses, menulis akhirnya datang lebih mudah pada Anda. Faktanya, dalam beberapa hal itu berarti lebih keras. Tidak soal dalam bidang apa Anda berada, Anda perlu membuat yakin bahwa pekerjaan Anda sedang tumbuh dan berkembang. Saya tidak ingin buku baru ini (Outliers) menjadi salinan dari Blink atau The Tipping Point, sehingga saya harus sungguh-sungguh mendorong diri saya sendiri. Saya tidak menghitung, berapa jam yang saya habiskan untuk penelitian atau berapa banyak draft yang saya buat. Jika ada satu kunci bagi kesuksesan saya, itu adalah bahwa sekarang saya bekerja lebih keras daripada yang telah saya lakukan ketika saya berumur 24 tahun.”

7. Menulis sebagai kegiatan otonom.
“Saya tidak pergi ke kantor, saya menulis di rumah. Saya suka menulis pada pagi hari, jika itu mungkin. Itulah ketika pikiran saya dalam keadaan paling segar. Saya mungkin menulis untuk beberapa jam, dan kemudian saya keluar untuk makan siang dan membaca koran. Kemudian saya menulis sedikit lebih lama jika saya bisa, kemudian pergi ke perpustakaan atau menelpon. Setiap hari agak berbeda. Saya bukan seorang yang suka rutinitas, sehingga saya menghabiskan banyak waktu untuk keluyuran di sekitar kota New York dengan laptop di tas, memikirkan dimana saya akan mengakhiri waktu selanjutnya. Itu adalah gaya hidup ideal bagi beberapa orang yang suka menulis.”[]

*) Dikronik dari catatan Abu Bakar Fahmi di facebook, 22 Februari 2010 dengan judul asli Malcolm Gladwell sebagai Model : Berbagi Pengalaman Menulis

1 Comment

bambang haryanto - 06. Des, 2010 -

Malcolm Gladwell adalah salah satu penulis favorit saya. Lainnya Seth Godin, juga Chris Anderson. Saya sudah membaca The Tipping Point, juga Blink yang terbeli di Changi,2005 saat jadi suporter timnas Indonesia di Piala Tiger 2004.Tipsnya tentang menulis untuk pembaca usia 14 tahun, sungguh membanting visi saya untuk merevisi kecongkakan-kecongkakan saya dalam menulis hingga saat ini. Tks, Malcolm !

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan