-->

Lainnya Toggle

LASMI,NUSYA KUSWANTIN

DARI REDAKSI

LASMIJudul                     : Lasmi

Penulis                 : Nusya Kuswantin

Penerbit              : Kaki Langit Kencana, Prenada Media Group

Cetakan               : 1, November 2009

Tebal                     : viii+232hlm; 11,5 x 19 cm

ISBSN                    : 978-602-8556-19-4

Lasmi, perempuan desa itu membaca Di Bawah Bendera Revolusi-nya Bung Karno, Habis Gelap Terbitlah Terang-nya Kartini, juga novel-novel Pujangga Baru. Ia terpesona gagasan Bung Hatta tentang koperasi dan menyukai gagasan Bung Karno tentang negeri ini. Sutikno terpesona Lasmi pada aktivitasnya, pikirannya yang progresif, dan caranya berargumentasi. Meraka kemudian menjalani kehidupan sebagai dua orang berpikiran terbuka, progresif, maju dan membangun rumah tangga ideal a la aktivis pergerakan era 60-an.

Lasmi adalah seorang pecinta buku. Ia merintis Kerukunan Belajar Bersama hingga memiliki semacam perpustakaan yang antara lain diisi dengan buku-buku hasil karya warga desa sendiri. Yang ditulis dengan tangan dan berisi tentang apapun. Mulai dari seluk beluk bercocok tanam, hingga dongeng pengantar tidur. Untuk anak-anak, ia dirikan TK Tunas. Disana ia mengajar dengan semangat perubahan paradigma warga desa sedari usia dini.

Sekira tahun 1963, ketika Presiden Soekarno sedang getol menyerukan permusuhan dengan Negara tetangga, Malaysia, Lasmi mengambil keputusan penting: Menggabungkan Taman Kanak-kanaknya ke dalam Yayasan Melati dan sebagai konsekuensinya, Lasmi resmi mejadi anggota Gerakan WanitaIndonesia (Gerwani).

Di depan Taman Kanak-kanaknya kini ada tiga papan nama berjajar: TK Melati, Gerwani, dan Barisan Tani Indonesia (BTI). Aktivitas Lasmi pun berkembang. Ia tak hanya mengajar anak-anak, tapi mulai menggalang petani dan warga kampung untuk bergabung dalam BTI dan Gerwani. Ia membuat terobosan-terobosan pemikiran diantara masalah-masalah warga. Ia membuka ruang-ruang dialog antar warga. Ia mengikuti pelatihan dan pengkaderan. Hingga ia memiliki 5 anggota andalan yang suka membaca, bisa menulis, mampu menyusun surat, mengetik, berani bicara, dan tak segan menjadi ujung tombak; Sarip, Darsiyem, Jum, Bakir, dan Kamidi.

Lasmi berhasil. Warga tersadar akan pentingnya organisasi buruh tani dan petani penggarap. Mereka ingin memperoleh bagi hasil secara adil dengan pemilik tanah. Dengan payung BTI, warga bertekad melakukan demonstrasi melawan kekuasaan 7 setan desa: tuan tanah penghisap, tengkulak jahat, tukang ijon,  lintah darat, kapitalis birokrat alias kabir, bandit desa, dan penguasa jahat.

Dan hari pertama Oktober 1965 pun tiba. Tersiar berita di radio bahwa Pasukan Cakrabirawa menangkap sejumlah jenderal. Keesokan harinya tersiar lagi kabar bahwa gerakan penculikan jenderal-jenderal adalah upaya kudeta yang dipelopori oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya. Berita itu menyebutkan bahwa pembunuhan terhadap para jenderal dilakukan di daerah Lubang Buaya oleh Pemuda Rakyat dan Gerwani.

Situasi politik nasional mencekam. Lasmi sebagai ketua Gerwani di desanya, menanggung resiko penangkapan. Ia pun memutuskan bersembunyi sementara dari kejaran. Bersama suaminya, Sutikno dan anaknya, Gong, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam persembunyiannya itu,  ia mendengar berita pembunuhan, pembantaian, dan kekejian terjadi. Saudara-saudara seorganisasinya menjadi target pemberangusan yang sadis. Kondisi ekonomi makin memburuk. Pangan semakin sulit di dapat. Pelariannya bukan hanya penuh ketakutan, tapi juga derita. Puncaknya, ketika Gong tak lagi mampu melawan sakit dan menghela nafas terakhir di 13 Desember 1965.

Lasmi pun guncang. Ia merutuki kecelakaan jaman. Lirih ia berbisik pada Sutikno “Sut, maafkan aku ya? Kalau aku tidak masuk Gerwani, tentulah kita tak perlu mengalami ini semua ini”. Dan ia pun mengambil keputusan untuk menyerahkan diri pada aparat. Dalam suratnya ia menulis “ Sut, meninggalnya Gong telah membuatku menyesali segala aktivitasku sebagai Ketua Gerwani desa kita yang menyebabkan aku jadi buronan dan jadi musuh sebagian masyarakat. Bila sejak awal aku memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, mungkin anak kita masih bisa diselamatkan…”

Lasmi yang progresif, revolusioner, berpikiran maju, penggerak dan agitator ulung itu rubuh sudah di juntai stagennya. Bukan hanya tubuhnya yang rubuh, tapi juga idealisme dan militansinya sebagai kader Gerwani ! (DS)

5 Comments

saut situmorang - 21. Feb, 2010 -

apa yang terjadi pada Lasmi itu biasa. sebelum Lasmi, nama-nama berikut ini udah lebih dulu “nyesel n tobat”: Louis Fischer, André Gide, Arthur Koestler, Ignazio Silone, Stephen Spender, dan Richard Wright. PADAHAL MEREKA GAK NGALAMI SEMUA KETIDAKADILAN YANG DIALAMI LASMI !!!

Pustakawan - 22. Feb, 2010 -

Terima kasih buat kawan-kawan dewan pembaca yang sudah menimbang isi buku ini secara kritis. Tulisan semacam ini sangat membantu saya sebagai pustakawan dalam menilai buku yang akan dijadikan koleksi perpustakaan, juga bisa menjadi bahan obrolan dengan anggota perpustakaan yang ingin meminjam buku.

matahari - 28. Feb, 2010 -

LASMI berseting tempat dan waktu saya mengalaminya sendiri, dan saya acungi kedua ibu jari saya ke atas untuk penulisan ceritanya, yang walaupun fiksi adanya, namun keadaan saat itu 80 persen benar adanya …..

Sayang, kenapa akhirnya suami LASMI menjadi penghuni SUMBERPORONG???? hemmmmm ….

matahari - 28. Feb, 2010 -

Kepada Mbak Nusya,
Ditunggu novel lainnya ….!!!
Good luck dan terima kasih, yah!!

Nusya Kuswantin - 12. Mar, 2010 -

@ Mbak Diana: Terimakasih atas postingnya.
@ Matahari: Kenapa suami Lasmi jadi penghuni RSJ? Kenapa Lasmi menyerah? Jawaban saya: Supaya para pembaca membahas buku ini dan mempertanyakan hal-hal lainnya yang lebih meta (di balik) kisah yang menurut Anda setting-nya 80% benar adanya itu…. 🙂

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan