-->

Lainnya Toggle

LASMI: TANGGAPAN DEWAN PEMBACA

“Sebuah fragmen dalam sejarah Indonesia yang ditulis dengan sangat intens, deskriptif, dan tidak memihak,” tulis Noorca M. Sardi di sampul depan novel Lasmi.

Rama Prabu dari tanah Parahyangan sontak menghentak dan berseru: “Komentar itu hanya penghias sampul. Lipstick saja. Kontras sekali dengan isi dan kesimpulan yang ditulis di sampul belakang. Jelas sekali sinopsis itu tidak berimbang dan memihak.”

Prabu mengurai, “Pengakuan penyesalan Lasmi karena beliau menjadi aktivis (ketua Gerwani desa) menjadi sebuah kontradiksi dengan sifat Lasmi di awal cerita. Lihat kesaksiannya ‘…aku tak pernah menyangka sama sekali bahwa menjadi bagian dari Gerwani kemudian bisa dikategorikan sebagai dosa sosial. Andaikan aku tahu Sut, tentu aku tak ingin terlibat. Andaikan aku bisa meramalkannya Sut, aku tak ingin mengambil risiko sebesar itu. Sungguh, engkau pun tahu, aku menyukai kegiatan yang menyangkut masyarakat jadi lebih pintar dan mandiri, namun aku bukan orang yang berani mempertaruhkan nyawa anak kita…’”

“Alasan meninggalnya Gong inilah yang menjadikan Lasmi terpuruk secara ideologis. Tapi penerbit telah salah menginterpretasikan keterpurukan idiologis dan psikologis Lasmi dengan mengatakan bahwa dia terjerumus semangat zaman, menjadi tokoh organisasi perempuan Gerwani dan mengatakan bahwa Gerwani, organisasi kaum perempuan yang ikut terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Sejauh manakah kayakinan itu?”

Keresahan Prabu mengenai latar sejarah ini diamini Diana Sasa, yang sedari awal mengawal jalannya sidang. Kata penulis dari Surabaya ini: “Setahu saya, aktivis Gerwani adalah kader-kader terpilih. Mereka yang tertangkap, tersiksa, dan terbuang nyaris di sepanjang sisa hidupnya pun, tak pernah saya dengar menyesali diri telah menjadi bagian dari Gerwani. Mereka adalah kader ideologis yang militan.”

Untuk menguatkan pendapat itu Sasa coba menyurungkan data dari tiga orang periset Gerwani. Saskia E Wieringa (Penghancuran Gerakan Perempuan dan Kuntilanak Wangi), Fransisca Ria Susanti (Kembang-kembang Genjer), dan Hikmah Diniah (Gerwani Bukan PKI). Dari ketiganya tak ada kesimpulan bahwa gelombang besar aktivis utama Gerwani menyesal telah bergabung.

Menurut jawara blog resensi, Nur Mursidi, dalam novel ini, sejarah peristiwa tragis 1965 memang hanya dijadikan tempelan, sehingga nyaris tak memberikan aroma baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik-pernik permasalahan dan setting cerita (di sebuah desa di Malang). Padahal, novel sejarah sebenarnya bisa dijadikan sebuah rekonstruksi. Tapi, dalam novel ini hampir tak ada fakta baru yang disuguhkan oleh pengarang. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi tidak lebih sebagai korban.

“Saya menyayangkan keputusan penulis membawa isu sentral rekonsiliasi nasional ke ranah fiksi dengan proporsi lebih banyak unsur sejarah dan idealogis dibanding unsur cerita. Lasmi menjadi seperti ‘kue lemper’ yang enak dengan kesederhanaannya, namun didandani plot historis, kultural yang penuh dan kurang pengendapan. Saya merasa membaca protes sosial di masa kini, diteriakkan perempuan aktivis masa kini dibanding novel tentang aktivis Jawa, dari sudut pandang suaminya. Singkatnya, saya kebingungan apakah membaca esei dengan potongan data mentah, atau novel tapi minim konflik manusia di masa itu? Coba simak dialog hal. 72, kata ‘…Oke ya, Pak?’ saat menjadi pembicara masyarakat tani masa itu, saya rasa sungguh janggal,” urai si pemilik suara merdu, Nisa Diani.

“Riset adalah kelemahan mendasar dari novel ini. Sangat lemah sekali. Bertaburnya kata ‘konon’ dan ‘kabarnya’ menjadikan novel ini semacam novel sejarah konon. Katanya dan katanya. Misal, ia tak dapat menjelaskan mengapa orang Jawa tak mengenal nama belakang atau nama keluarga. Juga alasan apa orang Jawa meletakkan bendera putih di tonggak atap rumah ketika mendirikan rumah. Di sini, ia bersembunyi di balik kata entah, konon, kabarnya, mungkin, yang menurut saya membuatnya kerdil,” tandas Sasa.

“Kekuatan sebuah novel memang terletak pada kekuatan narasi,” lanjut Mursidi. “Tapi dalam kepenulisan novel, dikenal sebuah penulisan dengan cara menggambarkan, bukan menceritakan. Pada aras inilah, Nusya Kuswantin kerap berlaku menceritakan dan lemah dalam penggambaran. Tak salah, novel ini pun serasa kering dan mirip catatan diary Sutikno (tokoh ‘aku’) untuk mengenang keberadaan Lasmi, istrinya yang mati dieksekusi karena menjadi korban. Capaian estetis yang dielaborasi pengarang pun ‘tidak mendedahkan teknik baru’. Maka, cerita pun berjalan dengan datar, tidak berpilin, dan njelimet. Bahkan kering dialog. Padahal, keberadaan dialog bisa membangun kekuatan sebuah alur.”

Segendang dengan Mursidi, Rama Prabu mencatat bahwa memang selain novel ini sangat minim dialog, penokohan Sutikno (Tikno) dan Lasmi pada beberapa dialog di awal bab tidak konsisten dalam menggunakan istilah dan kelugasan penggunaan bahasa. Penempatan istilah panggilan untuk istri, ibu mertua dan bapak mertua masih disamakan dengan sebutan yang sama seperti pada orang lain. Padahal dihayati atau tidak, aku di sini telah menjadi bagian yang satu dalam ikatan keluarga sebagai tokoh yang bercerita. Beberapa istilah bahasa daerah (Jawa) banyak yang tanpa catatan kaki yang bisa dipastikan akan menyulitkan pembaca di luar kultur dan penguasaan bahasa Jawa.

Hernadi Tanzil, resensor dari sebuah pabrik kertas di Bandung, juga menyayangkan kurang tereksplorasinya karakter Lasmi sebagai tokoh sentral. Karena dituturkan melalui sudut pandang suaminya, otomatis pembaca tak banyak mengetahui bagaimana konflik batin yang dirasakan Lasmi selama masa-masa perburuan terhadap dirinya.  Hal ini hanya terungkap melalui surat panjang Lasmi untuk suaminya. Walau telah tewakili oleh surat tersebut tentunya akan lebih menarik jika di sekujur novelnya ini pembaca akan disuguhkan konflik batin yang dialami Lasmi terutama saat masa-masa perburuan terhadap dirinya.

“Saya juga merasakan kesan bahwa penulis kurang sabar dalam mengembangkan kisah Lasmi ini. Ada beberapa hal yang sebetulnya bisa dikembangkan, misalnya kisah pelariannya yang nampak kurang tereksplorasi dengan baik. Semua terjadi selewat-selewat saja padahal jika hal ini dikembangkan pasti akan lebih menarik lagi,” lanjut Tanzil.

Soal alur pelarian ini, Rama Prabu sependapat dengan Tanzil. “Pembaca tidak dibawa merasakan adegan pada kondisi tahun 1965. Penulis mungkin lupa bahwa masih banyak yang dapat dikembangkan dari tulisan ini sehingga pembaca benar-benar merasakan pelarian, perburuan Lasmi dan Tikno sang suami yang akhirnya gila itu menjadi lebih mencekam. Bisa saja suatu ketika Lasmi harus melakukan pelarian yang tak bisa terbayangkan oleh pembaca. Perhatikan saja hampir tak ada adegan kerjar-kejaran dan sembunyi yang mengendap senyap di semua jalur perburuan pelarian Lasmi, yang ada hanya pindah-pindah ‘ngungsi’ dari satu tempat kerabat ke kerabat lainnya.”

Dan di tengah novel, semua anggota Dewan Pembaca dibuat terkejut dengan munculnya transkrip pidato Bung Karno. Transkrip itu menghabiskan berlembar-lembar halaman dalam novel ini. Menurut  Tanzil, “Hal ini bisa jadi bumerang, di satu pihak mungkin ada orang yang suka, namun di lain pihak bagian ini bisa jadi membosankan karena seolah terlepas dari alur kisah yang sedang dibangun.”

Dengan manis, Nisa mencoba memberi permakluman, “Tampaknya latar belakang penulis mempengaruhi cara berceritanya. Latar belakang penulis yg aktivis, jurnalis mungkin terlanjur terbiasa menulis dengan struktur dan gaya non fiksi yang rigid. Penulis sepertinya gamang ketika memasuki dunia fiksi sekaligus membahasakan data non fiksi (sejarah) dalam tataran kehidupan sehari-hari di masa itu.”

“Meski demikian, novel ini tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah novel yang gagal atau tidak berhasil,”  tutur Mursidi. “Pengarang berhasil membangun karakter Lasmi dengan kuat. Pada akhir kisah bahkan pengarang meneguhkan bahwa pilihan Lasmi menjalani eksekusi itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus protes secara masif –menggugah orang untuk memikirkan tragedi pembantaian massal yang terjadi di negeri ini.  Tidak salah, kalau pengorbanan Lasmi itu sebagai bentuk anti-kekerasan. Selain itu, dalam hubungan antara suami dan istri dalam rumah tangga, novel ini terasa kuat menggelorakan emasipasi terhadap wanita –persamaan derajat.”

Rama Prabu setuju novel fiksi historis ini selayaknya dapat dijadikan bahan pengingat bahwa pasca tragedi 30 September itu banyak nyawa yang hilang dalam pembantaian masal, ada banyak keluarga yang tercerai-berai, ada banyak silsilah yang tercerabut dari jalur kemanusiaan. Kini, kita hanya bisa mewartakan bahwa hal demikian bisa saja terjadi disaat ini dan masa depan ketika kita tak bisa mengharga nilai perbedaan dan kemanusiaan! Jalur keadaban manusia hanya ada di tangan manusia, dan kita adalah manusianya!

Demikian pula Tanzil, ia setuju bahwa dalam novel ini penulis berhasil menguggah kesadaran pembacanya untuk memaknai peristiwa pembantaian di tahun 65 dalam perspektif kemanusiaan.

Andreas, aktivis Paris Van Java yang sedari awal tak banyak bicara akhirnya pun menimpali. Tulisnya: “Novel ini adalah kesaksian semangat zaman tentang retorika penguasa, masa silam, mimpi buruk, perjuangan yang gigih, harapan klise dan pilihan yang penuh penyesalan yang dengan cepat menjerat dan memerangkap kita dengan telak. Kekuatan naratif dalam melodrama novel ini secara perlahan-lahan namun pasti, berhasil menyeret kita pada rahasia hitam sejarah Gerakan Wanita Indonesia yang lama terbungkam. Dengan telak menawarkan sejumput keberpihakan kepada dua pihak yang sedang bertarung demi suatu kemenangan kecil, tapi menghasilkan kekalahan yang sama-sama besar.”

Lasmi, lanjut Andreas, adalah novel realis yang nyaris surealis. Ada kebahagian yang aneh dalam penderitaannya, sekaligus penderitaan yang ganjil bahkan dalam kegembirannya. Kisah yang sangat pedas, mengambang dan gelisah tentang bagaimana menghargai sebuah pilihan. Ada tetirah yang indah sekaligus mimpi buruk dalam perjuangan Lasmi. Ada darah dan airmata yang subtil. (DS)

17 Comments

henri nurcahyo - 22. Feb, 2010 -

aneh, sebuah novel kok diadili dengan cara “harus begini, harus begitu, kenapa tidak begini, tidak begitu” dsb…. Lasmi adalah sebuah karya yang lahir dengan biografinya sendiri, apapun orang menyebutnya, ia adalah Lasmi dengan segala jatidirinya. Menurut saya, bahasan tentang Lasmi akan lebih bijak kalau berangkat dari “biografi Lasmi” itu sendiri, dan bukan mencomot dari habitatnya, kemudian ditempatkan di ring tinju dan dihajar beramai-ramai. Hal-hal yang dianggap tidak logis dan semacamnya sebaiknya dikembalikan ke dalam novel itu sendiri. Periksalah asbabun nuzulnya. Begitulah pandangan saya. Maaf saya bukan sastrawan. Saya sudah baca novel itu dalam KA. terima kasih.

Diana AV - 23. Feb, 2010 -

Mas Henry Nurcahyo, menurut saya, ketika sebuah buku telah dilahirkan, maka ia menjadi hak pembaca mau diapakan. Ia mencari nasibnya sendiri. Dan kritik semacam ini saya rasa cukup membangun. Itu kalau penulis atau penerbitnya tidak anti kritik. membincang sebuah buku secara mendalam memang tak bisa dari satu sudut saja. Tapi kami mencoba memulainya dengan hal yang paling menarik menurut kami. Mas Henry kalau mau, buku Panjinya juga bisa kok dibahas di dewan ini, kebetulan saya sudah punya 3 biji. Kurang 2 lagi. Dan mari kita lihat seperti apa Panji menemui pembacanya. Salam

henri nurcahyo - 26. Feb, 2010 -

Iya, betul juga yaa, bahwa “ketika sebuah buku telah dilahirkan, maka hak pembaca mau diapakan. Ia mencari nasibnya sendiri.” logikanya, jangankan dikritik mau dibakar saja juga boleh kan? sedikit menyimpang, ketika ada pembakaran buku di graha pena dulu, apologi pelakunya (waduh saya lupa namanya, ketua CICS, oh iya, arukat jaswadi) adalah, “itu buku-buku saya beli sendiri dengan uang saya, mau saya bakar juga terserah saya… (dan saya teruskan kalimatnya), kecuali kalau dilakukan sweeping di toko buku, dirampas, kemudian dibakar… jadi yang dilakukan arukat cs adalah sebuah simbolisme atas ketidak-setujuannya dengan isi buku. bukan anti terhadap semua buku. dan itulah yang menurut saya kekeliruan unjuk rasa anti pembakaran buku di depan grahadi waktu itu.
mbak sasa yang baik, cobalah bandingkan soal “hak pembaca mau diapakan” antara kasus lasmi dengan kasus pembakaran buku itu… seberapa toleran kita membolehkan “hak pembaca” itu terhadap buku? karena itu saya kurang sependapat dengan sudut pandang kritik terhadap Lasmi yang dicerabut dari otoritas subyektifnya dan kemudian dibedah di meja operasi tanpa mempertimbangkan asbabun nuzulnya. bukan soal anti kritiknya, tetapi cara mengkritiknya itulah yang menurut saya tidak tepat. (eh, ini juga hak kritikus yaaa, yo wis gak papalah…)
sementara itu, dulu, saya juga menulis tanggapan di catatan Lasmi di FB-nya Nusya Kuswantin… kalu bisa dishare di sini menarik kali yaaa..
soal buku Panji, silakan kalau mau diedel-edel di sini, akan jadi diskusi seru juga yaaa… btw, saya gak ngerti bukunya kurang dua. apa maksudnya?

henri nurcahyo - 26. Feb, 2010 -

tambahan: adalah hak saya juga menulis tanggapan seperti tersebut di atas. adalah hak pengarang menulis novel seperti itu. hak kritikus membedahnya, hak pembaca membakarnya, ..we lhadalah….kalo semua dikembalikan pada hak masing-masing, mana bisa ada diskusi??? barangkali, bukan soal “hak” itu yang ingin kita diskusikan, tetapi apa yang diklaim sebagai haknya itulah…

Diana Sasa - 26. Feb, 2010 -

Begini Mas Heri,(nah kalau ada diskusi kecil begini kan ada dinamika wacana, sata suka). Sebenarnya, saya hanya mencoba mencari khas dari gaya saya menulis. Sekaligus saya ingin menegaskan pilihan saya ketika meresensi. Saya memang suka menulis dengan gaya menonjok-nonjok. Tapi tetap berimbang. Seperti resensi saya tentang Jalan Raya Post-nya Pram (ada di dianasasa.multiply.com). Nah, Lasmi itu memberi saya khas yang saya cari. Kebetulan, pendapat dari anggota Dewan Pembaca memang diawal mengkritik baru kemudian diakhir memuja. Maka alur yang saya pilihpun begitu. Kritik lalu pujian. Kepingin saja saya memancing diskusi lebih panjang. Coba seandainya saya menulis dengan gaya yang resesnsi ‘umum’, mungkin Mas Henry pun tak akan tertarik berkomentar panjang. Hehhehehe….. Soal membahas dari asbabun nuzunnya, saya diwuruki mas, ga ngerti saya (jujur ini Mas, Sasa tuh lugu, hehehhe)

Kalau disambung-sambungin dengan aksi protes bakar buku dulu itu, sebenarnya secara lebih jauh, ini soal kerja politik,Mas. Menulis, buat saya bukan cuma senang-senang, mencicipi secuil popularitas. Maka menulis harus pula ‘menggerakkan’dan memiliki keberpihakan. Dan seterusnya (wis,Mas… aku isin, nek kedawan mengko malah koyok kaderisasi, hehehheh)

Buku Panji itu aku punya 2biji, nah anggota Dewan pembaca ada 20, dibagi 4 kelompok. Jadi tiap gelombang ada 5 anggota. Kalau buku Panji mau dibahas disini, perlu 3 biji lagi, begitu. (tapi antri ya mas…ini sudah penuh hingg bulan depan)

Nusya Kuswantin - 26. Feb, 2010 -

Tanggapan Nusya Kuswantin untuk Sidang Dewan Pembaca Indonesia Buku

Sidang dewan adalah ketika para pakar dari berbagai mazhab dengan berbagai paradigma berkumpul untuk ‘mengadili’ suatu perkara. Ketika Dewan Pembaca Indonesia Buku bersidang membahas sebuah novel maka yang terjadi adalah berbagai pendapat dari berbagai sudut pandang digunakan untuk melihat sebuah novel. Oleh karena sifat sidang dewan yang multi-paradigma maka ia memiliki kecenderungan menjadi makroskopis dan menggeneralisasi.

Padahal sebuah novel – katakanlah Lasmi yang saya tulis – ditulis dengan menggunakan satu sudut pandang saja dan sifatnya juga lebih mikroskopis karena ia berkisah tentang satu sosok manusia. Satu sosok manusia tentu saja memiliki kecenderungan psikologis yang unik, yang tidak mungkin digeneralisasi. Saya jadi merasa aneh ketika tokoh Lasmi digeneralisasi menjadi ‘tipikal’ tokoh-tokoh Gerwani survivor yang pantang menyerah dan heroik. Karena satu hal yang sudah jelas adalah bahwa Lasmi bukanlah survivor. Seseorang yang telah menginspirasi novel saya ini memang mati dengan cara seperti itu.

Saya kutip catatan Sidang Dewan Pembaca: Keresahan Prabu mengenai latar sejarah ini diamini Diana Sasa, yang sedari awal mengawal jalannya sidang. Kata penulis dari Surabaya ini: “Setahu saya, aktivis Gerwani adalah kader-kader terpilih. Mereka yang tertangkap, tersiksa, dan terbuang nyaris di sepanjang sisa hidupnya pun, tak pernah saya dengar menyesali diri telah menjadi bagian dari Gerwani. Mereka adalah kader ideologis yang militan.”

Saya tidak menampik pendapat seperti di atas, terutama yang menyangkut para survivor. Tetapi perlu juga diingat bahwa di dalam tubuh Gerwani ada dua mazhab gerakan. Satu adalah mazhab gerakan politik ideologi dan yang satunya lagi adalah mazhab gerakan emansipasi perempuan. Dan Lasmi sejak awal dikonstruksikan untuk menjadi bagian dari kategori yang kedua. Itu sudah saya gambarkan secara implisit di halaman paling depan menyangkut pilihan tanda gambar yang dicoblosnya dalam pemiliham majelis daerah. Juga tampak dari latar belakang ayahnya dan motifnya mendirikan taman kanak-kanak. Saya pribadi sempat bertemu beberapa tokoh Gerwani survivor dan saya bisa melihat ada sosok Lasmi di sana.

“Riset adalah kelemahan mendasar dari novel ini. Sangat lemah sekali. Bertaburnya kata ‘konon’ dan ‘kabarnya’ menjadikan novel ini semacam novel sejarah konon. Katanya dan katanya. Misal, ia tak dapat menjelaskan mengapa orang Jawa tak mengenal nama belakang atau nama keluarga. Juga alasan apa orang Jawa meletakkan bendera putih di tonggak atap rumah ketika mendirikan rumah. Di sini, ia bersembunyi di balik kata entah, konon, kabarnya, mungkin, yang menurut saya membuatnya kerdil,” tandas Sasa.

Menulis novel dengan setting 1965 jelas adalah tantangan yang sama sekali tidak bisa dianggap sepele. Diksi yang saya pilih dan data yang saya gunakan perlu saya pikirkan lama sekali (itu sebabnya judul novel ini Lasmi – yang merupakan akronim dari lama sekali mikirnya) sedemikian rupa sehingga data-data yang saya gunakan bisa dipertanggung-jawabkan. Saya kira sikap kehati-hatian saya tidaklah berlebihan mengingat buku John Roosa berjudul Dalih Pembunuhan Massal nyatanya dilarang di negeri ini. Padahal buku tersebut adalah disertasi, yang disusun dengan metode penelitian yang sudah pasti bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.

Bahwa kemudian kehati-hatian saya dalam menulis novel ini jadi kurang memiliki greget sastrawi, maka ini adalah sesuatu yang tak bisa saya hindari. Termasuk penggunaan kata konon yang saya gunakan untuk mendeskripsikan bahwa yang saya gunakan bukanlah data primer. Tetapi yang jelas, siapapun yang menulis kisah dengan setting 1965, kendati fiksi sekalipun, tidak mungkin tidak melakukan riset secara serius. Karena bila tergelincir sedikit saja bisa fatal akibatnya.

Itu sebabnya saya gusar sekali kepada editor novel saya (novel kok ada editornya ya?), yang membuat pernyataan sangat tidak hati-hati di cover belakang pada cetakan pertama, yang memvonis Gerwani sebagai terlibat dalam Gerakan 30 September. Saya harap ada kata yang diduga sebelum kata terlibat. Semoga koreksi untuk cetakan berikutnya tidak mengandung kesalahan substantif seperti itu, yang bernada victimizing the victims.

Syukurlah seorang Gus Dur sempat menjadi presiden di negeri ini, sehingga banyak buku menyangkut 1965 yang diterbitkan dan saya bisa mengumpulkan berbagai dokumen pendukung argumentasi saya, termasuk yang paling penting untuk novel saya adalah yang diterbitkan oleh Syarikat Yogyakarta. Saya juga telah berdiskusi dengan, dan mewawancarai, beberapa orang yang memang paham dengan isu itu serta punya pengalaman empirik di era itu. Dan bahkan draft novel saya juga telah dikoreksi dan dikomentari oleh lima orang termasuk seorang suhu sosialisme sepuh yang saya hormati. Beliaulah yang membuat saya membongkar habis karakter Lasmi dari depan hingga belakang agar lebih pas dengan konteks politik di era itu.

Saya juga merasa perlu memberikan gambaran etnografis sebuah keluarga priyayi di daerah Malang di era itu – dengan filosofi Jawanya — yaitu era ketika Islam belumlah semerata sekarang. Tanpa itu setting novel saya bisa saja dituduh ahistoris. Lagu-lagu pembangikit semangat adalah yang juga tak terpisahkan dari zaman itu. Saya teringat kata seorang perempuan mantan aktivis Pemuda Rakyat Bali, ”Acara-acara Golkar tidak pernah menarik karena mereka tidak punya lagu-lagu pembangkit semangat….”

Hernadi Tanzil, resensor dari sebuah pabrik kertas di Bandung, juga menyayangkan kurang tereksplorasinya karakter Lasmi sebagai tokoh sentral. Karena dituturkan melalui sudut pandang suaminya, otomatis pembaca tak banyak mengetahui bagaimana konflik batin yang dirasakan Lasmi selama masa-masa perburuan terhadap dirinya. Hal ini hanya terungkap melalui surat panjang Lasmi untuk suaminya. Walau telah tewakili oleh surat tersebut tentunya akan lebih menarik jika di sekujur novelnya ini pembaca akan disuguhkan konflik batin yang dialami Lasmi terutama saat masa-masa perburuan terhadap dirinya.

Saya lama sekali memikirkan siapa yang pantas menjadi narator dalam novel saya ini. Awalnya saya memilih sudut pandang Lasmi sendiri. Tetapi kemudian saya urungkan. Karena orang Jawa secara budaya sulit menceritakan tentang dirinya sendiri. Terutama karena di dalam novel karakterisasi haruslah kuat; karakter novel diharapkan greater than life. Akhirnya saya memilih suaminya yang menjadi aku di dalam novel ini karena orang yang sungguh memiliki rasa cinta cenderung memberikan penilaian dengan nada memuji. Tentu dengan risiko bahwa pembaca harus menebak-nebak konflik batin yang dialami tokoh sentral.

Akhirnya saya menunggu resensi yang ditulis oleh resensor dengan paradigma yang pas untuk novel Lasmi. Entah paradigma apa istilahnya. Mungkin sastra aktivisme? Atau sastra sosial? Karena paradigma yang berbeda tentulah akan ’membunuh’ novel saya secara tidak adil. Saya tidak ingin nasib Lasmi seperti nasib novel Sang Priyayi karya Pak Umar Kayam yang dibedah Mas Heddy (Sri Ahimsa-Putra) dengan paradigma strukturalisme sehingga yang tampak hanya tinggal relasi-relasi di dalam struktur kekerabatan antar tokohnya. Ketika saya utarakan kepada Mas Heddy bahwa ibarat perempuan saya tak ingin hanya dilihat kerangka saya saja, tetapi juga gagasan saya dan bahkan senyum saya, Mas Heddy menimpali, ”Ya, itulah antara lain kritik terhadap strukturalisme.”

Begitulah apologia saya terhadap hasil Sidang Dewan Pembaca Indonesia Buku atas novel Lasmi yang saya tulis. ***

Diana AV - 02. Mar, 2010 -

Dari Rama Prabu:

tabik

sahaya sangat menghargai pembelaan dan penjelasan mbak kusya sebagai penulis Lasmi, kita sebagai pembaca seperti di sampaikan bung Kurniawan Effendi mempunyai keluasan dalam menafsir sebuah buku, pun begitu di ranah ini pengarang pun punya kesempatan untung menjelaskan asal usul lahirnya sebuah kata dan rangkaian kalimat itu.

menimbang buku tentu tidak harus seperti yang dikatakan mbak nusya bahwa harus “Sidang dewan adalah ketika para pakar dari berbagai mazhab dengan berbagai paradigma berkumpul untuk ‘mengadili’ suatu perkara. Ketika Dewan Pembaca Indonesia Buku bersidang membahas sebuah novel maka yang terjadi adalah berbagai pendapat dari berbagai sudut pandang digunakan untuk melihat sebuah novel. Oleh karena sifat sidang dewan yang multi-paradigma maka ia memiliki kecenderungan menjadi makroskopis dan menggeneralisasi.” walau itu memang dalam posisi ideal, tapi lepasnya buku dari sangkar penerbit tak bisa kita pastikan jatuh pada mereka yang punya kualitas seperti itu, coba bayangkan jatuhnya pada sekelompok awam sejarah, mungkin ini akan jadi salah satu sandaran, apalagi bermain pada tataran fiksi historis.

kelemahan pasti ada dan tak mungkin dihindarkan, siapapun itu pengarangnya, tapi meminimalisir kesalahan itu menjadi kewajiban pengarang tentunya dengan beragan metoda dan proses, semua punya cara sendiri-sendiri tapi ketika hal tersebut tidak dilakukan dan terbaca oleh pembaca dari lemahnya data dan penguatan alur cerita tentu menjadi bagian yang lain.

perlu diingat bahwa pembaca dan SIDANG PEMBACA INDONESIA BUKU tentu tidak hanya melihat sisi kelemahannya tapi pasti akan berimbang, saya sudah katakan disini http://ramaprabu.com/?p=495 bahwa novel anda banyak hal baru yang mengangkat kearifan lokal tapi penggaliannya tidak maksimal, satu contoh kecil bahwa kenapa perempuan memakai giwang/anting/tindik telinga itu ada rujukan yang menerangkan itu yaitu KAMASUTRA, disana dijelaskan, mungkin penulis bisa menggali lebih jauh atau hanya memberi penjelasan alasanya agar tidak hanya menggantungkan cerita.

sahaya berharap sesungguhnya pada novel anda, kalau anda katakan disini “Syukurlah seorang Gus Dur sempat menjadi presiden di negeri ini, sehingga banyak buku menyangkut 1965 yang diterbitkan dan saya bisa mengumpulkan berbagai dokumen pendukung argumentasi saya, termasuk yang paling penting untuk novel saya adalah yang diterbitkan oleh Syarikat Yogyakarta. Saya juga telah berdiskusi dengan, dan mewawancarai, beberapa orang yang memang paham dengan isu itu serta punya pengalaman empirik di era itu. Dan bahkan draft novel saya juga telah dikoreksi dan dikomentari oleh lima orang termasuk seorang suhu sosialisme sepuh yang saya hormati. Beliaulah yang membuat saya membongkar habis karakter Lasmi dari depan hingga belakang agar lebih pas dengan konteks politik di era itu”
seharusnya terungkap dengan gamblang dan detail apa saja data dan dokumen yang anda maksudkan karena sahaya tak bisa menangkap dokumen itu muncul kecuali pidato panjang Soekarno.

satu hal lagi, kekhawatiran anda seperti yang anda tulis “Akhirnya saya menunggu resensi yang ditulis oleh resensor dengan paradigma yang pas untuk novel Lasmi. Entah paradigma apa istilahnya. Mungkin sastra aktivisme? Atau sastra sosial? Karena paradigma yang berbeda tentulah akan ’membunuh’ novel saya secara tidak adil. Saya tidak ingin nasib Lasmi seperti nasib novel Sang Priyayi karya Pak Umar Kayam yang dibedah Mas Heddy (Sri Ahimsa-Putra) dengan paradigma strukturalisme sehingga yang tampak hanya tinggal relasi-relasi di dalam struktur kekerabatan antar tokohnya. Ketika saya utarakan kepada Mas Heddy bahwa ibarat perempuan saya tak ingin hanya dilihat kerangka saya saja, tetapi juga gagasan saya dan bahkan senyum saya, Mas Heddy menimpali, ”Ya, itulah antara lain kritik terhadap strukturalisme.” adalah terlalu berlebihan. kritik sastra yang kita bangun tidak untuk mengadili dan membunuh, tapi hanya memberikan sedikit interupsi bagi lajunya sebuah karya, tolong itu dipahami. salam kenal dan semoga berkenan! tabik
http://ramaprabu.com/?p=495

Rama Prabu
Kaoem Dewantara Institute/08112257581

pengamat buku - 26. Feb, 2010 -

Setuju dengan Sdr. Henry.

Agar pemberitaannya berimbang, dimana ada sidang disitu ada juga pembelaan, baca ini:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=325369878639&comments

Kapasitas anggota dewan sendiri bagaimana? Sudah berapa buku yang lahir dari rahim para anggota dewan hingga berhak mengadili sebuah buku? Jangan2 yang mengadili belum sanggup mengeluarkan sebuah bukupun. Ironis.

IBOEKOE - 26. Feb, 2010 -

Pengamat, ini dewan pembaca. Pembaca. Mereka menggunakan haknya untuk mengatrol sebuah buku apa layak dibaca, direkomendasikan, atau tidak. Mereka sedang menggunakan haknya. Seperti halnya para kritisi melihat dan mengkritik pemerintah; oh cuma pengkritik apa mereka bisa menjadi pemerintah. Ini logika yang melompat terlalu jauh… banyak cara memakai hak sebagai warga negara: bawa kebo, menulis opini, tereak dimikrophone, menulis dan memaki2 di status facebook, dan seterusnya. Dalam kasus dewan pembaca ini juga demikian: mereka menggunakan hak membacanya. Masing-masing. Untuk menimbang buku ini. Jadi, tak perlulah nyuruh mereka menulis buku baru bisa menjadi pembaca yang kritis. Masalah ada yg menggunakan bahasa yang keras, galak, diplomatis, memuji, ketawa-ketiwi, itu hanya gaya saja masing2 Dewan Pembaca hasil dari resepsinya atas sebuah buku yang masuk di ruang “pengadilan”. Salam.

henri nurcahyo - 27. Feb, 2010 -

Wah diskusi jadi seru nih… terimakasih atas kesetujuan “pengamat buku” tetapi saya kurang setuju kalao dihubung-hubungkan dengan harus bisa nulis buku, antara kritikus dan yang dikritik punya posisi masing-masing…

buat mbak sasa, soal bakar buku itu akan jadi diskusi menarik (sayang aku tekat kalo mulai sekarang yaaa, mustinya pas rame-rame dulu). intinya, saya sadar bahwa buku punya kekuatan yang sangat luar biasa, begitu diluncurkan, tak bisa hanya sekadar melawan dengan menulis buku tandingan. coba simak kasus bukunya george sekarang ini. buku george tetap dicari, dibajak, dijual di jalan-jalan. sementara buku tandingannya (yang ada beberapa itu) malah gak digubris blas oleh publik. jadi, melawan buku dengan menulis buku, pada satu sisi ternyata tidak efektif juga, maka dengan cara membakar buku, orang akan tahu betapa ada sesuatu yang tidak benar di buku itu…. asal tahu saja, ada puluhan bahkan ratusan buku yang sengaja diproduksi untuk menjatuhkan Muhammad SAW, namun jamanlah yang akhirnya menentukan siapa yang benar, siapa yang ngawur. soal keberpihakan, saya paham betul, tapi ada kesan membabi buta dalam aksi itu. bahwa pembakaran buku (yang hanya simbolis) dilawan dengan sikap menentang pembakaran semua buku. ini soal paradigma.

asbabun nuzul? wah aku khawatir istilahku ini gak tepat. kalau dalam konteks alquran (maaf yaa kalo gak berkenan), bahwa suatu ayat itu harus dipahami bagaimana turunnya, dimana, pada saat apa, untuk siapa, mengapa diturunkan, dan sebagainya. artinya, harus ada deskripsi dan pemahaman yang pas sebelum membahas isi ayat itu sendiri. kalau langsung mengadili tanpa tahu asbabun nuzulnya, itu sama saja dengan meletakkan tubuh seseorang di meja operasi, lantas dimutilasi rame-rame.

soal lasmi, saya menangkap hal semacam itu. lasmi diletakkan di meja operasi,kemudian masing-masing orang “mengadili” dengan arogansinya sendiri-sendiri, bahwa novel harus begini, mustinya begitu, dsb, tanpa mau memahami lebih dulu asbabun nuzulnya lasmi (mungkin kurang pas kalao diterapkan semua kriterianya, tapi ada sebagian yang bisa ditrapkan). saya menangkap kesan bahwa para kritikus itu sudah terbelenggu oleh teorinya sendiri tentang sebuah novel. bandingkan antara verification research dengan grounded research, atau antara paedagogy dengan andragogy…. keduanya berangkat dari titik tolak yang berbeda dan sangat prinsipil dalam bagaimana memahami sebuah persoalan. tanggapan saya memang belum masuk dalam materi novel lasmi itu sendiri, saya baru mempersoalkan caranya. saya tidak tahu, apakah memang seperti itu gaya pembahasan (pengadilan?) dalam dewan pembaca buku ini…. atau barangkali memang identik dengan pengadilan pada umumnya? yang kurang mempertimbangkan aspek-aspek non-hukum? untuk lasmi, kutipan penulisnya di atas saya kira senada dengan maksud saya, “…. resensi yang ditulis oleh resensor dengan paradigma yang pas untuk novel Lasmi”. yaaa, paradigma, itulah inti persoalannya dari diskusi kita ini.

saya sebetulnya punya pandangan sendiri mengulas soal lasmi itu. tapi jadi gak pas kalao dishare di sini sebab titik pijaknya beda. sedikit saja, ketika saya membaca, yang ada di kepala saya bukan membayangkan apa yang ditulis novelisnya, melainkan mengapa dia menulis seperti itu. soal apa yang ditulis, itu menurut saya hanya sekadar sarana ekspresi, bukan esensi ekspresinya itu sendiri. saya berusaha menangkap gambaran psikologis pengarangnya ketika dia menulis persoalan demi persoalan dalam novel itu. mengutip afrizal malna, bahwa setiap novel (atau benda) memiliki biografinya sendiri. dan kata budi darma, bahwa dalam sebuah karya sastra, melekat semacam psiko-biografi pengarangnya (maaf, psiko-biografi itu istilah saya, tapi kira-kira seperti itu maksud budi darma). nah setelah saya membaca, saya mencoba membangun hipotesis atas pemahaman saya. dan saya percaya bahwa hipotesis saya itu benar adanya (karena saya tak perlu membuktikan lagi, melainkan menerima hipotesis sebagai sebuah novel di balik novel). meskipun, kalau misalnya saya ketemu novelisnya, hipotesis saya itu optimistis tidak banyak meleset. apalagi si novelis adalah pendatang baru, jadi pasti dia belum bisa melepaskan diri dari bayang-bayangnya sendiri… kata orang teater, “aktingnya belum sempurna….”

tentang buku panji, wah saya merasa tidak terlalu penting dibahas di sini. biarlah kesempatan yang sangat berharga ini mending digunakan untuk membahas buku-buku bagus lainnya. buku panji itu hanya kompilasi. saya sedang menulis buku dengan seseorang (memang kerja kolaborasi) yang menurut saya lebih pantas dibahas (tunggu tanggal mainnya, hehe… kayak film aja)

demikianlah, mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan. matur nuwun atensinya…

IBOEKOE - 27. Feb, 2010 -

Dari Nisa Elvadiani (Facebook)
hehehehe… cuman mempertanyakan aja sih, tahun segitu petani nya pinter2 banget :D, lasmi yang juga diceritakan tidak punya pendidikan formal luar negeri, dan eh jaman segitu tivi tayangan luar negeri belum marak seperti sekarang kan?

tapi bisa muncul gaya rapatnya seperti gaya rapat aktivis mahasiswa? 😀

data mentahnya gak dielaborasi dengan baik dalam tataran keseharian.

di awal mempertanyakan latar belakang dewan pembaca ya? 😀

padahal tulisan ini telah dilempar ke publik… ya tentu saja multi-interpretasi yang akan dikemukakan. kalau mau satu sudut pandang ya bisa sih… jadikan itu catatan harian yang g dipublikasikan. iyaaa tho? :p

IBOEKOE - 27. Feb, 2010 -

Dari Kurnia Effendi (Facebook)
Mungkin perlu memercayai pendapat ini: “pengarang sudah mati” saat buku diterbitkan. Bahkan untuk masalah sepele, misalnya salah ketik atau kurang huruf, sudah sulit diralat. Jadi, biarlah buku itu menjadi dirinya sendiri. Atau, di kata pengantar ditulis: jangan ditafsir atau dinilai berbeda selain sesuai dengan harapan pengarang.
Pembaca sekarang kritis dan mungkin tinggal satu dua yang baik hati. Bahkan Maryamah Karpov Andrea Hirata pun tak luput dari kritik pedas pembaca.
Ternyata menarik juga ya diskusi semacam ini. Sebagai penulis, saya juga deg-degam menghadapi dewan yang rata-rata punya
jam terbang tinggi sebagai penimbang buku.
Ayo lanjutkan!

nisa elvadiani - 27. Feb, 2010 -

Oiya… soal dewan pembaca, bukankah dianggap sebagai sample dari populasi pembaca buku, dan bukan penulis?

Sebuah representasi “pasar”. Apakah “pasar” menerimanya atau tidak? Tentu sangat berbeda bila dikaitkan dengan misalnya, apakah buku ini telah memenuhi kaidah penulisan buku atau hal-hal teknis lainnya – meskipun memang, ada beberapa anggota dewan pembaca yang menggunakan pisau tersebut dalam melakukan telaah pembacaannya. Saya akui, saya tidak, karena saya sama sekali bukan orang sastra, atau orang yang berkecimpung di dunia telaah sastra, tapi apakah berarti saya tidak punya hak dalam merespon bacaan ini?

Sekali lagi, bahwa pembaca pun bukan lah sebuah “tabung kosong”, bukan pula karet ataupun plastisin yang bisa dibentuk oleh marketing, penerbit bahkan oleh seorang penulis sekalipun, apabila tidak ada minat ataupun niat sebuah “pelaku bisnis buku” yang bisa menelaah dan membaca kondisi pasarnya. Masing-masing pembaca tentu membawa subjektivitas sendiri-sendiri, namun diantara subjektiitas tersebut pastilah menarik garis lurus ke-objektif-annya.

Di sini lah letak pisau dan ketajaman “karya” tersebut ditelaah bersama. alih-alih bukan dengan maksud “membantai” yang menurut saya bahasa nya penuh muatan “arogansi” seperti yg disebut oleh penulis dalam “pembelaan”nya, namun sedari awal ketika tulisan ini diturunkan yang disebut adalah “tanggapan”. Sebuah rangkaian respon dalam menjawab stimulus, dalam hal ini Lasmi.

Saya pikir malah ini sebagai sebuah suatu tindakan yang defensif dalam sebuah pembelajaran yang produktif bila “kritik literasi” ditempatkan sebagai wacana yang bisa mendongkel usaha membangun angin segar dalam kemajuan literasi secara umum.

Dan untuk Bu Nusya, saya masih anak-anak kok bu :D.

Nusya Kuswantin - 28. Feb, 2010 -

Untuk Mbak Nisa yang mengaku masih anak-anak 🙂

Ketika saya masih anak-anak 🙂 saya berpikir bahwa peradaban bermula bersamaan dengan kelahiran saya. Sehingga saya juga beranggapan bahwa kehidupan di luar saya tidak seharusnya maju dan pinter seperti istilah Anda “..mempertanyakan saja, tahun segitu petaninya pinter-pinter….”

Tapi ketika usia saya beranjak dewasa dan punya kesempatan sering ngobrol dengan orang-orang tua, saya jadi kaget. Karena menurut saya mereka berpikiran maju, wawasan mereka luas, filsafat hidup mereka cukup dalam. Pilihan diksi mereka juga mengagetkan saya. Misalnya mertua saya menyebut istilah “elan vital” yang untuk memahaminya membuat saya membuka kamus. Mendengarkan tuturan orang-orang tua seperti itu, saya jadi malu dengan pendidikan yang telah saya terima, yang saya rasa sungguh sangat dangkal dan tidak dekat kehidupan.

Saya sempat agak lama terheran-heran, mengapa orang-orang tua dengan seiapa saya sering ngobrol itu hidup dalam situasi yang tidak bisa membuat mereka tampak pintar. Lantas saya pikir-pikir sendiri, bersama berjalannya waktu. Bahwa ada satu fase di dalam kehidupan yang lantas membuat pemikiran baik menjadi mandeg. Pembantaian di tahun 1965 adalah shock therapy yang luar biasa efisien. Karena setelah itu orang jadi takut berbicara, orang takut bertanya, dan orang bersikap lebih baik diam.

Kemudian saya juga belajar, bahwa tahun-tahun pasca kemerdekaan itu sudah ada organisasi sosial-politik yang mengirimkan aktivis-aktivisnya untuk live in di desa-desa. Persis yang dilakukan oleh aktivis ornop era 1980-an dalam program community development.

Saya senang bahwa Anda mempertanyakan hal-hal yang untuk saat ini tampak janggal dalam novel saya. Tetapi saya lebih senang kalau Anda, dan juga pembaca lainnya, lantas mecoba mencari jawabannya kepada orang-orang tua. Karena kalau saya yang menjawab, pastilah kesannya sekedar bersikap defensif saja.

Begitulah Mbak Nisa.
Salam,
Nusya, yang memang sudah ibu-ibu. 🙂

Diana Sasa - 28. Feb, 2010 -

Melihat tanggapan Mbak Nusya, saya jadi tertarik membaca esai yang ditulis njenengan. Esay saja mbak, jangan novel. Lebih mantap. Kata Pram, “Kalau takut jangan jadi pengarang”. Jadi, tak usah risau denan ancaman penguasa (atau siapapun)mengenai apa yang kita tulis. Toh sejarah banyak versi. Saya tunggu kumpulan esainya.Salam.

Eva Dwi Kurniawan - 23. Mei, 2010 -

Lasmi: Sebuah Perbincangan

Lasmi, novel karya Nusya Kuswatin, tidak mengangkat isu baru. Ia berupa novel yang menceritakan tentang kejadian 1965. Adalah Lasmi, seorang tokoh perempuan yang menjadi bahan pembicaraan dalam novel ini. Ia adalah perempuan yang terjebak dalam hiruk-pikuk situasi politik saat itu. Ia, yang tidak memiliki andil dalam pembuhuhan jendral, harus ikut menanggung ‘dosa’. Ia, yang memiliki niat untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat, yang memiliki keinginan untuk membantu para guru mendapatkan bantuan material, pada akhirnya harus menjadi seperti petuah, mendapat getah tanpa memakan buah.
Dalam kesusastraan Indonesia, sebelum lahir novel ini, telah banyak yang mengangkat tentang kejadian yang serupa. Misalnya Mencoba Tidak Menyerah karya Yudhistira ANM Massardi, Derak-Derak karya Zoya Herawati.
Menurut penuturan Nusya, Lasmi lahir sebab keresahan tentang cerita semasa kanak. Ia banyak mendengar tentang kisah di balik peristiwa ’65. Kisah yang ia terima, menjadi hantu yang selalu memburunya. Maka, lahirlah novel ini sebagai salah satu maujud dari ‘hantu cerita’ yang ia terima di masa kanaknya itu. Hantu itu terus saja mengikutinya. Hantu itu berwatak narsis tampaknya sehingga ingin didengar dan dilihat semua orang. Maka, untuk berkomunikasi dengan hantu itu, agar tidak menggangu Nusya dalam kehidupannya, diberikanlah tempat untuk bernarsis ria. Tentu, bagi hantu itu. Hantu-hantu yang mengganggu kemudian dimunculkan dalam teks, dalam wujud tulisan, dalam bentuk buku yang berjudul Lasmi.
Nusya menuturkan bagaimana kisah seorang yang tergabung dalam Gerwani, seperti halnya Lasmi, harus mengalami nasib yang naas. Lasmi harus menerima nasibnya sebagai seorang yang berdosa, dan sebab itu harus menyerahkan nyawa. Tokoh Lasmi, juga beberapa tokoh dalam novel ini, bukan sekadar tokoh rekaan, namun tokoh yang memang nyata. Maka, tidak mengherankan jika penuturan dalam novel ini sangat cair, seperti halnya bentuk reportase dari wawancara mendalam terhadap sebuah kejadian. Nusya mengemasnya dengan apa adanya, maka tidak perlu salah menganggap bahwa novel ini memang berupa catatan sejarah. Tentu, catatan sejarah ’65 versi Nusya. Sebuah pengungkapan sejarah melalui cerita-cerita di masa kanaknya. Bisa dibilang, Lasmi adalah kisah subjektif Nusya tentang peristiwa ’65.
Bisa dibilang pula, sebab Lasmi berupa maujud dari cerita-cerita yang didengar, maka ia adalah bentuk konkret dari cerita lisan yang tlah tertradisi. Artinya, cerita-cerita yang ditulisnya itu merupakan sebuah cerita di masa kanaknya yang memiliki kemiripan antara cerita dari penutur satu dengan penutur yang lain. Ini yang menjadikan cerita dalam Lasmi sebagai sebuah cerita kolektif. Maka, subjektifitas Nusya dalam menuturkan Lasmi, adalah subjektifitas dalam mengakumulasi cerita koletif peristiwa ’65. Tampaknya, akibat dari subjek-kolektif itu, tidak ada rasa kuatir dalam diri Nusya ketika disinggung tentang kemungkinan dicabutnya buku ini untuk beredar.
Sama halnya dengan tiadanya isu baru dalam buku ini, begitu juga tidak ada segi kesusastraan yang baru pula dalam buku ini. Faruk H.T., seorang kritikus sastra mengungkapkan, bahwa buku yang dapat dikatakan sebagai buku yang habis dibaca sekali duduk ini, tidak memiliki hal yang baru dalam dunia sastra Indonesia saat ini. Gaya bahasanya biasa, alurnya pun mudah dicerna, dan issu yang diangkat jupa sudah pernah ada dalam novel-novel Indonesia.
Beberapa catatan oleh Faruk, menyangkut alur misalnya, agar Lasmi tidak menjadi biasa ialah salah satunya dengan merubah alur penceritaan. Kisah tentang pembunuhan Lasmi yang sangat tragis, akan lebih menarik untuk diletakkan di awal cerita. Itu akan memberi efek kejut dan penasaran bagi pembaca. Pola-pola seperti inilah yang dapat menjadikan Lasmi sebagai sebuah karya yang beyond imagination. Ia hadir dengan memberikan kesan bertanya-tanya terlebih dahulu kepada pembaca: ada peristiwa apakah sehingga Lasmi dibunuh dengan cara tragis? Dengan stagen yang dililitkan di tubuhnya. Di perut dan lehernya. Kemudian di tarik bersamaan ke empat penjuru mata angin. Sang penarik stagen bukan orang lain. Ia sama dengan Lasmi. Seorang aktivis gerwani. Seorang perempuan.
Catatan lain dari Faruk ialah menyangkut posisi Lasmi yang memilih untuk bunuh diri, meskipun, bagi Lasmi sendiri, apa yang dilakukannya itu bukan sebuah upaya untuk bunuh diri. Di sinilah yang menarik. Sudah jelas bahwa menyerahkan diri akan berakibat nyawanya melayang, yang itu berarti ia menyerahkan nyawanya, ia bunuh diri. Namun, dikatakan sendiri oleh Lasmi melalui surat kepada suaminya, bahwa itu bukanlah bunuh diri, namun usaha untuk mempertahankan harga diri. Sut, ini bukan soal upaya mencari popularitas atau mendramatisasi situasi karena tentu engkau tahu bahwa alasan seperti itu terlalu murahan. Tetapi aku ingin menunjukkan bahwa aku tidak sepengecut yang mereka sangka. Kalau menurut mereka aku memag layak dibunuh, maka aku ingin mereka menyaksikan proses kematianku yang tidak alami. Agar peristiwa kematianku menjadi pelajaran buat semua orang di masa yang akan datang. Agar semua teman-teman diskusiku bisa mengambil makna dari nilai moral atas kematianku, juga atas kematian begitu banyak masyrakat sipil lainnya dalam peristiwa pembantaian ini (hal:215). Pada kasus inilah kemudian terjadi dikotomis filosofis dan realitas. Secara filosofis mungkin memang tidak, namun secara realitas, Lasmi memang benar melakukan tindakan bunuh diri.
Bagian yang terpenting pada kisah ini ialah terbuktinya bahwa pilihan Lasmi untuk dieksekusi bukan lantaran kelelahan sebagai buruan masyarakat untuk membantai segala bentuk yang memiliki kaitan dengan PKI, Gerwani salah satunya. Sebuah organisasi yang dimasuki oleh Lasmi. Bukan pula sebab kematian Gong, anak semata wayangnya. Namun sebab usaha untuk mempertahankan harga diri. Maka, di sinilah yang menjadi posisi tawar Lasmi dalam jagat kesuastraan Indonesia, yakni upaya mempertahankan harga diri yang dilakukan oleh sosok perempuan. Harga diri menjadi pesan sekaligus pesan Lasmi.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan