-->

Kronik Toggle

Lanjutkan Spirit Gus Dur dengan Perpustakaan Guru Bangsa

JOGJA– Bertepatan dengan 40 hari meninggalnya presiden keempat RI Gus Dur, Galang Press meluncurkan Perpustakaan Guru Bangsa. Perpustakaan keliling ini adalah perpustakaan ketiga yang dimiliki Galang Press. Rencananya, perpustakaan yang dikelola sifatnya non profit ini akan melayani para pembaca di Jateng dan Jatim.

Dua perpustakaan keliling Galang Press sebelumnya hanya melayani permintaan di sekitar Jateng dan DIJ. Namun diakui, permintaan dari daerah di luar DIJ dan Jateng sudah cukup banyak. Karena itu, perpustakaan Guru Bangsa akan berkeliling hingga Jatim. Secara resmi, perpustakaan Guru Bangsa akan diluncurkan Selasa (2/9) oleh Gubernur DIJ HB X di pelataran Galang Press, Baciro.

Manager Litbang Galang Press A.A Kunto berkata, perpustakaan Guru Bangsa adalah bentuk apresiasi Galang Press terhadap kiprah Gus Dur dalam mengembangkan pluralisme dan ajaran merakyat. “Momen sengaja kami paskan dengan 40 hari meninggalnya Gus Dur. Kami juga sudah menghubungi pihak keluarga untuk meminta izin menggunakan nama Guru Bangsa sebagai nama perpustakaan keliling kami yang ketiga. Dua perpustakaan sebelumnya belum kami beri nama khusus. Hanya perpustakaan keliling Galang Press saja,” ujarnya di Kantor Galang Press kemarin (5/2).

Nama Guru Bangsa diakui Kunto adalah simbol kedekatan Gus Dur dengan rakyat dan isu pluralisme. “Karena itu kami sepakat memakai namanya untuk perpustakaan kami. Kami juga menghiasi mobil perpustakaan ini dengan gambar Gus Dur,” ucapnya.

Rencananya, pada acara peluncuran perpustakaan keliling Guru Bangsa, keluarga Gus Dur akan turut hadir. “Yang mewakili adalah Hasyim Whid (Gus Im) dan putri pertama Gus Dur Alisa Wahid,” paparnya. Dalam acara peluncuran perpustakaan keliling Guru Bangsa, akan diluncurkan juga buju berjudul Gus Gerr. “Agar kita lebih dekat dengan bapak bangsa ini,” katanya.

Perpustakaan Guru Bangsa, meski dibuat untuk melanjutkan semangat pluralisme ala Gus Dur, tidak akan melulu berisi buku-buku mengenai pluralisme. “Prinsipnya sama dengan perpustakaan sebelumnya. Yaitu, disesuaikan dengan target pembaca yang akan kita datangi. Kalau yang akan kita datangi adalah anak TK atau PAUD, tidak mungkin akan diisi buku pluralisme yang teoritis kan?” terangnya.

Tahun 2010 adalah tahun ketiga berjalannya perpustakaan keliling Galang Press. “Kami menggunakan subsidi silang. Perpustakaan ini murni non profit sifatnya. Tujuan utama kami mengembangkan minat baca di masyarakat. karena itu, target utama kami adalah komunitas masyarakat. Dan selama ini, memang meraka yang paling banyak memanggil perpustakaan kami,” ungkapnya.

Perpustakaan keliling ini juga dibuat agar para penerbit lain tergugah untuk melakukan hal yang sama. “Kami rasa program perpustakaan keliling pemerintah sudah cukup baik. Karena itu kami sebagai pihak swasta berusaha membantu. Inginnya sih penerbit lain juga begitu,” tuturnya, lantas tersenyum. (luf)

*) Dikronik dari Jawa Pos, Radar Jogja, 6 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan