-->

Kronik Toggle

Lanjutan Kasus JJ Rijal

DEPOK – Sidang perkara salah tangkap dan penganiayaan oleh tiga oknum polisi dari Kepolisian Sektor Beji, Depok, terhadap sejarawan dari Komunitas Bambu, JJ Rizal, berlangsung di Pengadilan Negeri Depok, Selasa (16/2). Sidang menghadirkan enam saksi, tiga di antaranya anggota Polri.

Dua polisi yang menjadi saksi memberikan keterangan yang cenderung berbelit-belit. Akibatnya, majelis hakim sempat mencecar saksi polisi tersebut.

Sidang hingga petang itu dipimpin ketua majelis hakim Syahri Adamy dan dua hakim anggota, Lucas Sahabat Duca dan Dariyanto. Ketiga terdakwa oknum polisi adalah Briptu Anthony (35), Briptu Supratman (36), dan Briptu M Syahrir (34).

Saksi adalah Salman Fadli (anggota Satpam Depok Town Square), Baco Dewa (warga Depok), dan Ali Tualeka (warga Depok). Ketiga saksi polisi Polsek Beji adalah Aiptu Endang Kuswara, Briptu Hadijanto, dan Aiptu Sugito. Adapun jaksa penuntut umum adalah Basuki dan Susanto.

Perkara itu berawal dari penangkapan terhadap JJ Rizal yang ditangkap dan dipukuli polisi dari Polsek Beji, Sabtu, 5 Desember 2009, pukul 23.30 di Depok Town Square (Detos). Polisi mengaku, ketika itu mereka mengira Rizal adalah pencopet.

Saksi Briptu Hadijanto, yang saat kejadian ditugaskan membawa JJ Rizal dari depan Detos ke Polsek Beji, mengaku tidak melihat luka-luka pada wajah Rizal yang sebelumnya dipukuli para terdakwa. Para terdakwa merupakan rekan Hadijanto. Padahal, ketika itu Hadijanto di dalam mobil. Dia menuju Polsek Beji, duduk bersebelahan dengan Rizal.

Hakim Lucas lalu mengonfrontasikan kesaksian Hadijanto dengan hasil visum yang diambil 6 Desember 2009 pukul 03.29 yang menerangkan adanya luka-luka di wajah Rizal.

”Hakim tidak bergantung pada kesaksian Anda. Ini masalah logis atau tidak logis,” kata Lucas.

Saksi Aiptu Sugito, yang menerima Rizal di Polsek Beji, juga sempat menyangkal melihat Rizal dalam kondisi luka-luka. Namun, setelah hakim mencecar, Sugito akhirnya mengaku menyaksikan luka pada bagian bawah hidung Rizal.

Pengacara Rizal, Ivan Wibowo, mengatakan, bagaimanapun, persidangan itu merupakan cermin perubahan di tubuh Polri yang berusaha mengutamakan proses hukum ketimbang solidaritas korps.

”Perubahan ini harus terus didorong meski di level bawah masih resisten,” ungkap Ivan.

Sumber: Harian Kompas, 17 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan