-->

Lainnya Toggle

Kuasa dalam Sinema

WEB SinemaOleh Dewan Pembaca Indonesia Buku

Judul: Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat dan Sinema Orde Baru
Judul Asli: Indonesian Cinema: Framing The New Order
Penulis: Krishna sen
Penerjemah: Windu Wahyudi Jusuf
Penerbit: Ombak, Jogja
Edisi: Perdana, 2009
Tebal: xxviii+317 hlm

AWALAN

Penelitian yang serius tentang relasi sinema dan kekuasaan di masa Orde Baru belum banyak dilakukan. Paling tidak beberapa buku yang sudah terbit bisa disebutkan di sini, antara lain Karl Heider, Indonesian Cinema: National Culture on Screen (1991); Salim Said, Shadows on Silver Screen: A Social History of Indonesian Films; Budi Irawanto, Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia; dan Krishna Sen, Kuasa dalam Sinema: Negara Masyarakat dan Sinema Orde Baru.

Buku-buku yang disebutkan itu bukanlah buku katalog sebagaimana disusun JB Kristanto Katalog Film Indonesia atau fragmen-fragmen historis sebagaimana buku Misbach Yusa Biran, Bikin Film di Jawa. Buku-buku itu merupakan kajian kritis dan reflektif bagaimana rezim Orde Baru bermain dan menanamkan ranjau kuasa dalam teks dan bermeter-meter seluloid.

Khusus karya Sen ini. Guru Besar di Faculty of Arts, Humanities and Social Sciences The University of Western Australia ini membedah, tak hanya soal tarik menarik kekuasaan negara dalam sinema, melainkan juga mengajukan kajian sinema di Asia dan hukum ketergantungan yang melilitinya dengan “pusat” sinema dari dunia ketiga, Hollywood.

Di bab pertama, sebelum memasuki pusat kajian sinema Orde Baru, fenomena itu terlihat jelas bagaimana dominasi Hollywood di bioskop Indonesia dan gerakan-gerakan yang coba menghalaunya.

Setelah itu barulah Sen mengurai satu per satu film-film yang menurut Sen bisa mewakili kajian politik (militer), kelas sosial, dan gender. Beberapa judul film yang diurai Sen dalam buku ini antara lain 7 Wanita dalam Tugas Rahasia, Bukan Istri Pilihannya, Dr. Siti Pertiwi Kembali ke Desa, Doea Tanda Mata, Guruku Cantik Sekali, Halimun, Janur Kuning, Lewat Jam Malam, Max Havelaar, Nasib si Miskin, Nopember 1928, Perang Padri, Perawan Desa, Rembulan dan Matahari, Roro Mendut, Serangan Fajar, Si Boy, Si Mamad, Suci Sang Primadona, Tangan-Tangan Mungil, Yang Muda Yang Bercinta, dan Zaman Edan.

Tiga pisau yang coba dipakai Sen dalam membedah film-film itu: politik kuasa negara yang dikuasai sepenuhnya Soeharto (serdadu), gender, teori ketergantungan. Termasuk di dalamnya mendedah ulang institusi sinema yang bermain di dalamnya, seperti Dewan Film, Badan sensor Film,distributor, dan badan-badan korporatik lainnya.

Berfokus pada operasi kekuasaan lewat teks-teks film semasa Orba berjaya, buku ini memberi jalan lempang untuk memahami bahwa produksi film kerap tak lebih dari persoalan saluran informasi dan propaganda. Urusan artistik film sebagai karya seni bisa dibilang nomor buncit.

Lewat struktur industri perfilman, Sen menunjukkan kepada kita bagaimana negara hadir sebagai “pembina” perfilman nasional. Segera saja kita melihat berbagai institusi yang menjadi pemegang tunggal “pedoman dan pembangunan” industri film, mulai dari perangkat pemerintahan di bawah Departemen Penerangan, badan sensor, dewan perfilman, hingga penyelenggaraan festival film.

Pandangan Dewan Pembaca, lihat disini>>

4 Comments

Syafruddin Azhar - 02. Feb, 2010 -

Ulasan yang bernas, sungguh menarik. Lanjutkan…
Jangan lupa reviews novel-novel Kakilangit Kencana ya, bukunya sedang dalam perjalanan meluncur ke TKP.

Salam buku.

Eri - 02. Feb, 2010 -

Bravo, Indonesia Buku! Hiduplah Indonesia Raya! 🙂

Perpustakaan C2O - 14. Feb, 2010 -

Wah kebetulan kami juga barusan memuat ulasan buku bahasa Inggrisnya Semoga mendorong penerbitan kajian2 film lainnya yang belum diterjermahkan..

sigid kusumo aji - 28. Mar, 2010 -

review yang ciamik.. Terus Gan..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan