-->

Tokoh Toggle

Indra Prayana:Orang Muda Pengumpul Buku Tua

indra PrayanaRuang yang disebut perpustakaannya, sebenarnya lebih mirip gudang. Luasnya hanya 3×3 meter. Ada tiga rak buku dengan ukuran variatif dan satu lemari berbahan kayu jati. Ditambah lagi beberapa kardus. Semuanya berisi buku yang tahun terbitannya dimulai 1860 sampai dengan 1980-an.

Selain buku, ada pula beberapa majalah dan koran karya perusahaan pers nasional yang terbit sebelum Indonesia merdeka sampai dengan pascakemerdekaan. Sebut saja Sin Po, koran berbahasa Melayu yang diterbitkan Kwee Kek Beng. Pada jurnal Madina, pengamat media Agus Sudibyo menyebut Sin Po terbit pada Oktober 1910. Selain Sin Po, media lain yang dikoleksinya ada Koran Merdeka, Djaya, Koran Angkatan Bersendjata, Koran Pikiran Rakyat, dan beberapa eksemplar Jurnal Prisma.

Buku-buku tua dan koran tua itu merupakan koleksi Indra Prayana, seorang staf administrasi di SMUN Pasundan 8 Bandung. Jebolan Universitas Langlangbuana tahun 2001 ini memulai aktivitas mengoleksi buku tua sejak tahun 2005.

“Karena hobi saja,” ujarnya singkat.

Akan tetapi, hobi itu tidak datang karena wangsit. Indra mengatakan saat lepas kuliah, ia memilih menjadi penjual buku di komplek Pasar Cihaurgeulis, Jln. Surapati Bandung. Ia bertetangga dengan beberapa penjual buku-buku pelajaran dan umum. Akan tetapi, hanya ada satu penjual buku yang kerap diamatinya. Namanya adalah Hidayat. Hidayat saat itu kerap didatangi pembeli bule dan ilmuwan. “Saya lihat buku-bukunya ternyata buku tua yang memang jarang ada. Saya tertarik melihat hal itu karena nilai nominal buku itu cukup lumayan,” katanya.

Acak loak dan barter

Indra, menurut kawan-kawannya sesama penjual buku, terbilang rajin berburu buku tua. Sejak zaman mahasiswa Indra sudah senang dengan buku. Terlebih buku tua. Maklum saat itu Ia juga aktif di dunia gerakan mahasiswa sehingga membaca menjadi kebutuhan. Perburuannya semakin gencar saat menjadi penjual buku di Pasar Cihaurgeulis.  “Terpengaruh juga oleh Hidayat,” katanya.

Ia pun mulai hunting. Demikian istilah untuk orang yang tengah berburu. Mula-mula ia menyatroni pasar buku di daerah Palasari. Di sini memang ada beberapa penjual yang menjajakan buku-buku, koran, dan majalah terbitan lawas. Perburuan tidak henti sampai Palasari. Ia teruskan ke pasar loak di Senen Jakarta Pusat sampai ke Taman Pintar di Yogyakarta. “Di palasari dapat beberapa, tetapi kebanyakan buku yang biasa,” katanya.

Ia berburu dengan modal sakunya sendiri. Dengan keuntungan berjualan buku atau dari gajinya, ia telusuri pasar dan para kolektor. Jumlah pasti dana pembelian bukunya tidak jelas. “Kalau ada yang pesan dan kebetulan belum jadi langganan saya akan minta uang muka. Tetapi, kalau untuk para pelanggan, saya jarang minta uang muka,” katanya.

Ia mengatakan tidak semua buku yang ia dapat berdasarkan keahliannya mengacak-acak pasar loak. Akan tetapi, di saat perjuangan mencari buku ada saja pihak yang mengajukan barter. Misalnya, saat ia menukar beberapa buku dengan lima edisi koran Sin Po. “Saya memilih Sin Po. Oleh karena itu, terbitan langka dan isinya bagus,” katanya. “Saya juga punya koleksi Harian Rakjat. Tetapi, sudah habis terjual semua,” katanya tertawa.

Ia mengaku memilih para calon pembeli. Untuk buku-buku berkelas “biasa” ia bisa menjualnya di pameran atau saat ada orang yang sengaja mencari. Akan tetapi, untuk buku-buku yang terhitung langka, ia memilih menjualnya kepada para kolektor murni atau peneliti. Ia mengatakan agak ragu menjual kepada orang dari lembaga perpustakaan.

“Biasanya dari lembaga perpustakaan itu kurang rapi dengan buku. Ada beberapa buku tua di Museum Sri Baduga (museum sejarah di Bandung) yang rusak dan halamannya tercecer dimana-mana. Ini sangat sayang,” katanya menambahkan.

Ia mengaku memiliki sepuluh pembeli tetap buku-buku tuanya. Cara bekerjanya dalam memuaskan para pelanggan dia lakoni dengan senang hati. Jika ada pesanan yang datang ia akan kembali berburu.  “Adalah celah-celahnya. Itu rahasia,” ujarnya terkekeh.

Kelahiran Tasikmalaya November 1976 ini ternyata bukan pemburu tahun saja. Ia mencari buku-buku yang spesifik bertema sejarah, sastra, dan budaya. Utamanya ia mencari sejarah Kesundaan. Maklum, ia bilang, karena lahir di tanah Sunda. Dan, hasilnya ia mendapatkan buku-buku soal Sunda yang sangat langka.

Misalnya, buku terbitan 1860 yang berkisah silsilah Kerajaan Sumedang Larang. Penulisnya adalah orang Belanda dan ditulis dalam bahasa Belanda. Lalu ada buku terbitan tahun 1880 mengenai cerita-cerita legenda Sunda yang diterbitkan di Belanda. Dan, buku kedua dari Abdullah Kadir Munsyi tentang pelayaran Abdullah bersama Thomas Raffles dari Kelantan ke Singapura. Buku ini terbit pada taun 1890. “Ada banyak soal Sunda dan sejarah. Saya suka buku-buku seperti itu,” kata suami beranak satu ini.

Katalog buku tua

Sejatinya Indra adalah penjual buku. Tetapi ia tidak sekadar menjual buku tua. Ia juga menjadi pengoleksi buku tua. Padahal di saat yang sama para penjual buku tua memperlakukan buku itu sebagai murni materi perdagangan. Dia memilih untuk menyimpan sebagian buku dan berpikir dua kali untuk menjualnya.

Ia mengaku memiliki tiga ratus bahan bacaan segala jenis yang ia simpan di lemari kayu berbahan jati. Setiap hari ia rawat buku-buku itu dengan kapur barus. Ia sebar di pojok lemari. Ia mengaku tidak punya biaya lebih untuk merawat buku-buku tua itu selain memperlakukannya dengan kasih sayang. “Tuh lihat udah ada yang sobek dan mudah copot. Jadi, harus hati-hati cara memegangnya,” katanya sambil menunjukkan buku terbitan 1800-an yang sudah agak rapuh.

Sekilas dari buku-buku tersebut seolah tersurat gaya hidup zaman saat itu. Dari buku-buku yang dipajang Indra juga seperti menyuratkan bagaimana motif orang membuat buku saat itu. Secara sederhana, soal gaya hidup dan motif penulis saat itu bisa dilihat dari sampulnya. Dari sampul itu seolah juga mengatakan tentang pemeo “jangan nilai hanya dari sampul buku” memang ada benarnya. Bagi ukuran orang di zaman sekarang buku-buku terbitan lama sangat tidak menarik bentuk sampulnya. Tidak ada ilustrasi gambar, tidak ada kutipan para tokoh dan tidak ada cap best seller.

Karena buku-buku tua nan langka itu adalah sejarah maka Indra berkeinginan untuk membuat katalog buku-buku tuanya. Di katalog itu ia akan memuat sampul buku dan ringkasan isi buku. Setelah itu ingin pula memindai buku-bukunya dalam bentuk digital. Saat ini kegiatan memindai buku-buku itu ke dalam format digital baru dilakukan sebagian oleh teman-temannya.  “Agar masih bisa dibaca dan diakses,” kata kawan yang sudah puluhan menulis artikel dari hasil bacaannya itu.  (agus rakasiwi – kampus_pr@yahoo.com)

*) Dikronik dari Pikiran Rakyat, 25 Februari 2010

9 Comments

elang semeru - 19. Jul, 2010 -

memang mengasyikkan berburu buku tua yg langka

yani - 25. Jul, 2010 -

Salut … buat Mas Indra.
saya juga penggemar dan penjual buku-buku tua nan langka.
memang mengasikkan.
salam buku-lawas.blogdpot.com

ridhoza - 24. Agu, 2010 -

wow..mantap..
sy punya nih buku karangan bapak presiden ir.soekarno
tahun 1964.

yg minat kirim email aja ke ridhoza@gmail.com

Hasan Nasution - 28. Sep, 2010 -

Saya ada sebuah buku tua yang sudah berumur lk.200 tahun buku tulisan tangan dalam huruf Arab-Melayu, tebal 112 halaman.
berhubung ada kepentingan saya akan jual buku itu,bila ada yang berminat Hub. saya, Hp: 081267632379,

obbeh - 22. Okt, 2010 -

mas agus saya punya 6 majalah National Geographic Society tahun 70 an edisi washington. ada yang minat ?

Dandan - 17. Jan, 2011 -

Mantap…ternyata hobi jika ditekuni dengan sabar bisa banyak membawa berkah…sukses selalu Dra..Salam dari Tanjungpinang

rahman - 18. Agu, 2012 -

mas,klo ada yg tertarik,saya ingin menjual buku “De Oorlog in Prent by Jan Feith (The War in cartoons)” thn 1915,jika berminat silahkan email ke pethe_bridle@yahoo.com

ibnu_bege - 16. Des, 2012 -

mas saya mau menawarkan koran jadul tahun 50an kalau berminat hub. kno.085642155054

rido - 20. Feb, 2013 -

mas..sy mau jual buku di bawah bendera revolusi jilid 1 cetakan ke 2 th 1963 kl berminat hub sy di 085366935953

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan