-->

Kronik Toggle

Grebeg Sapar Gunungan Seribu Buku

SLEMAN — Grebeg sapar yang telah lama terhenti di Dusun Ponggol, Pakem, Sleman, kembali dirayakan, Sabtu (13/2) sore. Sejumlah modifikasi ritual dilakukan untuk menarik minat, yakni materi gunungan berupa hasil bumi dan seribu buku.

Sabtu lalu, kreativitas baru kirab dan grebeg sapar tersebut disambut meriah warga. Anak-anak, muda-mudi, hingga orang tua tampak antusias.

Selain menghidupi tradisi, kami juga ingin meningkatkan minat baca masyarakat, ujar Ketua Panitia B Belariantata, akhir pekan lalu.

Ritual grebeg sapar itu sempat terhenti dan dibangkitkan kembali atas prakarsa budayawan Sindhunata enam tahun lalu. Kirab dan grebeg sapar merupakan perayaan tradisional leluhur bermakna doa dan ucapan syukur warga.

Menurut Belariantata, gunungan buku sekaligus menjadi ajang mendongkrak minat baca masyarakat. Buku yang dibagikan antara lain buku-buku pertanian, perikanan, hingga cerita anak.

Melalui grebeg sapar, masyarakat sekaligus diajak mencintai budaya, lingkungan, dan sesamanya.Grebeg sapar yang berongkos sekitar Rp 10 juta itu turut dimeriahkan pesta kembang api dan pembagian bibit tanaman kepada petani.

Petani mengaku senang karena kembali memiliki wadah mengucap syukur sekaligus berdoa untuk keberhasilan pertanian.

Setelah menggelar kirab, gunungan buku maupun hasil bumi diperebutkan masyarakat umum. Bila sebelumnya gunungan hanya diincar orang-orang  dewasa dan lanjut usia, kali ini remaja serta anak-anak turut berebut gunungan buku.

Baru tahun ini ikut berebut karena ada buku, kata Clara (16). Sebelumnya, ia tidak pernah ikut karena acara ini lebih untuk orang-orang dewasa.

Clara yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Pangudi Luhur mengaku sama sekali tidak mengerti maksud penyelenggaraan kirab dan grebeg sapar. Namun, dia mengatakan senang bisa bergembira dalam kerumunan massa sekaligus melestarikan budaya nenek moyang.

Sambut baik

Petani Dusun Sumberan, Trisno Harjono (65), mengatakan, masyarakat banyak terutama petani menyambut antusias  gelaran acara grebeg sapar yang sempat hilang tersebut. Ia tidak menjelaskan rinci latar belakang terhentinya  tradisi tersebut.

Antusiasme warga tidak hanya terlihat dari kerumunan massa, tetapi juga dari partisipasi. Mereka turut menyumbang dana dengan besaran yang bervariasi, dari Rp 10.000 hingga ratusan ribu rupiah per orang.

Grebeg sapar digelar dua tahun sekali.

Sumber: Kompas Jogja, 15 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan