-->

Lainnya Toggle

Demonstrasi Tulisan, Bukan Aksi

Oleh : Suyoto

Setiap orang dapat dipastikan pernah tersulut kemarahannya sebagai respons atas adanya suatu situasi dan kondisi yang tidak diinginkan kehadirannya. Di antaranya kebijakan publik oleh para elite pemerintahan, partai, agama maupun elite masyarakat tertentu.

Pada situasi demikian, masyarakat mudah terbakar amarahnya dan tergerak seluruh kekuatan fisiknya untuk mengekspresikan kekecewaannya menjadi tindakan yang kerap kali menembus batas-batas etika. Bahkan, dapat berkembang menjadi situasi yang mengarah pada terciptanya benturan fisik antarwarga maupun antara dengan aparat serta penguasa.

Wujud nyata dari aktivitas tersebut biasanya demonstrasi (unjuk rasa). Geliat masyarakat, termasuk mahasiswa, dalam mengaktualisasikan kejengkelannya diringi dengan pengerahan massa akan selalu menjadi pemandangan yang memiriskan hati dan perasaan, menakutkan dan mengkhawatirkan. Tidak jarang merusak sarana dan prasarana di ruang publik, bahkan menimbulkan banjir darah dan korban jiwa yang sia-sia.

Atas dasar itulah, masyarakat harus dapat berpikir jernih dan memobilisasi daya nalar bijaksananya serta mengkaji ulang aktivitas yang dapat melukai dan memakan korban jiwa.

Oleh karena itu, melakukan redefinisi, rekonstruksi dan reaktualisasi garis dan wujud perjuangannya dalam menggolkan setiap kehendak merupakan sikap bijak yang wajib terus dikembangkan dan diwujudnyatakan ke dalam bentuk ekspresi yang lebih manusiawi, etis, intelek, efisien dan efektif. Dengan cara itulah, kesia-siaan baik dari sudut waktu, tenaga, dana, harta benda maupun nyawa, dari setiap aksi akan dapat diperkecil dan bahkan mungkin dapat dieliminasi sampai kadar yang paling rendah.

Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang negatif dan berdampak destruktif, seseorang atau kelompok orang dapat menggunakan tulisan sebagai kristalisasi gagasan, ide dan perasaannya. Pengungkapan berbagai macam perasaan dan angan-angan melalui tulisan dijamin seratus persen tidak akan menyeret siapapun dalam aksi-aksi anarkhis dan menimbulkan korban sebagaimana kerap terjadi pada demonstrasi konvensional.

Siapapun memiliki kesempatan sama untuk menggunakan media massa cetak (koran, majalah, dan sebagainya) untuk mendemonstrasikan setiap perasaannya. Jalur media massa dapat dipandang sebagai wahana ekspresif yang paling aman dan lebih dari itu memiliki derajat yang lebih tinggi. Di samping sebagai wujud perjuangan yang tidak menimbulkan gejolak fisik, menulis juga mengekspresikan mapannya apresiasi keilmuan, nilai kebenaran, kesantunan diri dan sosial sekaligus mengibarkan primanya grade/derajat intelektual seorang penulis.

Lantaran begitu rendahnya risiko negatif dan destruktif sebuah karya tulis, maka layak kiranya bila aktivitas yang menumbuhkan motivasi gemar menulis mulai dilakukan sedini mungkin, terutama pada para siswa di sekolah dan para mahasiswa di kampus, seiring dengan kegiatan membaca. Reaktualisasi dan perubahan garis perjuangan dari demonstrasi fisik ke demonstrasi tulis, harus terus diperjuangkan siapa saja dan dari kalangan mana saja, lebih-lebih kalangan intelektual dan praktisi pendidikan melalui berbagai aktivitas yang mendorong gemar menulis.n

*) Praktisi Pendidikan di Malang dan Pemerhati Masalah Sosial

cakyoto@yahoo.co.id

**) Dikronik dari SURYA, 10 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan