-->

Kronik Toggle

Buku Sejuta Doa untuk Gus Dur Diluncurkan

JAKARTA-KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan kebhinekaan. Bagi sebagian simpatisannya, Gus Dur bahkan dianggap sebagai pahlawan yang turut menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui teladannya menghargai pluralisme.

Meski demikian, Gus Dur bukanlah manusia yang serta merta mengenal pluralisme semenjak lahir. Banyak faktor kunci yang membuat sosok Gus Dur dianggap sebagai bapak pluralisme seperti sekarang ini.

Hal inilah yang coba diangkat dan dibagikan oleh penulis Demien Dematra dalam bukunya berjudul Sejuta Doa untuk Gus Dur.

Dalam peluncuran bukunya di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (8/2/2010), Demien mengatakan, buku Sejuta Doa untuk Gus Dur secara khusus mengupas sosok Gus Dur pada sisi pluralismenya. “Dia tidak plural begitu saja sejak lahir. Tapi ada banyak key factor yang membangun itu,” kata Demien.

Hadir dalam peluncuran buku tersebut sejumlah tokoh lintas agama, seperti Aisyah Badlowi yang merupakan adik Gus Dur, budayawan Remy Sylado, tokoh Katolik Romo Ismartono, hingga tokoh Parisada Hindu Darma Pusat Ketut Bantas.

Demien menjelaskan, jika faktor-faktor yang membangun sisi pluralisme Gus Dur itu bisa diangkat dan dibagikan kepada masyarakat, bukan tidak mungkin akan lahir banyak “Gus Dur-Gus Dur” lainnya.

Hal inilah yang kemudian ingin ia bagikan kepada kaum muda melalui bukunya. “Kalau faktor-faktor itu menginspirasi anak muda, bukan tidak mungkin akan lahir banyak Gus Dur berikutnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Aisyah Badlowi menyambut baik peluncuran buku mengenai sosok Gus Dur. Ia berharap apa yang telah diberikan Gus Dur selama ini bisa memberikan pengaruh yang positif kepada bangsa.

“Mudah-mudahan ini beri manfaat bagi anak muda dan bangsa Indonesia secara umum,” ucapnya.

c11-09/kcm

*) Dikronik dari portal online harian Surya, 8 Februari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan