-->

Kronik Toggle

BS akan Dibuatkan Buku Catatan Perjalanan

I:BOEKOE-40 hari setelah wafat pegiatan Bengkel Muda Surabaya(BMS), Bambang Sujiyono, rekan-rekan seperjuangan almarhum berencana membuatkan sebuah buku tentang catatan perjalanannya.

Buku yang akan merekam jejak perjalanan dan perjuangan almarhum itu digagas oleh BMS, Dewan Kesenin Surabaya (DKS), dan Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT). Rencananya buku itu akan diberi judul Panggil Aku BS: Catatan Perjalanan Seorang Aktivis, Seniman, dan Politisi.

BS adalah nama akrab Bambang yang menurut Rusdi Zaki, salah seorang karib almarhum, berawal dari kebiasaan di BMS ketika meninggalkan pesan di dinding kantor. “Dulu, kami jika meninggalkan pesan untuk siapa saja di papan tulis, selalu menngunakan inisial nama di akhir pesan. Saya biasa menulis RZ,sedangkan mas Bambang menulis BS. Hingga kemudian nama itu menjadi semacam trademark bagi setiap seniman di Bengkel” tutur Zaki mengisahkan ihwal nama BS itu.

Malam ini (2/2) para pegiat teater dan sastra berkumpul di pelataran kantor Dewan Kesenian Surabaya untuk mengenang almarhum seraya memperingatai 40 hari meninggalnya almarhum. Dalam acara itu hadir beberapa tokoh seniman Surabaya seangkatan almarhum. Diantaranya nampak Sabrot D Mailoboro (ketua DKS), Achmad Fauzi (ketua DKJT), Bagus Putuparto (seniman Blitar), Bogir Surogenggong (pengamen jalanan), Maemura, Aming Aminudin, Totok Sonatan, Ndindi Indiati, dan lain-lain.

Mereka bergantian membacakan puisi dan menyampaikan orasi budaya untuk mengenang almarhum. Solikhin, dalam orasinya menceritakan kepedulian almarhum pada wong cilik. Alkisah, saat itu almarhum diantar ke tempat pamannya Solikhin untuk pijat. Ternyata setelah pamannya meninggal, almarhum mengajak Solikhin berziarah ke makannya sambil mengatakan,”Pamanmu itu tokoh, ia tokoh Muhammadiyah dan mendirikan banyak sekolah, ayo kita ziarah”. Hal kecil itu bahkan tak diketahui oleh Solikhin sendiri.

Kesaksian lain disampaikan oleh Ndindi Indiati, mantan ketua BMS dua periode. Bagi Ndindi, BS adalah bapak, kakak, sekaligus guru. Beliaulah yang mengajarkan pada Ndindi untuk berani melawan dan berdemonstrasi ketika kantor Bengkel Muda Surabaya akan digusur dan dipindah dari Balai Pemuda.

Kenangan demi kenangan dari masing-masing orang tersebut yang akan menjadi materi buku yang hendak disusun. Buku ini selain berisi perjalan hidup almarhum dan aktivitasnya, juga berisi testimoni dari berbagai kalangan yang pernah dekat dengan almarhum. Demikian dijelaskan Farid, salah satu panitia acara 40 hari wafat BS pada IBOEKOE. (DS)

1 Comment

online - 22. Feb, 2010 -

Terima kasih untuk blog yang menarik

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan