-->

Kronik Toggle

Undangan Online Ancam Usaha Percetakan

YOGYAKARTA- Usaha percetakan kartu undangan pernikahan kini tengah menghadapi ancaman tren pengiriman undangan online melalui internet. Banyak calon pengantin memanfaatkan fasilitas situs web jejaring sosialfacebook dan twitter untuk menyebarkan un dangan secara gratis dan cepat kepada teman-teman mereka.

Dampak pengiriman undangan pernikahan via internet terhadap usaha percetakan sudah terasa selama setahun terakhir. Menurut Khristopha, pemilik usaha percetakan In-Line Media yang berada di Jalan Monumen Jogja Kembali, jumlah pemesanan kartu undangan turun sekitar 30-50 persen.

“Kalau biasanya calon pengantin memesan 200-500 undangan, maka setahun terakhir jumlahnya perlahan-lahan turun. Sekarang, rata-rata jumlah pemesanan hanya 100-300 buah saja,” katanya saat ditemui, Jumat (4/12).

Penurunan order juga dirasakan Husein, pengusaha percetakan kartu undangan di Pakualaman, Yogyakarta. Bahkan, konsumen juga terkadang meminta pengusaha membuatkan undangan versi digital agar lebih mudah diunggah di internet.

Ia melanjutkan, apabila tren mengirimkan undangan pernikahan lewat internet ini terus berkembang, maka usaha percetakan kartu bisa merugi. Terlebih, harga kertas dan biaya penjilidan nyaris tak pernah turun. Jika tidak diimbangi jumlah orderan yang besar maka modal pengusaha bisa terus terkuras.

Di mata konsumen, pengiriman undangan pernikahan lewat situs jejaring sosial jelas lebih efisien dan hemat. Menurut Gita Dila (25), warga Mergangsan, anggaran untuk persiapan pernikahan bisa dihemat lebih dari 30 persen.

Tadinya saya menganggarkan Rp 2 juta untuk memesan 500 kartu undangan, tapi dengan menyebar undangan onlineuntuk 300 teman, maka hanya perlu Rp 1 juta saja untuk 200 undangan cetak untuk tamu-tamu khusus dan penting, katanya.

Selain murah, ditambahkan Andrian (30), warga Godean, Sleman, pengiriman undangan pernikahan lewat facebookjuga memungkinkan ia memastikan jumlah tamu yang datang ke pesta pernikahan. Di situs itu terdapat pilihan bagi penerima undangan untuk datang, mungkin datang, atau tidak datang ke pesta pernikahan. Dengan begitu, ia bisa menyesuaikan anggaran pesta la in, misalnya untuk sewa kursi atau katering makanan.

Khristopha mengatakan undangan online memang jadi ancaman, akan tetapi bisa juga dianggap peluang. Ia kini tengah merintis jasa pembuatan desain undangan online . Tak sekadar gambar yang diunggah di situs jejaring sosial, Khristopha juga membuatkan undangan dalam bentuk situs pribadi, sehingga calon pengantin bisa menambahkan banyak fasilitas multimedia seperti musik atau film, bahkan berinteraksi langsung dengan teman-teman mereka.

“Bagaimanapun kami harus kreatif jika ingin bertahan dalam bidang usaha ini. Jika tidak, pasti kami akan gulung tikar dalam waktu 1-2 tahun ke depan,” ujarnya.

*) Dikronik dari media online Kompas, 4 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan