-->

Kronik Toggle

Tiga Polisi Pemukul Direktur Penerbit Kobam JJ Rizal Ditahan!

JAKARTA – Setelah diperiksa sejak Minggu malam, tiga anggota Polsek Metro Beji ditahan di Polda Metro Jaya, Senin (7/12). Ketiga anggota polsek itu ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus salah tangkap yang menjadikan peneliti sejarah JJ Rizal sebagai korban.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar semalam membenarkan kabar itu. ”Ya, mulai hari ini ketiganya ditahan penyidik di Reserse Kriminal Umum,” ujarnya.

Kepala Satuan Reserse Mobil Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Ahmad Rivai secara terpisah mengatakan, pihaknya meminta keterangan dua petugas satpam di lokasi kejadian. Saksi membenarkan adanya penangkapan Rizal dan pemukulan itu. ”Kami tidak membedakan anggota polisi atau tidak. Kalau polisi yang bersalah, ya tetap diproses,” ucap Rivai.

Meski sudah ditahan, menurut Rivai, ketiga personel itu belum dicopot dari keanggotaan mereka sebagai polisi. Pencopotan harus diputuskan di persidangan.

Secara terpisah, Rizal meminta dukungan ke sejumlah lembaga, antara lain Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Dukungan dibutuhkan untuk mengawal kasus salah tangkap agar penuntasan kasus tidak berubah fokus.

”Saya berharap agar kasus ini dijaga bersama untuk mendorong polisi memperbaiki dirinya dan agar polisi menjadi pengayom masyarakat,” ucap Rizal.

Rizal menyayangkan pernyataan sejumlah pejabat kepolisian yang menyebut keterangan yang simpang siur soal peristiwa pemukulan terhadap dirinya. Beberapa pernyataan itu, misalnya, menyebut bahwa malam itu polisi tengah melakukan operasi narkoba, ada pula yang menyebut bahwa polisi justru tengah berupaya menyelamatkan Rizal. ”Itu seolah-olah polisi ingin mencari pembenaran atas pemukulan terhadap saya. Malam itu suasana damai-damai saja, tiba-tiba mereka datang menyergap,” kata Rizal.

Dia juga menolak bila dianggap tidak kooperatif saat kejadian karena ketika itu dia tidak diberi kesempatan berbicara apa pun, tetapi langsung ditangkap.

”Mengapa tidak ada proses penangkapan seperti ketika polisi akan menilang pelanggar lalu lintas. Dengan sapaan dan prosedur tertentu, bisa dihindari juga salah tangkap seperti yang saya alami. Terus terang, saya tidak merasa diayomi oleh polisi. Padahal, katanya polisi adalah pengayom masyarakat,” ucap Rizal.

Dia mengaku akan menolak upaya damai yang ditawarkan polisi pascakejadian itu. Rizal tidak menargetkan adanya pencopotan dari jabatan, dipenjara, atau dihambat kenaikan pangkat lantaran salah tangkap. Targetnya agar ada reformasi di tubuh polisi sehingga kasus salah tangkap bisa dihindari. ”Saya yakin, kasus yang saya alami ini adalah puncak gunung es,” ujar Rizal yang

akan membawa kasusnya ke Komisi Kepolisian Nasional.

Ketua LBH Nurkholis mengatakan, pihaknya mendampingi Rizal sejak pelaporan ke Polda Metro Jaya hingga penyusunan berita acara pemeriksaan. Kasus ini akan terus dipantau.

Benahi perekrutan

Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri mengaku mulai tahun depan institusinya akan membenahi seluruh proses perekrutan serta pendidikan bagi para calon bintara kepolisian.

Bambang mengakui, memang masih terdapat banyak kekurangan dari proses pendidikan calon bintara kepolisian yang ada sekarang. Dia menilai prosesnya terlalu pendek, hanya empat bulan. Di tahun mendatang, proses pendidikan bagi para calon bintara kepolisian itu akan dilakukan selama delapan bulan, ditambah proses magang selama empat bulan. ”Sekarang bayangkan, pendidikan mereka (bintara) kan hanya empat bulan. Bisa dibayangkan bagaimana budaya dan kelakuannya. Nanti kami didik delapan bulan dengan magang empat bulan. Jadi, ke depan saya benar-benar di-back up personel yang profesional,” ujar Bambang berjanji menindak anak buahnya jika ada kesalahan prosedur.

Anggota Kompolnas, Novel Ali, juga menyebutkan, peristiwa salah tangkap itu amat memalukan. ”Kejadian ini memalukan sekali dan bukti bahwa banyak anggota Polri yang bekerja tidak profesional,” katanya.

* Dikronik dari Harian Kompas Edisi 8 Desember 2009 dengan judul “Tiga Polisi Beji Ditahan”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan