-->

Kronik Toggle

Tentang Golagong

golagong“Balada Si Roy” ditulis Gola Gong sejak di bangku SMA.  Semua ditulisnya di puluhan buku hariannya. Sepulang dari perjalanan mengelilingi Indonesia (1987), Gong membacai buku hariannya yang dia kirim ke rumah dari tempat-tempat yang dia singgahi.

“Saya terinspirasi menulis ‘Roy’ dari Old Shaterhand, Tom Sawyer, Musashi, Papillon, dan Jim Bowie. Karakter-karakter ini saya ramu dan melahirkan tokoh ‘Roy’!” begitu Gong membongkar resepnya. “Dari realitas ke fiksi, begitulah ‘Roy’! Fifty-fifty!”

Sepulang mengelilingi Asia (1991 – 1992), Gong memutuskan untuk mengakhiri “Balada Si Roy” di buku kesepuluh. Dia merasa prihatin, karena ternyata banyak pembaca remaja mengambil hal-hal negatif yang dilakukan ‘Roy’.

“Pernah suatu malam, seorang pembaca remaja dari Jawa Timur  datang ke rumah, mengabarkan tidak naik kelas seperti ‘Roy’! Atau kalau sedang jadi pembicara, beberapa fans menawari saya ganja. Dan masih banyak lagi….,” Gong mengenang.

Yang paling membuatnya gamang, ketika para orang tua pun mengiriminya surat. “Kebanyakan mereka menyarankan saya, agar menulis cerita yang baik. Jangan seperti ‘Roy’. Mereka mengeluhkan prilaku anak mereka, yang memilih pergi naik gunung daripada sekolah!”

Hampir 6 tahun, Gong vakum menulis novel. Kelima jarinya seperti kaku. Pada 2000, Gong muncul lagi dengan novel “Nyanyian Perjalanan”, kumpulan cerpen bersama Helvy Tiana Rosa  dan “Al Bahri”. Keduanya diterbitkan Asy-Syaamil. Malah “Al Bahri” disinetronkan oleh PT. Indika dan tayang di TV7. Kemudian novel trilogi; Pada-Mu Aku Bersimpuh (Dar!Mizan) yang disinetronkan PT. Indika pada bulan puasa (2001) dan tayang di RCTI. Tema-temanya jauh berbeda dengan “Balada Si Roy”. Sekarang Gong lebih tertarik menulis cerita-cerita Islami. “Setelah menikah, hidup saya sebagai lelaki sudah selesai. Kini saya sebagai suami dan ayah.”

Kini Gong dan istrinya, Tias Tatanka, mengelola  Rumah Dunia (RD), sebuah pusat belajar sastra, jurnalistik, rupa, dan teater di kebun belakang rumah mereka seluas 1000m2. Dengan mengelola Rumah Dunia, suami istri yang cinta buku ini berharap, bisa mengalihkan hal-hal negatif seperti merokok, tawuran, dan narkoba yang mulai menyerbu anak-anak dan remaja. Di Rumah Dunia ini, mereka berusaha memindahkan dunia lewat buku.

“Rumah Dunia adalah suatu tempat bagi anak-anak dan remaja menumpahkan segala imajinasi dan ekspresinya lewat kata-kata dan warna,” kata Gong menjelaskan. Di hari Senin hingga Minggu, mulai jam 13.00–17.00 WIB, mereka larut dalam segala kegiatan Rumah Dunia. Ada “Wisata Baca dan Dongeng” di hari Senin, “Wisata Gambar” di hari Selasa, di hari Rabu “Wisata Tulis”, dan Kamis dengan “Wisata Lakon/Teater”, “Klub Diskusi” di hari Sabtu, serta Minggu sore dengan “Kelas Menulis” (jurnalistik, fiksi, dan skenario) untuk siswa SMU dan mahasiswa. “Selain itu juga, kami bermaksud membangun generasi baru Banten di masa dua puluh tahun mendatang yang pintar dan kritis, serta berjiwa pionir serta mandiri.”

“Balada Si Roy” adalah karya klasik Gola Gong, yan tetap disukai pembaca muda. Beberapa pembaca mengatakan, sebagai tokoh “Roy’ tetap relevan di masa sekarang yang hedonis. Awalnya, “Balada Si Roy” diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Kini “Beranda” menerbitkannya lagi dalam kemasan baru. Kesepuluh buku digabung dalam empat buku.

*) Dikronik dari Kompas, 7 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan