-->

Kronik Toggle

SAFARI JURNALISTIK:SMA Muhammadiyah 2 Surabaya

Tampilkan Parikan Lima Bahasa

Surabaya wa ezynu no moto da

Hohei tekina hatsu hatsu

SMAMDA no seito wa bijin ga ippai

Da san jyaratizumu no syoosya to naru

SURABAYA – Kalimat berbahasa Jepang itu dengan fasih terlontar dari bibir Larasastri Ratnaningtyas dalam Safari Diklat Jurnalistik di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya kemarin (15/12). Kalimat itu tidak hanya dibaca, tapi juga dilantunkan dalam logat parikan. Sebait kalimat itu kurang lebih bercerita soal Surabaya, Kota Pahlawan yang sarat pembangun an, dan bahwa pelajar Smamda bangga ikut Safari Diklat Jurnalistik tahap ketiga.

Selain dalam bahasa Jepang, parikan ala arek-arek Smamda (sebutan SMA Muhammadiyah 2 Surabaya) itu juga dibawakan dalam empat bahasa lain. Yakni, bahasa Indonesia, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, dan bahasa Arab. Yang membacakan adalah enam siswi. Mereka diiringi tiga pelajar yang menabuh bonang dengan nuansa Suroboyoan.

Siswa yang membawakan pa rik an lima bahasa itu adalah anggota teater SMA Muhammadiyah 2. “Inti kalimatnya sebetulnya sama. Tapi, dibawakan dalam lima bahasa berbeda. Kami terins­pirasi acara Opera Jawa di televisi,” kata Auravita Astania, siswa kelas X-10 yang kemarin ikut menampilkan parikan.

Sebelum penampilan parikan lima bahasa, Safari Diklat Jurnalistik di SMA Muhammadiyah 2 kemarin dibuka dgan penampilan Knalpot, yang membawakan musik dengan paduan bunyi me­sin motor dan klakson.

Bukan hanya siswa yang tampil, seluruh penghuni sekolah mem perlihatkan kreativitas de ngan mengenakan aksesori berbahan koran. Ada topeng yang ditempeli kertas koran, topi ala pesulap, rok rumbai-rumbai dari koran, juga jubah panjang dari koran yang ditempeli gambar tengkorak raksasa. Sebelum diklat, tiap kelas memang diimbau sedapat-dapatnya tampil kreatif dengan media kertas koran.

Bahkan, para guru pun tampil de ngan beragam aksesori dari koran. Ada yang pakai blangkon koran dan dasi kupu-kupu dari koran. Salah seorang guru, Hidayat, bahkan berani tampil heboh. Dia mengenakan jubah rumbai-rumbai, topi kerucut berumbai, dan penutup mata sebelah ala bajak laut. “Ini spontanitas. Yang ndandani anak-anak,” kata Hidayat.

Lorong-lorong lantai satu sekolah di kawasan Pucang itu juga dijadikan ajang pamer 29 mading. Seluruh mading itu karya siswa yang khusus dilombakan untuk Safari Diklat Jurnalistik. Setiap kelas wajib membuat satu ma ding. Tujuannya, menyalurkan kreativitas siswa di berbagai bidang, terutama jurnalistik.

“Di sekolah ini ada 35 ekstrakurikuler. Safari diklat ini kami pandang sebagai ajang yang tepat untuk menyalurkan kreativitas di berbagai ekstrakurikuler. Yang mungkin untuk ditampilkan hari ini kami minta tampil,” kata Fathur Rohim, kepala SMA Muhammadiyah 2 Surabaya.

Program hasil kerja sama Jawa Pos dengan HPBI Jatim, Balai Bahasa Surabaya, serta Dispendik Surabaya, Sidoarjo, dan Gre sik serta Honda dan Flexi itu juga diharapkan bisa menjadi sarana pemerataan kemampuan menulis siswa dan guru.

Lomba baca berita di SMA Muhammadiyah 2 kemarin di ikuti 23 peserta. Danan Primandana dari kelas X-1 tampil sebagai juara. Peringkat kedua dan ke tiga disabet Farida Fikriyah dari kelas X-8 dan Nurhayati Wi dianingrum dari kelas X-3. (rum/soe)

Kejutan Ultah di Festival Bahasa

SEGMEN festival bahasa dalam Safari Diklat Jurnalistik di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya kemarin tidak hanya menampilkan para peserta lomba baca berita. Acara itu juga dimeriahkan penampilan beberapa band asal sekolah tersebut.

Namun, ada yang berbeda saat band EON tampil. Sesaat sebelum band berpersonel lima cowok itu memainkan lagu, mereka terlebih dahulu memanggil seorang temannya ke panggung.

“Andre Fajar Maulana, tolong ke panggung,” pinta vokalis EON. Teman-temannya yang lain ikut memanggil-manggil Andre. Begitu Andre hadir di panggung, para personel EON langsung menyanyikan lagu Happy Birthday.

Seorang pelajar lain juga keluar dari belakang panggung sambil membawa kue tar cokelat. Andre, yang tadi dipanggil oleh teman-temannya, tampak kaget, namun senang. Dia meniup lilin pada kue ultah itu di panggung.

Dasar anak muda, perayaan ultah kejutan itu tidak hanya diisi dengan menyanyikan lagu ulang tahun. Setelah Andre selesai meniup lilin, kue ultah ke-18 Andre langsung dicolek oleh teman-temannya. Bekas colekan itu kemudian disapukan ke sekujur rambut, wajah, dan badan Andre.

Andre, yang wajahnya berlepotan krim kue, mengaku terkejut sekaligus senang mendapatkansurprise ultah dari teman-temannya. “Anak-anak EOS kan sekelas sama aku. Tadi ya sempat kaget pas dipanggil ke panggung, sekarang rasanya kaget campur malu. Banyak yangngeliatin, he he,” katanya. (rum/dos)

*) Dikronik dari koran Jawa Pos, edisi 16 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan