-->

Kronik Toggle

Puisi Rama Prabu: Gie, Sang Demonstran

:/soe hok gie

Soe Hok Gie: “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

1:
siapa lihat tiang triangulasi
akan ingat soe hok gie
terjerat maut di lembab ketinggian
mahameru, puncak abadi para dewa
sendiri meratap jejak pengabdian raga
mencintai tanah air yang kan segera berakhir
dijemput dewa dan sepasukan malaikat

(uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering) *)

2:
ini adalah kawah, candradimuka bagi sejantung jiwa
bagi manusia-manusia hendak moksa
membela kepentingan rakyat
sepenuh hikmat
maka, tak layak kalian gontai bersantai
tercenung merenung memanti hari yang agung
karena hari berdiri atas jati diri

Soe Hok Gie: “akhirnya semua akan tiba, pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui, apakah kau masih berbicara selembut dahulu?, memintaku minum susu dan tidur yang lelap?, sambil membenarkan letak leher kemejaku” *)

3:
Soe Hok Gie, dua sosok cinta

pada bangsa, pada wanita
pada indonesia, pada Sunarti, Maria dan Rina
itulah manusia!
berdiri di triangulasi, memimpin diri
agar pendakian selesai dengan tunai
menempakan gelaran perlawanan
pada zalim tirani kekuasaan

Soe Hok Gie: ” hari ini aku lihat kembali, wajah-wajah halus yang keras, yang berbicara tentang kemerdekaaan dan demokrasi, bercita-cita menggulingkan tiran, aku mengenali mereka
yang tanpa tentara, mau berperang melawan diktator, yang tanpa uang mau memberantas korupsi, kawan-kawan kuberikan padamu cintaku, maukah kau berjabat tangan, selalu dalam hidup ini?” *)

4:
kau, Soe Hok Gie

bukanlah manusia di persimpangan jalan
kau telah berdiri di tengah gelanggang
walau separuh usia
namun itu adalah tanda jasa dari sebongkah batu cinta
melawan lupa dari kita yang menjunjung watak kolonial
menjadikan bangsa sosok nan terjal

Soe Hok Gie: “lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita” *)

5:
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?” *)
itu bukan tanda tanya
karena itu kesimpulan jiwa
yang segera menghancurkan tahta dunia
mewujudkannya menjadi bara
bagi mereka yang tak mengenal usia

Soe Hok Gie: “haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu” *)

note:
*) kata-kata dan puisi Soe Hok Gie

Bandung,16 Desember 2009

**) Disalin dari catatan Facebook Rama Prabu
http://www.facebook.com/ramaprabu

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan