-->

Lainnya Toggle

Perihal Pencekalan Buku

Oleh : Budi Darma*

Dalam sejarah, ada tiga macam alasan mengapa sebuah buku dapat dicekal:

– karena buku tersebut mengandung unsur-unsur porno yang dianggap dapat merusak moral masyarakat

– karena buku tersebut  mengandung unsur-unsur Ideologi/aliran/kepercayaan yang dapat dianggap meresahkan masyarakat.

– karena buku tersebut dapat dianggap merusak nama baik seseorang/lembaga tertentu.

Yang berhak mencekal buku adalah Kejaksaan atas nama Pemerintah. Usul pencekalan sebuah buku dapat datang dari masyarakat, organisasi-organisasi tertentu, atau langsung dari Pemerintah sendiri.

Dalam menghadapi kasus pencekalan buku, kita harus dapat berpikir jernih dengan mempertimbangkan kepentingan (a). Pemerintah, dan (b). masyarakat.

Karena masyarakat pada umumnya melihat segala sesuatunya dari sudut pandang masyarakat saja, maka pandangan masyarakat tentunya bisa bertentangan dengan pandangan Pemerintah, karena, dalam memutuskan sesuatu, Pemerintah perlu mempertimbangakan dimensi-dimensi lain yang mungkin tidak sejalan dengan pandangan masyarakat umum.

Karena itu kita sering melihat kejadian sebagai berikut: pada waktu seseorang masih murni menjadi anggota masyarakat, dia selalu berbicara lantang. Tapi, begitu dia masuk ke jajaran birokrasi, dia berubah menjadi “diam.” Dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, juga tidak bisa menyalahkan Pemerintah. Harus ada aspek-aspek lain yang perlu kita pertimbangkan.

Aspek-aspek lain yang perlu kita pertimbangkan, antara lain:

– semua pencekalan buku pasti dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi tertentu.

– karena situasi dan kondisi tertentu itu, maka pencekalan buku bisa dibenarkan.

– pencekalan buku, pada dasarnya, bersifat sementara. Apabila situasi dan kondisinya sudah memungkinkan, pencekalan ini, baik ditarik secara resmi oleh Kejaksaan sebagai kepanjangan tangan Pemerintah maupun tidak, yaitu didiamkan saja, buku ini otomatis tidak akan tercekal lagi.

Contoh: (a). buku D.H. Lawrence Lady Chetterly’s Lover pernah dicekal karena dianggap porno. Jaman berubah, dan ukuran porno pun berubah, karena itu, tanpa pencabutan resmi atas pencekalan buku itu otomatis tidak tercekal lagi. (b). buku-buku Pramoedya Ananta Toer pada jaman Orba dicekal, lalu, karena situasi dan kondisi politik berubah, maka otomatis, tanpa pernah ada pencabutan pencekalan,buku-buku Pramoedya tidak tercekal lagi

Pencekalan terhadap buku D.H. Lawrence pada waktu itu dapat dibenarkan, karena ukuran porno pada waktu itu memang begitu.

Bagaimana mengenai pencekalan buku-buku pada hari-hari terakhir ini? Di luar buku George Adicondro, buku-buku yang dicekal itu masuk dalam kategori ideologi, bisa ideologi kiri, bisa juga ideologi kanan. Pemerintah mencekal buku-buku itu, tentunya dengan alasan buku-buku ini dapat memengaruhi masyarakat dalam arti negatif. Kalau pencekalan ini tidak disertai sanksi, maka kadar pencekalan ini bertaraf “imbauan.” Kalau pencekalan ini disertasi sanksi, maka pencekalan ini masuk ke wilayah hukum.

Andaikata buku George Adicondro dicekal, maka buku ini dapat dikatagorikan no. 3 di atas. Cara terbaik dalam menghadapi buku ini tidak dengan jalan mencekal, tapi dengan menerbitkan semacam buku putih untuk mengkounter pandangan-pandangan Adicondro.

*) Sastrawan, tinggal di Surabaya

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan