-->

Tokoh Toggle

Onno W Purbo, Dari Teknologi Komunikasi ke Teknologi Kewargaan

Onno Purbo2Jumat Kliwon, 17 Agustus 1962, jelang terang tanah, di Bandung, Onno W. Purbo lahir dari lingkungan keluarga yang mencintai ilmu dan memuliakan pendidikan. Ia sulung dari tiga adik dan semuanya menamatkan program kesarjanaannya di ITB dan sekaligus kampus ini memecatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Di jagat telematika lulusan terbaik Fakultas Teknik Elektro ini bukanlah sosok anonim. Bersama Asia Internet Interconnection Initatives (AI3) Project, organ riset internet paling berpengaruh di Asia, dan Computer Network Research Group (CNRG), lembaga yang diprakarsainya, Onno ikut memberikan cetak biru terhadap pengembangan internet di Indonesia.

Untuk ketekunan dan kepakarannya, sederet penghargaan telah diraihnya. Sebut saja Golden Award for Indonesian Telematika Figure dari Kamar Dagang Indonesia (2000), ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award dari ASEAN Federation of Engineering Organization (1997), atau Penghargaan Pemenang Adhicipta Rekayasa dari Persatuan Insinyur Indonesia. Selain itu Onno juga tercatat dalam buku American Men and Women of Science (1992). Di ranah publik, masyarakat internet menggelarinya ‘profesor internet’, bahkan sebagian mendaulatnya sebagai ‘menteri internet’.

Sejak menemukan hubungan antara radio dan komputer di masa kuliahnya di ITB, gagasan Onno soal internet murah tak pernah surut. Bersama rekan-rekannya ia antara lain menciptakan wajanbolic, yakni sebentuk antena untuk keperluan internet nirkabel yang berbiaya murah, karena terbuat dari wajan. Wajanbolic memiliki keuntungan, antara lain meningkatnya jarak jangkauan wireless LAN, dan rendahnya biaya akses internet, karena perangkat ini mudah dibuat dan hanya memerlukan sedikit biaya. Wajanbolic temuannya ini bisa dibuat dari barang sehari-hari yang mudah didapat, sehingga saat ini penggunaannya cukup populer di kalangan rakyat jelata.

Tapi menurut peraih master dalam bidang laser semikonduktor dan fiber optik di Universitas McMaster dan doktor di bidang devais silikon dan rangkaian terintegrasi Universitas Waterloo ini, di Indonesia, gelombang udara diidentifikasi sebagai sarana transportasi udara dan menjadi sumber daya alam yang “terbatas.” Ini hambatan yang memperlamban sirkulasi informasi. Akan lain, sekiranya rakyat kecil di pedesaan diberikan keleluasaan untuk membuat pemancar-pemancar siaran. Tak perlu berkekuatan pancar 100 kilowatt seperti izin yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha radio, rakyat di dusun cukup diberi 10 watt saja. Mungkin tidak bisa digunakan untuk adu gengsi, tapi kekuatan sebesar itu cukup untuk memberdayakan komunikasi interaktif: murni dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Dengan semangat membangun knowledge based society Onno mengirim surat kepada pemerintah mewakili komunitas wireless untuk meminta dibebaskannya frekuensi 2.4 Ghz. Surat yang menurut Onno adalah pernyataan “perang “ itu diterima Dirjen Postel, dan berkat surat itu, frekuensi itu hingga sekarang digratiskan.

Atas upaya dan kepeloporan itu, di Hari Jurnalistik Indonesia ini, Onno W. Purbo mendapatkan Anugerah Tirto Adhi Soerjo sebagai sang pemula yang telah mengubah teknologi komunikasi menjadi teknologi kewargaan.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan