-->

Kronik Toggle

[OBITUARI] Agus Sopian, Jurnalis Jurnal Nasional

[CATATAN: Agus Sopian makan dan terkena stroke sesudahnya. Dia jatuh di lantai dekat meja kerja. Kepalanya berdarah terkena pecahan piring. Langsung diantar ke rumah sakit namun dinyatakan sudah meninggal. Agus Sopian meninggal pukul 16:10, 9 Desember 2009]

* * *

Agus Sopian. Begitu namanya. Sosoknya kecil. Orang Garut. Saya lebih banyak mengenal Agus lewat karya-karyanya di majalah Pantau. Nyaris tak pernah bertemu. Tetapi semua teman yang saya jumpai sepakat bahwa kang Agus, begitu saya memanggilnya, adalah orang baik. Baik budi dan baik hati.

Saya mulai mengenalnya lebih dekat saat sama-sama bekerja di sebuah surat kabar baru “Jurnal Nasional”. Kang Agus menjadi Redaktur Pelaksana dan saya salah satu Redaktur. Kami sering bertemu saat Rapat Redaksi digelar.

Kang Agus teguh memegang prinsip jurnalisme. Dan dia rela berdebat berjam-jam untuk mempertahankan prinsipnya itu. Tetapi dia juga seorang yang terbuka dengan kritik. Bahkan kritik yang sangat pedas dan keras sekalipun.

Saya pernah bekerja di bawah almarhum saat pimpinan di Jurnas menugaskan saya memperkuat armada Redaksi Tabloid Koktail, salah satu penerbitan di bawah Jurnas.

Tim pengelola Koktail, termasuk saya kemudian membuat terbitan baru. Sebuah Majalah Seni. Namanya ARTi. Dan Mas Agus tetap memimpin tim yang sama dengan sedikit perombakan. Satu tahun penuh saya bekerja di bawahnya.

Dia pemimpin yang luar biasa. Juga konsisten. Saya sungguh beruntung bisa bekerjasama dengannya. Editingnya cermat. Cenderung kejam. Tapi dia selalu mampu menjelaskan mengapa dia membuang satu kata, satu kalimat atau mengganti diksi. Saya belajar banyak soal editing bidang kesenian dan budaya dari Kang Agus.

Sampai akhirnya tibalah 9 Desember 2009 itu. Empat SMS memberi kabar wafatnya Agus Sopian.

Saya mencoba memastikan kabar itu dengan menelfon rekan kerja salah satu Redaktur di Majalah ARTi. Dari Doddy, saya mendapat kepastian tentang kabar itu. Tak terasa air mata saya jatuh. Pipi saya basah. Sayapun mengubah arah perjalanan langsung menuju RS Persahabatan di Rawamangun, Jakarta Timur.

Di sana, sudah banyak teman yang datang. Kami bersalaman. Dan saya segera menuju tempat jenazah mendiang Agus disemayamkan di kamar jenazah. Semua orang menunggu kedatangan Yanti, isteri almarhum dan anggota keluarganya dari Bandung.

Sampai akhirnya jenazah dimandikan, lantas dibawa ke kantor “Jurnas”. Banyak handai taulan yang datang ke Gedung Jurnas dan ikut menshalatkan jenazah almarhum.

Sedih saya kehilangan seorang sahabat dan mentor jurnalistik yang baik. Kang Aguslah yang memperkenalkan saya dengan istilah garis api (firewall) satu prinsip utama jurnalisme yg tak bisa ditawar-tawar. Kang Agus pula yang mengasah tulisan saya agar lebih berbau jurnalisme sastrawi.

Puteri semata wayang mendiang Agus dan Yanti baru berusia 12 tahun, dan duduk di kelas 6 SD. Agus sendiri adalah anak tertua dari empat bersaudara. Kang Agus sebetulnya menderita sakit yang cukup lama, sejak lebaran tahun lalu. Saat itu, dokter memperingatkan almarhum agar mengurangi rokok, dan memperbaiki pola hidup karena ada ancaman terhadap jantungnya.

Almarhum sudah berupaya untuk hidup sehat. Tetapi umur benar-benar rahasia Tuhan dan hidupnya berakhir hari Rabu, 9 Desember 2009 saat peringatan hari anti korupsi sedunia.

Jenazah dimakamkan di Garut, Kamis (10/12). Semoga amal dan jasa baik almarhum diterima Allah SWT.

Selamat jalan kang Agus…. (Iwan Sams)

* Dikronik dari Harian Jurnal Nasional, 11 Desember 2009

1 Comment

cemputh - 18. Des, 2009 -

nah nah nah… di sana, bukan di sana. ini portal buku, hawa sastra, EYD sepele ajah masi kelupaan. gimana ini Mbak Sasa? (menghela napas..)

mm, saya pernah memprotes tentang penggunaan di ini pada titarubi yang bereditor agus sopian ketika itu. jadi ingat, semoga beliau melepas maap bagi semua. maap atas protesan saya yang beneran itu..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan