-->

Kronik Toggle

Muslimat NU Entaskan Buta Aksara

JAKARTA – Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) berkomitmen mengentaskan buta aksara di Tanah Air. Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, ini dilakukan melalui program pendidikan luar sekolah kejar paket A, B, dan C serta keaksaraan fungsional.

Khofifah mengatakan, meski Indonesia sudah merdeka lebih dari 60 tahun, masyarakatnya masih banyak yang buta huruf. Padahal, pemberantasan buta aksara juga sebenarnya telah dilakukan sejak awal kemerdekaan.

Komitmen Muslimat NU ini bukan tanpa dasar. ”Kebodohan dapat memengaruhi angka kemiskinan dan mendorong kekufuran,” kata Khofifah di Jakarta, Senin (30/11). Ia menyatakan, saat ini, Muslimat NU memiliki 56 ribu warga belajar keaksaraan fungsional.

Selain itu, ujar Khofifah, Muslimat NU juga memiliki 9.800 TK dan 11.900 TPA, 2.224 PAUD, dan 32 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air. Bahkan untuk TK, organisasi telah mendirikannya sejak 1963.

Sedangkan pendirian PAUD, sejak 2004. Menurut Khofifah, belum lama ini, pihaknya membangun kembali gedung PAUD di Sunur, Padang Pariaman, yang rusak akibat gempa. Pada 2008, PAUD ini terpilih oleh Departeman Pendidikan Nasional sebagai PAUD terbaik nasional.

Khofifah menambahkan, dalam bidang kesehatan, Muslimat NU memiliki sebanyak 57 rumah sakit dan rumah bersalin. Kini, organisasi ini aktif dalam program Millennium Challenge Corporation Indonesia/Immunization Project (MCCI/IP).

Program ini bertujuan meningkatkan indikator cakupan imunisasi di Indonesia, berdasarkan tolak ukur imunisasi DPT dan campak, menjadi 80,5 persen atau lebih tinggi, melalui peningkatan cakupan imunisasi anak-anak secara cepat. Hal ini akan dicapai dalam waktu dua tahun.

”Dengan keterlibatan Muslimat NU dalam program ini, upaya peningkatan cakupan imunisasi lewat peningkatan pemahaman terhadap imunisasi di kalangan wanita, khususnya anggota Muslimat bisa dilaksanakan dengan fokus dan efektif,” papar Khofifah.

* Dikronik dari Harian Republika Edisi 1 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan