-->

Tokoh Toggle

Muhidin M Dahlan:Anak Laut Itu Menggiring Buku

gmApa yang mesti kutulis tentang seseorang yang sekali mengetik namanya di Google, dalam 0,89 detik akan ada 34 halaman dengan 16ribu artikel yang merekam jejaknya? Tak sampai sedetik, semua almari simpanannya di jagad maya terbuka lebar-lebar. Dan orang akan dengan mudah menelusuri satu demi satu perjalanannya.

Jika aku menulis tentang perjalanan hidupnya, maka aku hanya akan menambah daftar panjang lemari biografinya di gudang data Google. Menggarami lautan namanya. Lagipula aku tak pernah bertanya secara khusus tentang perjalanan hidupnya. Pun dia tak pernah bercerita tentang itu. Setidaknya tak jauh beranjak dari apa yang terangkum dalam Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta yang kemudian berganti judul menjadi Jalan Sunyi Seorang Penulis. Maka ini aku nukilkan saja catatan dari mereka yang telah mencatat isi buku ini.

Judul : Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Jendela
Cetakan : Pertama, November 2003
Tebal : (xxx + 356) halaman
Rating : *****

“Scripta manent verba volant–yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.”

MUHIDIN M. Dahlan adalah anak muda yang berani berikrar bahwa menulis adalah pilihan hidup. Gagal kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta dan Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga di kota yang sama membuatnya harus mengganti orientasi hidupnya. Akhirnya keterampilan menulis artikel maupun resensi buku di sejumlah media massa membuatnya bisa untuk mempertahankan hidup atau untuk sekadar membeli buku.

Buku mungil ini berisi riwayat hidup Muhidin dan aktivitas kreatifnya dari mulai saat penulis masih menimba ilmu di sekolah menengah teknik di sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara hingga di pengembaraan intelektualnya di Yogyakarta. Buku yang dikemas cukup apik ini ditulis dengan gaya bertutur dan easy going sehingga enak dibaca.

Secara terus terang, ketika pertama kali menulis untuk buletin di organisasinya, Pelajar Islam Indonesia (PII), Muhidin hanya memindahkan tulisan orang lain. Praktis tulisan pertamanya itu adalah hasil rangkuman dari sejumlah buku. Seperti penulis pemula lainnya, saat tulisan dimuat ia sangat bangga. Beberapa istilah yang sebenarnya tidak dimengerti pun menghiasi tulisannya sebagai bentuk gagah-gagahan. Aktivitas dan energi menulis Muhidin terus bergelora hingga saat kuliah di Yogyakarta.

Setelah sibuk mengelola buletin kampus yang jatuh bangun karena keterbatasan dana dan penuh intrik, Muhidin mulai merambah media massa nasional. Tulisan pertamanya yang berupa tanggapan atas tulisan orang lain dimuat di halaman empat koran nasional terbesar di Indonesia. Padahal, halaman empat koran tersebut disebut-sebut kalangan penulis sebagai halaman angker karena kalau mengirimkan artikel untuk halaman itu harus siap-siap untuk menerima jawaban khasnya: Maaf kami kesulitan tempat untuk memuat tulisan Anda yang berjudul. (hal. 149)

Bukan berarti setelah tulisan sebelumnya dimuat, tulisan berikutnya akan melenggang begitu saja di mata redaktur. Bahkan saking frustrasinya, bagi Muhidin menulis artikel di koran adalah menulis untuk dikembalikan bukan untuk dimuat. Muhidin sangat merasakan itu. Sudah tak terhitung tulisannya yang ditolak baik oleh media lokal maupun media nasional. Resensi bukunya baru dimuat di media nasional setelah 32 resensinya ditolak media yang sama. Bahkan sebuah media lokal “mengharamkan” semua tulisan berlabel Muhidin untuk tampil di medianya. Ini gara-garanya Muhidin sempat mendamprat seorang redaktur media lokal karena artikelnya tak dimuat-muat.

Menulis adalah setali dengan aktivitas membaca. Gila baca sejak di udik adalah dasar berharga dalam perkembangan kegiatan kreatif Muhidin. Bahkan saat mendapatkan honor tulisan hanya sebagian kecil saja untuk biaya makan sebagian besar dialokasikan untuk membeli buku. Cinta dan komitmennya kepada tulis menulis dan buku menjadikan Muhidin sangat kuat menahan lapar dan derita.

Buku ini menjadi menarik karena selain menggambarkan kegiatan penulis dengan suka dukanya tetapi juga menggambarkan pribadi Muhidin yang terus terang dan unik. Saat kepincut cewek misalnya, ia menggunakan cara-cara yang tak galib. Muhidin nembak cewek lewat buletin yang dibuat khusus yang di dalamnya terdapat artikel yang penuh referensi dan catatan kaki. Tragis, Muhidin ditolak.

Kendati ia sebagai anak yang taat kepada Tuhan tetapi Muhidin juga tidak munafik ketika suatu saat harus menyalurkan hasrat seksualnya ke pelacuran. Hasil dari pelacuran tersebut Muhidin mendapatkan sejumlah parikan yang dikenal di lokalisasi seperti: Kapal keruk taline kenceng, arepo ngantuk barange ngaceng (kapal keruk talinya kencang, walaupun mengantuk kelaminnya tegang). (hal.188)

Muhidin juga membeberkan tentang kebobobrokan dunia penerbitan buku di Yogyakarta. Pengalamannya sebagai editor menjadikan ia sangat tahu tentang kelicikan, korupsi, dan tidak transparannya pemilik penerbitan di Yogyakarta.. Misalnya saja ada pemilik penerbitan yang sangat kaya tetapi karyawannya digaji sangat minim. Belum lagi persaingan antarpenerbitan. Bahkan di Yogyakarta sebuah penerbitan bisa memata-matai penerbitan lain agar tidak kedahuluan untuk menerbitkan buku yang sama. Ini biasanya buku terjemahan asing. Sebab penerbitan di Yogyakarta banyak yang mengabaikan hak cipta. Sehingga tidak aneh bila satu buku diterbitkan oleh dua penerbitan yang berbeda.

Membaca buku karya Gus Muh–demikian Muhidin kerap dipanggil temannya–serasa membaca cerita novel. Selain Muhidin, tokoh-tokoh dalam buku tersebut (sepertinya menggunakan nama samaran) mempunyai karakter yang jelas. Masalah cinta, konflik, persaingan, dan perselingkuhan juga menghiasi buku ini. Misalnya saja, dalam buku ini Muhidin menceritakan tentang perselingkuhan antara seorang pemilik penerbitan dan seorang editor freelance yang juga teman Muhidin.

Buku ini cukup informatif, sarat muatan, dan kaya referensi. Bagi penulis pemula atau siapa saja yang bercita-cita menjadi penulis profesional buku ini bisa menjadi inspirasi dan pendorong semangat untuk tidak menyerah begitu saja bila tulisan ditolak redaktur sebuah penerbitan. Buku ini juga layak dibeli para praktisi penerbitan dan pengamat penerbitan buku sebagai bahan refleksi tentang dunia perbukuan di Tanah Air.[]

–Yayat R. Cipasang

Ya, buku ini bercerita tentang seorang anak pelaut udik yang berangkat dari Palu, Sulawesi untuk menimba ilmu di Jogja. Ini memang roman. Dan jika dikait-kaitkan dengan kenyataannya, akan nampak seperti memoir perjalanan hidupnya. Apalagi ia bertutur dengan gaya orang pertama.

Pengakuannya padaku, tak semua yang ada dalam buku itu tertuang seperti adanya. Benar atau tidak, bagiku tak terlampau penting, buku ini cukup menjawab pertanyaan tentang siapa dia secara umum. Anak pelaut yang cukup pintar, nekat pergi ke kota dan berproses dengan pergulatan kehidupan kota Pelajar. Gagal menjadi sarjana, dan menemukan buku sebagai pelabuhan hidupnya. Maka ia pun bergumul dengan buku sejadinya. Hingga lahir anak-anak mengagumkan yang selalu menjadi kembang perbincangan di dunia buku. Dari tangan mudanya terlahir Mencari Cinta (2002, Di Langit Ada Cinta (2003),Terbang Bersama Cinta (2003.

Namanya mulai diperhitungkan ketika ia memilih judul yang mendobrak: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2003). Novel tentang pencarian seorang perempuan muda akan Tuhannya itu yang kemudian menyeretnya ke beberapa ‘persidangan’ umum dengan caci maki yang meruntuhkan nyali. Buku itu di bakar sekelompok ormas Islam dan dilarang beredar. Tapi ia tak gentar. Katanya, ia hanya ingin menunjukkan pola-pola pemahaman beragama yang tak sempit dan sektarian. Disini dia melakukan otokritik. Melalui buku ia memilih sendiri cara berdiskusinya.

Dan lahirlah anak-anaknya yang lain: Kabar Buruk dari Langit (2005), Adam Hawa (2005). Rekam jejak tentang buku ini tersimpan apik dalam situs Pembelajar.com yang ditulis Edy Zaqeus 18 Juli 2006.

Anda dikenal sebagai salah satu penulis yang cukup berani “mengobok-obok” wilayah ketuhanan dalam novel-novel Anda. Mengapa mengambil posisi demikian?

Yang perlu ketahui awal-awal, saya dibesarkan di lingkungan masjid. Saya jadi takmir masjid beberapa tahun, dilatih berkhotbah, dan men-training anak-anak remaja untuk militan beragama. Dan, kalau bisa berprestasi membom gereja dan membenci Pancasila sedalam-dalamnya. Dan, pada satu titik balik, saya disadarkan bahwa apa yang saya lakukan adalah kebodohan diri saya sendiri yang memang tak kenal dunia luar. Tak kenal buku. Jogja telah memurtadkan saya atas semua apa yang saya panggul dari kemasalaluan saya, di kota udik Sulawesi sana.

Dalam beberapa karya Anda seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Adam Hawa dan Kabar Buruk dari Langit, Anda berani sekali melakukan semacam otokritik dan pembongkaran terhadap kepalsuan-kepalsuan dalam kehidupan religiusitas. Apa tujuan Anda?
Ya, seperti saya bilang dari awal. Tujuan saya adalah mendialogkan kembali apa-apa yang berlalu, yang saya alami, dan apa-apa yang berada di hadapan saya. Terlalu naif bila ada orang bilang saya merusak nilai-nilai agama, mendidik anak-anak muda untuk berpaling dari agamanya yang besar ini. Saya ini siapa? Saya ini nggak ada apa-apanya dibanding para pengkhotbah agama itu. Muhidin itu siapa toh?

Anda tidak takut menghadapi reaksi kelompok-kelompok tertentu yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan Anda tersebut?
Saya menganggap kelompok ini teman-teman saya. Sebab, saya juga punya hubungan ke mereka. Maklum, saya pernah bergiat di kelompok-kelompok pengajian dengan tarikan garis yang sama-sama militan. Tapi awalnya saya merinding juga ketika saudara-saudara seiman saya itu mencerca. Misalnya, sewaktu salah satu pembicara dari kelompok Hizbut Tahrir menyerang saya secara terus-menerus dalam bedah buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (TIAMP!) di Fakultas Hukum UGM. Sejak awal panitia sudah mentestimoni, bahwa diskusi akan panas. Sebab, beberapa hari sebelumnya sejumlah percetakan menolak mencetak pamflet diskusi buku itu.

Dan benar saja, saya diserang dari samping dan depan. Hizbut Tahrir menuduh saya sebagai marxis dengan kebencian kepada agama yang aduhai… Saya adalah “nabi kegelapan”. Bahkan saya disumpahi masuk neraka dan murtad. Siapa yang nggak merinding dibilang murtad? Konsekuensi murtad itu berat lho! Mengikuti definisi salah satu intelektual Ikhwanul Muslimin, Yusuf Qardhawi, saya itu bila murtad akan diusir dari negara dan hak-hak saya dirampas paksa. Saya harus bercerai dengan istri saya, saya harus meninggalkan anak saya. Berat toh?! Dari peserta juga menyerang, membentak-bentak, dan suruh saya disembelih saja! Pusing saya menghadapinya. Bukan cuma itu, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya dikeroyok oleh sekitar 1.500 peserta dan dikatai tukang fitnah yang kejam. Saya ini mereka tuduh telah mencemarkan kampus itu, yang mereka klaim sebagai latar cerita dan tokohnya kuliah di kampus itu. Dua kali saya disidang tim dosen untuk me-rechek soal kebenaran dalam buku itu. Setahun saya absen menulis gara-gara kasus buku ini. Setahun itu saya hanya sibuk menangkis serangan yang berulang-ulang dan itu-itu saja, ya di Jogja, Jakarta, Magelang, Malang, Jombang, Makassar, bahkan sampai Palu.

Lalu tentang Adam Hawa yang juga disomasi itu?
Ini yang tak terduga. Yang saya risaukan dan bikin saya deg-degan adalah nasib buku Kabar Buruk dari Langit, jangan-jangan diserang juga. Tapi tidak. Malah Adam Hawa yang kena jerat. Majelis Mujahiddin Indonesia yang memperkarakan novel itu dari resensi di Media Indonesia. Dan somasi itu bukan hanya kepada saya, tapi juga ke pemimpin redaksi Media Indonesia. Saya dituduh yang seram-seram, telah meneror Allah, menghina sejarah nabi, dan disuruh minta maaf. Siapa mau minta maaf? Enak saja mereka! Tapi nggak tahu kasusnya meredup gitu saja setelah kasus Lia Aminuddin membesar. Mungkin mereka sudah menangkap tokoh Taman Eden-nya di Jakarta Pusat, ha ha ha ha.

Pendapat Anda terkait ancaman hukuman mati terhadap Salman Rusdi, penulis novel Ayat-Ayat Setan atau kasus Ulil beberapa waktu lalu?
Ini soal kedewasaan beragama. Ini juga soal terlalu inferioritasnya umat Islam ini. Kalau memang agama ini kuat, masak hanya buku Rushdie dan ide nakal Ulil bisa luluh-lantak ini agama? Yang benar saja! Lemah betul ini agama kalau begitu… Bertandinglah yang fair. Jangan unjuk sana unjuk sini dengan menenteng pedang dan menggertak-gertak. Bantah dengan alat yang setimpal. Kalau Rushdie nulis buku, bantah dengan buku. Saya kira itu yang lebih dewasa. Tarunglah dengan buku, saudara…

Nilai-nilai apa yang sebenarnya Anda perjuangkan melalui novel-novel Anda selama ini?
Ingin menilai dan mengadili diri sendiri secara jujur dan terbuka. Bahwa, dalam tubuh umat Islam itu sendiri masalah bertumpuk-tumpuk dan boroknya juga banyak. Sejarah umat ini pun adalah sejarah yang dikobarkan dengan darah. Mengerikan sekali. Bahkan sisa-sisanya masih terlihat dengan banyaknya para penenteng pedang di pinggir-pinggir jalan.

Seberapa banyak penulis lokal yang memiliki pandangan atau visi perjuangan semacam itu?
Saya tak tahu persis. Tapi beberapa anak muda di NU dan Muhammadiyah juga gelisah dengan diri dan dalam perut organisasi yang selama ini melahirkan mereka. Dan ini sah-sah saja.

Dari sisi Anda sebagai seorang penulis, apa perbedaan utama di masa Orde Baru lalu dengan masa sekarang ini?
Kebebasan. Ya, kebebasan yang tiba-tiba saja datang membandang. Bahkan negara pun tak sanggup menahannya.

Dari sisi kebebasan berkarya, beraspirasi, dan beridiologi, apakah Anda melihat adanya tanda-tanda pergeseran otoritarianisme dari negara (vertikal) ke masyarakat (horisontal)?
Iya. Saya secara pribadi merasakannya bagaimana harus berhadapan langsung dengan masyarakat yang tiba-tiba lebih polisi dari polisi. Padahal, sejak kecil saya sudah takut lihat polisi, ha ha ha…. Tapi ini masih tataran wajar dalam sebuah masyarakat yang selama ini dikekang habis-habisan haknya untuk berpendapat. Ntar dewasa sendiri juga. Yang penting pemerintah harus kuat dan konsekuen dalam menegakkan hukum agar kepercayaan masyarakat ini kepada negara sebagai pelindung bisa pulih lagi.

Sekarang menyangkut proses kreatif. Faktor apa yang paling berpengaruh terhadap produktivitas menulis?
Ketegangan dalam diri sendiri. Kegelisahan yang mengambak-ngambak dalam pikiran. Semakin kuat keresahan itu, semakin mengalir tulisan itu. Lagi pula, saya nggak punya keterampilan lain selain menulis. Dan tentu saja bikin anak. Ha ha ha ha…

Dari mana ide-ide novel Anda datang?
Dari mana saja. Bahkan dari pertemuan tiba-tiba dengan seorang teman. Novel TIAMP! adalah novel yang jadi tatkala temanku yang berjilbaber pingin jadi pelacur. Lalu ia bercerita dengan sangat lancar seminggu lamanya di tiga kampus. Lalu saya tulis seminggu. Saya edit seminggu. Lalu jadi. Yang menguras tenaga banyak adalah Kabar Buruk dari Langit. Saya harus mendaki pundak Merapi. Di Kali Adem yang beberapa waktu lalu udah hangus itu, saya dirikan tenda kecil. Tiap hari begitu selama enam bulan, kecuali Minggu karena ramai,. Di sana saya mencatat kelebatan imajinasi dan juga catatan dari buku-buku sejarah tentang Islam Sufi di abad 17 di Indonesia. Novel Adam Hawa lebih ringan. Cukup saya duduk setiap malam selama sepekan di depan Benteng Vredeburg Jogja sampai subuh, lalu saya menulis ulang kisah Adam yang tak terceritakan dalam Kitab Suci. Dengan hati berbunga-bunga saya menuliskannya, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila di Malioboro. Untuk menangkap bentuk Pohon Quldi, saya melihat secara seksama pohon beringin di depan kraton itu.

Anda termasuk cukup berani dan punya kekuatan dalam hal pemilihan judul-judul novel. Seberapa berpengaruhnya judul dalam sebuah novel?
Judul itu penting, tapi tak selamanya demikian. Ada juga judulnya biasa-biasa saja tapi menarik perhatian dan bahkan melegenda. Judul-judul buku Pram biasa-biasa saja, bukan? Tapi perbedaan karakter dan pengalaman setiap penulis menjadi pembeda bagaimana mereka menorehkan judul.

Anda percaya anggapan bahwa judul yang menohok atau kontroversial pasti menarik perhatian pembaca?
Bagi saya pribadi, judul-judul memukul dan mematikan yang demikian, seperti sudah sangat akrab dan mungkin menjadi karakter karya-karya saya. Bahkan dalam menuliskan esai sekalipun. Entah sebuah judul menarik perhatian pembaca atau tidak, saya tak terlalu memikirkannya. Karena sebelum bangunan cerita jadi, saya sudah mengutak-atik judul. Sebab, judul itu yang menjadi pemandu saya dalam menuliskan isi cerita itu. Jadi bukan tor atau bagan karangan kayak di SMP-SMA itu lho, tapi judul. Nah, untuk bisa sampai ke tangan pembaca, biarlah penerbit punya urusan itu. Sebab bagi saya, menulis itu kerjaan penulis. Mereka disebut penulis kalau menulis. Benar kan, begitu? Soal bagaimana judul, kembalikan ke setiap penulis yang macam-macam karakternya itu.

Siapa atau karya-karya apa yang paling mempengaruhi Anda?
Pramoedya Ananta Toer. Dia master saya. Mas Edy, saya itu sampai 2001 satu masih menyimpan ketaksukaan yang akut pada sastra. Bayangkan, sebelum-belum itu saya tak suka sastra. Kasihan sekali. Itulah, karena di sekolah STM dan dalam kelompok organisasi yang saya masuki itu, sastra itu nggak disentuh sama sekali. Bacaan sehari-hari ya Quran dan buku-buku agama. Itu pun buku fiqih. Juga ideologi kebencian terhadap ideologi Pancasila. Jadi wajar kalau di kampus dulunya saya heran, kenapa ada orang masuk jurusan sastra Indonesia? Memalukan sekali saya itu. Tapi Pram menyelamatkan saya dari kebencian barbar itu. Walau saya berbeda sama sekali dengan tema-tema yang dipilih Pram, tapi spirit menulisnya yang gigih dan tak kenal lelah menjadi pendorong untuk menulis cerita. Dan saya tahu, karya-karya saya nggak bagus. Tapi Pram menasehati, tulis terus apa yang kamu alami, jangan takut dikritik, lama-lama mereka juga akan melirikmu. Makanya, ketika master itu meninggal, saya dan beberapa kawan persembahkan sebuah buletin edisi khusus untuk Pram. Pengantar keberangkatan kepada seorang guru.

Dalam dunia kepenulisan, ada dikotomi klasik: penulis idealis dan penulis nonidealis alias pasar. Pendapat Anda?
Nggak ada! Dan saya tak percaya dengan dikotomis itu. Itu kerjaan kritikus. Dan itu hak mereka. Benar-benar saja. Kalau saya ditanya, ya semuanya saya perlakukan sama. Karya Akmal Basral yang intelektuil sama saja derajatnya dengan karya Fredy S yang sering membuat basah celana itu. Tinggal suka-suka pembaca memilih. Terkadang orang butuh kesegaran, maka mereka membaca yang ringan-ringan saja. Kan dunia ini tak harus dipenuhi oleh karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana yang supraberat itu, tapi juga novel Motinggo Busye yang sering bikin jakun naik-turun, itu harus ada. Untuk keseimbangan anatomi tubuh. Masalahnya, produksilah sebanyak-banyak buku, sebanyak-banyaknya cerita. Jangan takut overload. Kita butuh sebanyak-banyaknya penulis.

Sebagai penulis, Anda meletakkan diri di “posisi” mana?
Ha ha ha, saya ini hanya, kalau boleh meminjam pendapat Emha Ainun Nadjib, penulis kelas slilit. Tahu slilit, kan? Itu lho, sampah kecil yang menyergap di sela-sela gigi. Di situlah posisi saya. Kecil, jelek, ampas, bau, tapi jelas sangat mengganggu kenyamanan Anda sebelum ia dilenyapkan. Bahkan, bisa membuat Anda sakit gigi. Tapi walau begitu, slilit bisa menghidupi ribuan orang lho. Lha, sampai-sampai ada industri tusuk gigi kan? Ini juga soal, kenapa tidak dinamakan tusuk slilit? Kan yang ditusuk slilit. Bahkan menyebutnya pun orang malu. Nah, Mas Edy, di situ itu posisi saya. Menyebutnya pun orang malu.

Definisi penulis yang sukses dan berarti menurut Anda?
Kalau saya membikin Anda sakit gigi beberapa hari….ha ha ha …. Akhir cerita saya jarang berakhir bahagia, seperti orang sakit gigi.

Ok, karya apa lagi yang sedang Anda siapkan?
Novel psikologi. Beberapa waktu lalu saya berjumpa seorang perempuan cantik, putri kiai di pesantren Bekasi yang sekarang kuliah di Ciputat. Saya sudah mewawancarainya di Bogor. Diam-diam dia berencana membunuh ibunya sendiri. Itu tema yang sedang saya garap sekarang. Semoga slilit yang ini tak membikin orang sakit gigi. Judulnya: Kalian Harus Tahu Kenapa Aku Membunuh Ibuku.[ez]

****

Buku telah menjadi kawan dan sekaligus gurunya. Ia menemukan keasyikan bergaul dengan buku. Lebih mudah meresap diotaknya dari pada pelajaran tentang bangunan di kampusnya. Saking demennya pada buku, sampai-sampai saat menemukan belahan hatinya, ia pun mengajukan proposal pernikahan dengan sebuah cerpen bertajuk “Kupinang Kau Dengan Buku” yang dimuat di majalah komunitas ON/OFF.

Nurul Hidayah, perempuan mantan Ketua Korkom HMI MPO Universitas Negeri Yogyakarta itu telah memikat hatinya dan memberikan Dipa Pinensula Whani(laki-laki) dan Ayoedya Arti Intaran(Perempuan) sebagai tanda cinta yang lebur dalam buku. “Aku hanya bisa menghidupimu dari buku, karena hanya itu yang aku bisa. MENULIS. Lain tidak”. Saat mengucap mantra perkawinan di depan penghulu, 29 Desember 2002 itu pun ia sodorkan Renungan Sufistik Rabiah al-Adawiyah sebagai mas kawinnya. Kebetulan dia adalah editor buku itu. Ia juga berikan buku karya pertamanya, Mencari Cinta pada setiap undangan yang dikirimnya untuk kawan dan kerabat. Ia seakan ingin mengabarkan pertalian cintanya dengan apa yang sungguh dicintainya:Buku.

*****

Gagal berguru pada ilmu formal di kampus, ia pun memilih berguru pada buku. Menulis (baca:buku) ia jadikan pilihan profesi yang akan dicintainya sedalam ia mencintai Nurul dan anak-anaknya. Dengan buku ia menguras segenap keringat untuk menjaga ketiganya dalam istana buku yang dibangunnya menjulang di lereng Gunung Sempu, Kembaran, Djogdjakarta. Di istana ini ia wujudkan mimpinya tentang perpustakaan yang bergizi.

Perpustakaan itu ia penuhi dengan buku segala macam. Terkenal dan tak terkenal. Murah dan mahal. Dia adalah penggila buku yang tak tangung-tanggung. Honor pertamanya sebagai editor, 2 juta,  ia habiskan dalam 2 jam di toko buku untuk sekantung harta bernama buku.

“Gus, kamu kalo beli buku banyak tuh buat apa toh?” tanyaku suatu kali di dunia maya.

“Ide itu kan datang kapan-kapan toh… nggak kenal waktu. Enak kalau datang waktu jam 8 pagi, langsung lari ke perpustakaan. Kalau dia datang tengah malam, jam 3 misalnya, lu lari ke mana, kalau bukan ke tempat tidur. Dan besoknya ide itu sudah terbang lagi. kalau dipaksain bertahan, palingan udah rontok sejak mandi…”

“Gak semuanya kamu baca,kan?”

“Buku-buku yang ditampung itu bisa membantu menyelesaikan masalah “tengah malam” itu dengan cepat. Jadi bukannya nggak dibaca, tapi jaga-jaga kalau-kalau dia minta di “ho-oh”. Sedia kondom sebelum bercinta, sedia buku referensi sebelum ide datang”.

“Kalo beli buku milih-milih?”

“Kalau duit banyak kayaknya nggak milih, tapi kalau cekak milih-milih. Biasanya buku tebal-tebal. Obsesi buku tebal itu yang mengantar saya fokus menerbitkan buku-buku tebal. Itu obsesi individu yang dipraktikkan menjadi sistem pemikiran di Indonesia Buku (I:BOEKOE). Definisi buku tebal adalah jika buku mampu berdiri di atas dirinya sendiri dan kelihatan kokoh, kagak doyong-doyong apabila disentuh, atau di atas 500 halaman. Padahal buku yang bagus atau tidak tak pernah dilihat dari tebal tipisnya, tapi kualitas isinya… orang-orang substantif akan marah sekali….

“Trus kenapa keukeuh?”

“Begitulah…. barangkali ada perubahan pandangan saya melihat buku….

Lama-lama saya melihat buku itu sebagai benda-benda artefak, fisikal, yang lama-lama tak penting dibaca isinya, cukup disaksikan dan kalau dosanya nggak terlalu besar, ya disembah-sembah, didupahi….”

“Maksudnya?”

“Lihat buku tebal berjejer meliuk-liuk dan rapat-rapat, kelihatannya sepasukan pilih tanding, barisan raksasa yang kukuh, yang tak mudah dirubuhkan dan disingkirkan oleh buku-buku pendatang yang berfisik lemah dan kucel. Oh, melihat sebarisan buku-buku tebal kalau berbaris, bikin merinding dan bangga. Kadang buku-buku terbitan i:boekoe yang tebal-tebal itu saya susun-susun sendiri kalau nggak ada kerjaan. Trus saya lihat-lihat. Trus saya foto… Trus saya berdecak-decak sendiri…”

“Bikin buku tebal kan susah,Gus?”

ntar berubah lagi yang mistik-mistik sekuler. Biasa, hanya soal musim. Buat saya, sekarang yang susah bikin buku tipis. Dan saya kalau njual buku tipis paling susah. Ini saya lakukan sekaligus untuk memukul mitos bahwa menulis buku-buku tebal itu susah. Seperti Jogja memukul knock out mitos bahwa menerbitkan buku itu susah. Saya sudah membuktikan baha menerbitkan buku sendiri itu gampang. Jadi tak perlu lagi bergantung pada penerbit besar”

“Emang,siapa yang beli buku tebalmu?Isinya kan ga populer”

“Karena bukunya tebal, ya pasarnya juga harus besar: PERPUSTAKAAN. Buku besar, kandangnya juga besar.

“Perpustakaan kita kan miskin”

“Caranya yang beda. Mendekati Depdiknas untuk pengadaan buku. Ini juga bukan proyek ambisius harus masuk ke semua perpustakaan, yang butuh saja, Tapi yang pasti nggak boleh gratis. Harus mahal… harus mahal…. harus mahal…. Dengan cara itu seorang penulis menunjukkan wibawa dan harganya di masyarakat dan negara yang tak tahu diri dan tak pernah menghargai tetes keringat penulisnya. Kalau perpustakaan miskin dan mereka tak mampu beli buku tebal itu, jangan tunjuk penulisnya dong, tunjuk idung ke pemerintah, karena ini urusan birokrasi. Pemerataan literasi itu urusan political will pemerintah. Yang kita lakukan adalah mendorongnya dengan ide bagaimana membuka peluang”

“Aku lihat ada buku-bukumu di katalog Perpus Australi, emang sampai sana”

“Australia, Amerika, Jepang, Belanda… karena mereka membutuhkan… dan ada dana yang sangat besar untuk pengadaan pustaka-pustaka terbitan dari pelbagai dunia”

“Buat apa?”

“Mereka butuh kepustakaan Indonesia dong….untuk pelbagai studi….”

“Seperti mencuri ilmu begitu ya?atau hanya prestige?”

“Jangan semata dilihat dari kacamata konspiratif, terkadang itu tradisi tua: mengumpulkan remah-remah pengetahuan dari mana pun. Semacam tradisi kronik ilmu. Itu yang dilakukan Baghdad dulunya dengan menerjemahkan hampir seluruh literatur Yunani. Amerika juga begitu, memerintahkan seluruh arsiparisnya menyalin kepustakaan dari Arab dan Eropa, terutama Yunani. Dari ketekunan itu makanya mereka menguasai IP. Pengumpulan literatur itu, tak semata untuk numpuk-numpuk buku, tapi jaga-jaga, siapa tahu para penghuni masa depan bangsanya membutuhkannya”.

Obsesi buku tebal itu memang ia wujudkan betul dalam karya-karyanya kemudian. Bersama Indonesia Buku, rumah dimana ia bernaung, dilahirkannya anak-anak pikiran yang tebal dan bernas. Maka ia himpun anak-anak muda yang tak bisa menulis untuk menulis bersamanya.

“Kenapa yang tak bisa menulis,Gus?”

“Supaya mereka bisa merasakan bagaimana rasanya mereka menulis pertama kali, menulis buku pertama kali yang itu nggak pernah diajarkan disekolah”

“Bagaimana cara kerjanya?”

“ Saya awasi, saya jagai,dan saya beri semangat mereka setiap hari”

Ada pelatihan menulisnya?”

“Tak ada. Latihannya ya menulis itu sendiri. Belajar dari proses dan kebiasaan. Lama-lama bisa sendiri. Jadi pagi mereka ke perpustakaan, menyalin diatas kertas, dan malam harinya mengetiknya. Saya hanya member contoh-contoh saja. Mereka mencari dan menemukan sendiri cara mereka belajar. ”

“Apa saja yang ditulis?”

“Oh, banyak sekali. Ada sejarah pers Indonesia, sejarah pers perempuan Indonesia, sejarah Lekra, sejarah pergerakan Indonesia, sejarah pemberontakan, sastra, juga kronik Indonesia, kronik pemilu, banyak lah..”

“Sejarah semua. Kenapa sejarah?”

“Karena saya ingin belajar sejarah. Kan saya nggak bisa sekolahan. Cara belajar saya ya langsung baca Koran-koran tua, mengorganisir anak-anak Jurusan Sejarah, agar saya bisa belajar serta dengan mereka. Itu metodenya. Dan kronik adalah cara yang saya pakai untuk masuk di lorong pelajaran sejarah Indonesia. Ntar setelah ini, saya belajar sejarah seni rupa, maka saya buat kronik senirupa. Kalau belajar politik, saya buat kronik pemilu ”

“Semua itu harus diriset dong?”

“Iya, riset itu sangat penting. Karenanya saya tekun sekali mengkronik berita-berita media massa on line. Kalau jaman dulu pakai kliping. Jaman sekarang sudah maju,semua serba elektrik. Maka klipingnya pun ikut-ikutan elektrik. Semangat mengkliping peristiwa ini saya dapati dari Pram. Coba baca ini”

Ia menyorongkan catatan tentang Pram.

Senin, 2009 April 20

Ensiklopedia Kawasan Indonesia

Oleh Muhidin M Dahlan

Memasuki perpustakaan Pram di lantai tiga rumahnya yang asri di Bojong Gede, Bogor, kita langsung dihadang sebarisan klipingan berkelok-kelok. Seperti tentara, semua klipingan itu berdiri seragam dengan mantel oranye yang menyala di atas almari buku. Tak ada satu pun tercecer dalam barisan. Rapi. Bersih. Tegap.

Barisan itulah yang selalu menjadi impian Pram sejak 1982. “Bung, bagus mana namanya: Ensiklopedi Citrawi Indonesia atau Ensiklopedi Kawasan Indonesia,“ kata Pram kepada sahabat dekatnya Mujib Hermani pada suatu hari memilih judul yang tepat.

Pram memang memiliki impian untuk bisa memandang Indonesia seutuhnya. Maka dikerjakannya proyek yang hampir mustahil itu seorang diri. “Ini saya kerjakan sebagai konsekwensi pandangan saya sendiri: untuk dapat mencintai tanahair dan bangsa secara wajar orang dituntut untuk tahu tentang yang dicintainya, tanahair dari sosio-geografinya, bangsa dari sejarahnya. Kalau tidak cintanya terhenti pada cinta monyet. Dari pengalaman selama 4 tahun ini saya jadinya bisa banyak bercerita yang aneh-aneh tentang tanahair ini. Memang belum saya bikin catatan, masih tersimpan di kepala, namun tetap tak teragukan keorisinalannya,” tulis Pram dalam suratnya kepada sosiolog Ariel Heryanto yang bertanggal 23 Maret 1986.

Caranya: setiap hari ia akan menggunting koran. Ada Kompas, Pelita, Media Indonesia, dan sebagainya. Tapi Pram hanya menggunting yang terkait dengan geografi Indonesia: desa, gunung, laut, kebudayaan, dan sebagainya. Dan itu dilakukan dengan sangat disiplin. Pram akan menggunting pada jam 8 pagi setelah kerja-badan dan akan mengelem pada malam harinya. Jika tak sedang di rumah, ia akan selalu membawa gunting, lem, pena, dan dibelinya koran-koran di jalan. Demikian dilakukannya kegiatan itu selama puluhan tahun.

Tapi bukannya Pram tak pernah disundut jenuh. Kadang ia mengeluh. “Telah hampir 4 tahun ini saya mengerjakan kamus sosio-geografi Indonesia. Tanpa pernah mengenal hari libur. Untuk itu saja 10 jam setiap hari. Beberapa jam lainnya untuk pekerjaan lain-lain. Dalam sebulan itu belum lagi mampu menyelesaikan 4 kabupaten. Soalnya orang Aceh—Aceh sebagai kesatuan administratif, bukan etnis—betul-betul tidak kreatif. Nama desanya merupakan ulangan-ulangan yang melelahkan, sama halnya dengan nama desa orang Jawa. Maka saya hentikan dan beralih pada Kab. Gorontalo. Suatu kesegaran tersendiri. Soalnya: hampir tak ada nama desa kembar di sini. Maka saya nilai kreatif. Pekerjaan ini mungkin memakan waktu 12 tahun lagi. Mengingat, mungkin dalam waktu itu saya sudah mati, maka pekerjaan saya batasi sedemikian rupa, hingga hanya menggarap bahan dasar. Agar kelak orang dapat meneruskan bila toh tubuh tak dapat dipertahan lagi. Tadinya memang saya anggap dapat diselesaikan 2-3 tahun. Itu karena pengaruh Ensiklopedi Hindia Belanda, yang melihat dunia kekuasaannya berhenti sampai di distrik. Pandangan saya sebaliknya dari bawah, desa sebagai unit administrasi terkecil, ke atas, sampai propinsi dan negara.”

Pram pun kadang berandai sekiranya menang Nobel, uangnya untuk membiayai impian terakhir hidupnya itu. Ia ingin menjadi penyedia pengetahuan yang berarti untuk masyarakat tentang apa arti ribuan pulau Indonesia yang besar dan luas ini. Andaian itu kadang terdengar melankolis.

“Saya ingin mempercepat selesainya. Tapi dengan catatan saya dibantu paling tidak 10 orang. Dan itu bisa dilakukan selama 2 tahun. Tapi uang darimana saya dapatkan untuk menggaji orang-orang ini,” keluh Pram setelah 23 tahun menggunting bahan dari koran yang terbit tiap hari.

Dan kita tahu Pram tak pernah memenangkan Nobel yang dinazarkannya untuk ensiklopedia itu.

Sadar dengan itu, tak lantas ia patah arang. Sebab bukan itu perkaranya. Ini soal cinta. Maka ia bekerja terus dengan cara-cara yang jauh dari cara kerja teknologi yang serbacepat seperti mengundu dari internet. Ia serupa dengan para rahib yang tetap bertahan di gulungan waktu. Maka senjata utama Pram hanyalah koran, gunting, lem, kertas, dan mesin tik Olympus.

Dengan perkakas manual itu, sekian tahun Pram telah menyempurnakan beberapa bagian. Terutama dasar-dasar entri ensiklopedia, semisal nama desa dan kota. Namun keterangan tentang entri dasar itu masih belum tersusun. Keterangan itu berpencar dalam 81 barisan guntingan koran yang tersusun rapi berkelok-kelok yang tebalnya kurang lebih 16 meter. Masing-masing volume sudah diberi nama entri, misalnya: Ampibabo-Aosale Ds, Harto-Hutan, IAIN-Iyukecil, Jakarta-Jalak Bali, Mahato Ds-Mamuju, Sarabua-Semanggi, dan seterusnya.

Entri paling banyak adalah Timor Timur dan Aceh. Khusus Aceh, ini mungkin sebagai permohonan maaf Pram atas ulah manusia Jawa menginvasi Aceh. Kata Pram: “Saya merasa berutang pada Aceh. Ratusan tahun Jawa mengirim pembunuh bayaran ke Aceh. Sejak zaman kumpeni Aceh punya keberanian individu, Jawa punya keberanian kelompok. Beda sekali.”

Yang paling sulit bagi Pram—dan karena itu terkumpul sedikit—adalah entri U, V, W, Y, dan Z. Entri X bahkan tak ada sama sekali. Jika tak direnggut batas hayat, mungkin Pram tak akan berhenti mengumpul bahan.

Kita jadi takjub. Mungkin malu. Bagaimana bisa dengan kebebasan yang sangat terbatas dan minimal serta memakai cara-cara manual itu, Pram seorang diri bisa membangun sebuah proyek yang hampir mustahil dilakukan dengan hanya mengandalkan dua tangan itu.

Jawabnya adalah kecintaan yang berlebih atas tanah air dan bangsa. Kecintaan itu mengabaikan semua halangan dan serbaketakmungkinan. Cinta yang begitu melahirkan asketisme. Asketisme tak berbicara uang, walau itu penting. Asketisme adalah sebuah sikap mandiri, konsisten, dan sendiri menerobos waktu untuk mencari renik demi renik pengetahuan. Dan Pram bukannya tak tahu diri, tak tahu batas. Karena itu, ia hanya menunjukkan jejak. Para pewarisnya yang bertugas melanjutkan pekerjaan raksasa yang ditinggalkannya itu.

Dua pekan sebelum berangkat, Pram masih menggunting untuk ensiklopedi impiannya. Tapi ia sudah tak setangguh seperti sediakala. Dan entah kebetulan atau tidak, entri terakhir yang diguntingnya justru adalah kerusuhan freeport di Abepura, Papua; propinsi paling timur Nusantara. “Untuk baca satu artikel Papua saja, Pram beberapa kali terbaring. Tahu kekuatannya hampir habis, Pram lalu menulis: PAPUA. Selesai. Sampai di situ saja klipingannya,” kenang Astuti Ananta Toer, puteri keempatnya.
Hah, 23 tahun Pram menjejaki Nusantara dengan koran, gunting, dan lem. Ia masuki satu demi satu dusunnya. Dan ia tahu juga bahwa perjalanan harus berakhir. Bukan di Jakarta, tapi di Abepura, Papua. Di Papua, Saudara!

Dia memang Pramis. Bersama-sama komunitas Punkers yang mencintai Pram, ia pun menunggui disisi begawan buku itu kala nafasnya tersengal dan berucap pamit. Bersama anak-anak berambut mohank itu, ia hantarkan Pram ke peristirahatan terakhirnya. Sejak itu, penampakan wajah Pram selalu menyalakan semangatnya untuk terus bertekun dengan buku.

Dari ketekunan dan semangat itu, telah ia lahirkan bersama anak-anak didiknya:

Seabad Pers Kebangsaan 1907-2007 (2007-Profil Pers), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia (2008- Profil Tokoh Pers), Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia 1908-2008 (2008- sejarah pergerakan) Tirto Adhi Soerjo: Karya-Karya Lengkap 1902-1912 (2008, bersama Iswara N Raditya), Para Penggila Buku:Seratus Catatan di Balik Buku (2009, bersama Diana AV Sasa), Almanak Senirupa Jogja 1999-2009 (2009,ed)

Juga anak kembar tiga yang dibuatnya bersama Rhoma Dwi Aria Yuliatri, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950 – 1965 (2008), Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra- Harian Rakjat 1950 – 1965 (2008), Laporan dari Bawah: Sehimpunan Cerpen Lekra – Harian Rakjat 1950 – 1965 (2008). Ketiga buku ini dipenghujung 2009 resmi dicekal dari Kejaksaan Agung.

***

Aku melihat anak laut itu makin matang menapaki usianya yang beranjak ke angka 31 di 12 Mei nanti. Ia tetap tekun menulis. Kadang dengan cara menulis yang membuat orang menggeleng kepala. Ia rela menempuh ratusan kilo meter dengan menunggangi kuda hitamnya hanya untuk menulis. Ia ingin menulis resensi tentang buku Pram, ia pergi ke Blora. Ingin menulis tentang Majapahit, ia lari ke Mojokerto. Ingin menulis sejarah pemberontakan, ia daki lereng Lawu di danau Sarangan, tempat dirancangnya pemberontakan Madiun.

Kabar Buruk dari Langit yang menjadi setting utamanya adalah Gunung, Pesantren, Laut, dan Biara. Dan berulang-ulang ia kunjungi tempat-tempat itu dalam waktu satu tahun. Di gunung ia  dirikan tenda untuk mendengarkan suara burung, sapuan angin memukul barisan pinus yang berdiri rapat, dan aliran kabut pukul 10 pagi. Baginya, setiap tempat punya daya rangsang. Dan ia ingin menyerap itu.

Anak laut itu telah menyatu dengan buku. Buku bersemanyam dalam hati dan pikirannya. Terselip di tiap langkahnya. Menyapa ramah di bangun dan tidurnya. Maka ketika kutanya tentang obsesinya akan buku, ia menggumam ” Nggak ada obsesiku karena buku sudah jadi nyawa. Jadi digunakan saja sehari-hari, seperti nyawa. Memang ada orangg berobsesi dengan nyawanya selain berdoa: panjangkan nyawaku Gusti…” (Diana AV Sasa)

4 Comments

Pustakawan - 31. Des, 2009 -

posenya itu lho…nggak kuku deh

hehehe…

diane - 19. Jan, 2010 -

aduh, utk sementara komen gini, kok jadi takut nulis ya? he he. saya tidak punya hati sekuat gus muh utk menghadapi resiko menulis buku… berat-berat..

dewa01api - 22. Jan, 2010 -

anak laut kok belum buat buku ttg maritim. masih sibuk ama daratan terus?

IBOEKOE - 22. Jan, 2010 -

tenang bung, si nama yg anda sebut itu, sudah ngumpulkan buku2 bahari untuk dikoleksi. itu lebih dari cukup tinimbang nggak sama sekali.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan