-->

Lainnya Toggle

Misteri Tulisan Buruk di Secarik Resep Dokter

Oleh Fadila Fikriani Armadita

[REDAKSI–Ini arsip lama Indonesia Buku yg dimunculkan kembali terkait dengan konflik antara dokter dan pasien (PRITA) yang naga-naganya menghabisi pasien secara mental dan ekonomi di pengadilan Kaum Republik]

Suatu waktu Anda sakit dan pergi ke dokter. Pasti si dokter memberi selembar kertas yang berisi daftar obat apa saja yang harus kita tebus di apotek. Anda mengenalnya dengan resep dokter. Soalnya kemudian nyaris sama yang dihadapi setiap pasien, di mana pun dia berada, bahwa semua tulisan dokter itu tak terbaca saking buruknya.

Maka muncul joke-joke atau bahkan menjadi alamat, jika tulisan tangan Anda di sekolah atau universiteit buruk dan nyaris tak terbaca, pastilah tulisan tangan Anda itu disebut secara spontan sebagai “Tulisan Dokter”. Ada lagi istilah lain untuk menunjuk tulisan acakadut itu: “Tulisan cakar ayam”. Kalau ada “Pondasi cakar ayam”, maka ada “tulisan cakar ayam”. Atau Sulami yang menemukan “pondasi cakar ayam” pertama kali untuk pembangunan Jembatan Semanggi di Jakarta Pusat itu terinspirasi oleh “tulisan cakar ayam” seorang dokter ya? Boleh jadi. Tapi boleh jadi juga ini ‘malpraktik’ karena menghubung-hubungkan sesuatu yang tak berhubungan sama sekali.

Memang tak pernah ada yang tahu penyebab pastinya mengapa ‘tulisan buruk’ itu sudah mentradisi dan siapa pula yang pertama kali dengan ‘jenius’ memperkenalkannya.

dr Ika Dewi Ana, dokter gigi dan staf pengajar di Kedokteran Gigi UGM, menolak disebut tulisannya sangat buruk (ia mengaku tulisannya nyaris sama dengan tulisan arsitek karena rapinya… lho, kok nyerempet ke Pak Sulami). Menurutnya, seumur-umur dia belajar kedokteran, tak pernah ada pelajaran bagaimana trik menulis resep yang buruk di secarik kertas. Yang diketahuinya bahwa semua dokter harus memberikan informasi yang benar, jelas, dan terbuka kepada setiap pasien. Itu saja.

Apa pihak apoteker bisa membaca tulisan resep yang kriting itu? Hmmm bertahun-tahun mereka sudah berhubungan. Pastilah apoteker sudah hapal mati anatomi tulisan yang nyaris tak terbaca itu. Dan penjaga apoteker yang biasanya tulisan tangannya rapi, kerap juga ikut-ikutan buruk.

Ini namanya koinsidensi yang buruk. Untunglah sudah zaman komputer. Tapi salah. Soalnya yang dicetak di komputer hanyalah kuitansi pembayaran. Adapun resep tetap saja ditulis dengan spirit kekritingan yang sempurna.

Atau ini sebuah siasat si dokter dan sudah menjadi legasi tak tertulis agar resep yang ditulisnya tak dipalsu pasien untuk menebus obat tanpa sepengetahunnya; dan jika dipalsu pastilah pihak apoteker yang sudah mengetahui anatomi tulisan cakar ayam dokter itu akan mencium gelagatnya seperti petugas bank yang mengenali betul mana uang palsu dan mana yang asli.

Dan menjadi kian lucu pada suatu saat seorang dokter lulusan luar negeri akan menulis resep dengan tulisan tangan yang sangat bagus malah dicurigai sebagai penipu oleh apoteker karena menyalahi ‘kesepakatan’ yang sudah berurat akar. Hwarakadah.

Nah, ngomong-ngomong soal kesepakatan, di secarik kecil kertas resep itu juga sudah ada ‘aturan’ atau ‘struktur baku’ penulisannya. Dan yang tahu ‘aturan baku’ ini, ya cuma dokter dan apoteker yang ditunjuknya.

Baris pertama resep itu akan tertulis nama obat yang akan diberikan oleh si dokter, tentunya nama obat yang akan diberikan juga disesuaikan dengan penyakit dan baris selanjutnya tertulis petunjuk penggunaan obat: berapa kali obat itu harus diminum, sesudah atau sebelum makan atau berapa banyak obat tersebut harus dikonsumsi, jenis obat; puyer, tablet, sirup, kapsul, atau lainnya. Biasanya jenis obat disebutkan menggunakan kode-kode tertentu yang arti atau maknanya si dokter dan si apoteker sudah sama-sama tahu. Ada lagi beberapa perintah tersembunyi kepada apoteker. Miriplah sandi-sandi dari sebuah ‘gerakan mafia’.

Untuk perintah dan jenis obat biasanya ditulis agak menjaorok dari baris pertama yag berisi nama obat. Itu ditujukan untuk membedakan satu macam obat dengan lainnya. Itulah rahasia di balik penulisan resep.

Namun bukannya penjaga apoteker nyaris tahu semua apa yang dituliskan dokter itu. Apalagi penjaga apotekernya masih culun-culun. Dalam beberapa kali kasus misalnya, tulisan dokter tak jarang mendapat komplain dari apoteker lantaran ‘perintah’ tak jelas. Mereka takut jika ada nama obat yang mirip dan salah-salah mereka memberi obat yang keliru pada pasien bisa fatal akibatnya. Pasti si apoteker ini kelupaan ‘ditraining’ dalam ‘kelas membaca resep’.

Ya, dari komunikasi kedua pihak inilah, si pasien ngeloyor dari apotek dengan menjinjing sekantong plastik obat. Persoalan apa si pasien tahu apa obat yang dibawanya itu sudah sesuai dengan diagnosis penyakit, hanya tiga orang yang tahu: Tuhan, dokter, dan apoteker.

Foto Depan: http://www.buckeyeinstitute.org/uploaded_images/Prescription%20Drugs.jpg

11 Comments

lamno - 20. Okt, 2008 -

kalau saya boleh komentar, tidak sedikit apoteker yang paham dengan tulisan dokter tersebut, alhasil si apoteker tersebut menelepon sang penulis resep dan menanyakan obat apakah yang harus disiapkan..

attonk - 11. Sep, 2009 -

Setau saya, gak semua dokter punya tulisan yang jelek. Malahan banyak yang bagus. Emang dokter tertentu aja yang mungkin tulisannya sulit dibaca(jelek.red).

calon dokter - 03. Des, 2009 -

memang tulisan buruk dokter itu disengaja…. kenapa???

1. apabila tulisan mudah dipahami pasien takutnya pasien salah persepsi terhadap obat itu….
2. tidak semua obat efeknya sama terhadap penyakit pasien yang disebabkan oleh penyakit yang sama…..

di dunia kedokteran memang diajarkan begitu….. demi keamanan pasien itu sendiri…….

apabila tulisan dokter mudah dimengerti pasien…. kalo misalkan ada penyakit yang menurut pasien sama dengan yang dulu… terus tanpa menghubungi dokter dia seenaknya beli obat itu….. ato memalsukan resep itu….. kalo ada kesalahan yang menyebabkan lo meninggal salah sapa???

definisi obat dan racun itu hampir mirip…… bedanya hanya pada dosisnya saja….

zoegazamora - 06. Des, 2009 -

komen dari calon dokter sedikit memberi perimbangan informasi, logis. saya jadi kepikiran skeptis, kecenderungan untuk “menaruh prasangka jelek pada dokter ini pasti juga ada sebabnya bukan??

peduli rakyat - 06. Jan, 2010 -

Tambahan : Karena ketidaktahuan pasien ttg resep tsb, si pasien jadi dibodohi oleh apoteker dan dokter.
Cerita dikit :
Ada temen yg kerjaannya sales obat, suatu saat ada sodaranya yg sakit karena kecelakaan dan nebus obat seharga 900 ribu. Setelah ditanya ke temenku itu, ternyata harga obat tsb sebetulnya tdk lebih dari 15 ribu. Inikah yg disebut demi kebaikan si pasien ? Intinya resep tak terbaca hanya merupakan modus terselubung utk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dg terhormat.
bajingan…..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan