-->

Resensi Toggle

Menulis Jadi Mudah dengan Berlatih dan Berlatih

Pagi ini udara segar menebar di selasar pegunungan Lawu tempat saya menyepi beberapa hari terakhir untuk menulis. Jauh di depan saya, dataran luas dan awan yang bergulung membiru terhampar. Kabut-kabut perlahan beranjak naik. Matahari menaburkan kehangatan paginya. Burung-burung menjerit-jerit riuh. Kupu-kupu liar kuning dan hitam berseliweran di kebun depan pondok. Suasana ini yang selalu saya intimi setiap pagi di atas bukit ini. Suasana yang sengaja saya cari untuk menghadirkan situasi kondusif untuk menulis. Saya sedang mempraktikkan jurus ke 25 Naning Pranoto untuk menciptakan produktivitas menulis melalui suasana tempat menulis.

Semalam sebelum tidur, saya memilih program di otak saya: “Saya akan bangun dengan badan segar, pikiran tenang, gairah menulis yang menyala, dan daya kreatif yang meledak”.

Kebiasaan ini saya lakoni sejak saya mengenal panduan teknik meditasi dari Yan Nurindra yang saya dengarkan dari MP3 player setiap kali beranjak tidur. Dan pagi ini saya memang membuka mata dengan kondisi seperti yang saya harapkan. Maka ketika membuka jendela dan cahaya matahari menerobos pondok, saya segera menjinjing laptop ke teras rumah, mengambil buku, menyeduh kopi, dan mulai membaca-menulis.

Buku yang saya baca pagi ini adalah buku karya Hernowo, seorang pakar psikologi menulis. Judulnya Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah. Buku ini desain sampulnya sangat menarik. Pilihan jenis huruf dan ukurannya memikat mata.

Kata “Membuat” yang dicetak dengan warna kuning, kata “Buku” yang mencolok dan besar, serta kata “yang Menggugah” dengan warna merah menyala. Latar belakang buku tebal hitam menyiratkan sebuah rahasia yang misterius dan membuat penasaran. Buku ini kecil saja, hanya seukuran 1/3 folio dengan 303 halaman. Mengesankan bahwa buku ini adalah sebuah kitab panduan yang bisa dibaca cepat, di mana saja, dan ringan.

Saya memegang buku ini di tangan kanan saya, tepat di depan wajah agak ke kanan, Membacanya seperti ketika saya membaca buku Yasin saat malam Jumat. Sesekali jari kiri saya membantu membuka halaman. Membaca buku ini memang ibarat membaca sebuah kitab menulis.

Hernowo tidak menghadirkan jurus-jurus menciptakan buku yang menggugah secara teknis. Ia lebih menekankan pada proses dan pengalaman psikologis menuju penciptaan itu. Ia menyisipkan pengalaman pribadinya dalam berproses menemukan judul dan isi buku-buku larisnya. Pengalaman itu yang coba dipaparkannya untuk menggiring pembaca menemukan sendiri pengalaman dalam prosesnya masing-masing.

Seperti laiknya buku-buku motivasi menulis, Hernowo juga menegaskan pentingnya kemauan dan hasrat sebagai pemicu utama untuk menulis. Selebihnya adalah latihan dan latihan. Dan latihan itu harus setiap hari. Membiasakan menulis catatan harian adalah sebuah cara untuk melatih keprigelan dan kedalaman menulis.

Di sinilah latihan spontan mengalirkan kata-kata itu dimulai. Lepas, tanpa rasa takut, bebas, dan mengalir. Tumpahkan saja semua apa adanya. Lambat laun akan ketemu dengan sendirinya karakter tulisan dan kekhasan seorang penulis. Topiknya bisa apa saja, keseharian saja, apa yang ada di kepala. Sedikit demi sedikit mulai naikkan ke topik yang lebih berbobot. Yang penting mengalir dulu.

Bahasa dan cerita yang mengalir hanya akan lahir dari kebiasaan menulis yang rutin. Mengalir artinya bercerita, bertutur, hingga enak dibaca dan perlu (mengutip jargon Majalah Mingguan Tempo). Buku yang berkarakter akan lahir dari tulisan yang mencerminkan personal penulisnya, mencerminkan kepribadian dan kejiwaannya. Dari sini akan lahir buku-buku yang menggerakkan, buku yang memberi inspirasi pembacanya, buku yang pada akhirnya memberdayakan pembaca. Ide besar yang dipadukan dengan sentuhan personal akan lebih mengena pada diri pembaca.

Bagaimana melahirkan gagasan dan menjadikan materi tulisan bisa bergerak? Hernowo sebagai penulis yang banyak mengkaji teori-teori Quantum, menjajal dan menawarkan metode mind mapping untuk menjabarkan gagasan. Saya juga pernah belajar tentang Mind Mapping ketika belajar di kampus IKIP Surabaya. Saat itu dosen saya mengajarkan bagaimana sebuah gagasan bisa dikembangkan dengan membuat peta pikiran di selembar kertas. Tuliskan saja gagasan utamanya, lalu tarik garis-garis yang menjabarkan gagasan itu lebih spesifik. Dari setiap titik, tarik lagi garis lebih spesifik, terus begitu hingga gagasan itu berkembang menjadi rantai gagasan. Gunakan tinta warna-warni dan gambar-gambar agar lebih interaktif.

Metode yang sama dapat digunakan  untuk memilih judul buku yang “menggigit”. Padukan dengan diskusi bersama beberapa orang sehingga lahir ide-ide dan gagasan yang dapat dipadukan. Utak-atik kata dengan makna yang terselip di baliknya ini bisa menjadi interaksi yang menarik bila dilakukan dengan riang. Tinggal kemudian memikirkan penampilan buku agar sesuai dengan visi dan misi penulis serta judulnya.

Penampilan buku ini bukan semata sampul depan, tapi juga lidah buku, jaket buku, tata letak bab, pilihan huruf, dan tambahan gambar sebagai penyeimbang visualisasi. Hernowo sebagaimana penulis teori Quantum, meyakini pentingnya menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri dalam membaca-menulis buku. Otak kiri adalah teks, otak kanan adalah gambar. Maka penting sekali menghadirkan simbol-simbol, ilustrasi, dan dekorasi dalam bentuk gambar untuk memperkuat karakter dan membantu pembaca menemukan inti dari bahasan.

Dalam buku kecilnya ini, Hernowo mempraktekkan hal itu. Beberapa gambar ia sajikan, dekorasi framing juga ada. Ini memberi kesan bahwa buku ini berusaha menampilkan kesan ringan dari bahasan yang berat.

Saya katakan berat karena memang apa yang disampaikan Hernowo adalah sebuah pengalaman dan kajian psikologis yang tak semua orang mampu memahami dengan mudah. Hingga gambar-gambar yang ada bisa cukup membantu. Sayangnya, kontraproduktif dengan apa yang disampaikan, menurut saya Hernowo dan timnya kurang mempertimbangkan jumlah baris dalam satu halaman dan jarak sisi halaman (margin).

Menurut saya, jumlah barisnya terlalu banyak hingga mata juga lelah membacanya. Ukuran hurufnya pun kecil hingga terkesan penuh. Margin yang sempit  menyulitkan saya untuk membuat catatan pinggir dari hal-hal yang saya anggap penting. Sebuah buku yang baik akan memberi kesempatan pembacanya untuk ikut terlibat dalam memaknai apa yang dibacanya. Menyisipkan catatan di pinggir buku adalah bentuk interaksi pembaca dan buku. Maka margin yang luas menjadi penting adanya.

Demikian, kitab menulis ini memaklumkan dirinya ke hadapan pembacanya sebagai sebuah kitab yang perlu “penghayatan”. Ia tak menuturkan aturan yang harus begini tidak boleh begitu. Pengalaman dalam berproses adalah makna spiritual yang wajib didapatkan seorang penulis. Hanya dengan menekuni proses dan terus berlatihlah maka kemampuan menggugah itu akan lahir, mengalir, alami. (Diana AV Sasa)

Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah

Penulis: Hernowo

Penerbit: Mizan Learning Centre (2004)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan