-->

Kronik Toggle

Mantan Atase Militer Prancis Terbitkan Novel Berlatar Indonesia

Denpasar –  Jean Rocher, 58, mantan atase militer Prancis di Indonesia, meluncurkan novel keduanya “Keping Rahasia Terakhir” , Senin (28/12) malam di Denpasar. Novel itu berkisah tentang petualangan seorang intelijen Prancis dalam menjalankan tugas di Indonesia.

“Sedikit banyak ada kaitannya dengan tugas saya sebagai aparat intelijen di negara ini,” ujarnya yang menjabat sebagai atase militer antara tahun 1993-1997.

Novel itu ditulisnya setelah ia pensiun dan kemudian menjadi konsultan sebuah perusahaan minyak yang bepusat di Balikpapan, Kalimantan.

Namun Jean menjelaskan, inti cerita hanyalah fiktif belaka. Yakni mengenai penugasan yang diberikan kepada seorang intel Prancis untuk mengejar seorang tokoh Al Qaidah. Dia harus menelusuri sejumlah daerah di Indonesia dari Kuta, Bali hingga ke pedalaman Kalimantan.

Belakangan si intel baru tersadar bahwa penugasan itu hanyalah rekayasa untuk melenyapkan dirinya karena rahasia yang diketahuinya mengenai para petinggi Dinas Intelijen Prancis.

Karena itu dia kemudian terpaksa meminta bantuan langsung kepada Presiden Prancis. Adapun sisi faktualnya, kata dia, adalah mengenai bagaimana cara kerja si intel. Mulai dari pola penugasan yang menyaru sebagai pengusaha hingga tehnik-tehnik untuk membuntuti seseorang. “Novel ini lebih mirip kisah detektif,” ujarnya seraya mengaku tidak terlalu mengeksplorasi latar belakang kondisi sosial politik di Indonesia.

Hal itu berbeda dengan novel pertamanya “Lelehan Musim Api” yang sepenuhnya bercerita mengenai kondisi Indonesia pada era tahun 90-an. Disitu dia memanfaatkan pergaulan dengan  teman-teman Indonesia-nya untuk menggali berbagai informasi dan kesan pribadi seperti dari sopir, teman-teman dari kalangan militer, pegawai kedutaan, dll. “Saya mencatat informasi mereka dalam buku harian khusus,” ujarnya yang mengaku sudah memprediksi kejatuhan Soeharto 5 bulan sebelum kejadian dan menyampaikannya sebagai laporan resmi ke Duta Besar Prancis.

Pengamat seni Jean Couteau menyebut, penulisan novel dan buku sastra dari kalangan militer berpangkat tinggi kini menjadi tren baru di Prancis. “Ini bisa digunakan untuk mengangkat gengsi mereka,” ujarnya yang juga menjadi penerjemah buku itu dalam edisi bahasa Indonesia.

Cara itu juga untuk menunjukkan bahwa operasi militer yang digunakan bukan hanya mengandalkan pendekatan fisik tetapi juga pemahaman terhadap kondisi sosial budaya.

Novel itu juga menarik karena mencerminkan pandangan orang Prancis mengenai Indonesia yang disampaikan bukan dengan cara yang vulgar tetapi melalui bahasa sastra. Cara itu, menurutnya, akan jauh lebih menarik khususnya bagi kalangan orang Prancis yang membaca buku itu.

*) Dikronik dari Tempointeraktif.com 29 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan