-->

Kronik Toggle

Ketika Sastra Bicara HAM di Kedai Lanang

JAKARTA-Masih hangat pembicaraan itu. Ada letupan. Gairah yang semburat. Spirit yang terbit. Kebersamaan yang menyenangkan. Pengalaman yang menggenang. Silaturahmi melalui seni. Bergelora di panggung Kedailalang. Mungkin tak kan padam. Sampai entah berapa malam.

Kedailalang Desember mengambil tema: Sastra dan HAM. Isu klasik yang timbul tenggelam. Tapi tak ingin kita lupakan. Ada saja yang tak dapat dipungkiri ketika hati nurani tercabik. Sementara sebuah sistem diam-diam sudah-sedang-dan-terus dibangun di negeri ini untuk membalikkan fakta. Dengan cara sederhana, kami mendiskusikannya. Mungkin sebagai sapa prabencana. Meminjam judul lagu Chaseiro, yang populer hampir tiga dekade lalu.

Mariana Amiruddin menyampaikan ihwal HAM dengan membongkar ingatan masa silam. Dimulai dari korban perang dunia kedua yang secara realita mengalahkan klaim Amerika tentang korban pembunuhan Nazi Jerman. Berikutnya terjadi di Indonesia. Ketika Indonesia merdeka, diumumkan dasar negara Pancasila. Dengan sila pertama: Ketuhanan yang Mahaesa. Dengan alinea pertama preambul UUD yang sungguh mulia. Kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Penjajahan dihapuskan. Benarkah demikian? Apa yang terjadi di tahun 1965? Pembantaian berjuta manusia karena perbedaan paham. Ironisme yang kelam. HAM yang terbenam.

Dan kini, atas nama demokrasi, HAM kembali dikebiri. Ruang publik dipersempit. Demi tak muncul pikiran kritis. Agar rakyat kehilangan daya. Seni sebagai puncak kesadaran tertinggi, dipasung secara perlahan. Media massa digenggam kekuasaan. Demokrasi seolah membuat kekeliruan. Dengan pelbagai kesalahan pilihan. Dan jatuhlah korban. Setelah Munir dan banyak yang lain, kini Prita, dan seterusnya.

Apa daya sastra? Ada yang menawarkan revolusi. Ada yang menghujat sinetron televisi. Ada yang mempertanyakan posisi perempuan. Namun ada pula yang tak takut dengan situasi. Memang, seniman tak boleh berhenti berkarya. Di mana saja. Tak pantas terjebak pada batas. Jika perlu membuat gerakan mengganggu perhatian. Untuk menyuarakan kebenaran. Menurut Mariana, Kedailalang (juga Sastra Reboan) adalah segelintir anomali. Ekspresi yang mencoba membebaskan diri.

***

Hujan Sabtu siang hanya membasuh polusi. Selanjutnya membentangkan petang yang sejuk. Meski acara dimulai pukul 8, Kedailalang menyajikan pencerahan. Fitrah Anugerah membuka panggung dengan ”Perempuan Perkasa”. Hartoyo Andangjaya. Dan sebuah puisi besutan sendiri. Lantas Nana Sastrawan menyampaikan peristiwa kebakaran. Musibah yang menimpa teman-temannya di Tambora. Dalam sebuah puisi berawal senandung duka.

Tema sentral digelar. Kef mengeksplorasi Mariana. Mengenai HAM dan kiprah Jurnal Perempuan. Mendapat sambutan pertanyaan juga usulan. Kemudian Maya Sekartaji menawarkan imaji. Membaca puisi Taufiq Ismail tentang pornografi.

Bedah buku pun digelar. Dua berturut-turut oleh Khrisna Pabichara. Dimulai dengan ”Dongeng Semusim”. Novel keenam Sefryana Khairil Bariah. Disusul Helga Worotitjan, mewakili keempat teman. Mempersembahkan antologi: 100% Dianggap Buku Puisi. Sebuah untaian karya dengan proses dialog facebook. Fenomena yang sungguh menarik.

Giliran seorang tamu yang vokal: Gempar Soekarnoputra. Ia seorang pengacara yang ”berbahaya”. Puisi bernada keras mengusung kasus Bank Century. Berkumandang di panggung Kedailalang. Sebuah gugatan atas nama rakyat. Putra proklamator itu memang mewarisi bakat orator!

Enam perempuan menghias panggung. Bukan untuk membuka arisan, seperti celetuk Saut Poltak Tambunan. Mereka membaca puisi berangkai. Serupa bunga rampai. Ah, rupanya ditulis melalui media maya. Bersahutan. Antara Susy Ayu, Dewi Maharani, Pratiwi Setyaningrumi, Shinta Miranda, Helga Worotitjan, dan Weni Suryandari. Manis. Tentu, karena menyiarkan aroma cinta. Pantaslah jika Bung Kelinci mendaulat mereka tampil kembali di bulan cinta. Februari yang penuh rona.

Musikakustik Jeruk Asem berbagi nyanyian. Perlahan namun nyaman. Mereka dari STBA LIA. Merdu dan menghanyutkan. Lirih dan sopan. Memberi jeda untuk pembacaan puisi berikutnya. Yoyong Amilin. Willy Rinaldi, sang pacar, dan Handoko. Ditutup oleh Epri Tsaqib dengan dua puisi. Karya Soebagio Sastrowardojo dan Nana Sastrawan.

Selesai? Benar. Dengan janji lebih menarik di bulan dan tahun depan. Mempertemukan pengarang, penerbit, dan toko buku. Satu lagi: kaum penikmat sastra. Diwakili oleh Forum Indonesia Membaca. Dessy Sekar Astina. Dan seperti biasa: panggung ditutup dengan foto keluarga. Namun sesungguhnya kami masih bercanda dan bercerita. Mas Gempar yang penuh pengalaman membawa kami pada sejumlah pesona.

*) Dinukil dari catatan pribadi di facebook Kurnia Effendi, 13 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan