-->

Ruang Toggle

KBR 68H: Mendengarkan Suara Akar Rumput

Radio 68 H2Mengudara pertama kali pada 29 April 1999 dengan 9 berita. Mulanya hanya 7 radio yang menggunakan program Kantor Berita Radio 68 H (KBR 68H) dengan jumlah 7 reporter. Kini tercatat 515 radio jaringan yang merelai berita produksi mereka dengan lebih dari 100 personil termasuk para koresponden, mulai Pro FM di ujung barat Sabang sampai Fritta FM di ujung timur Merauke dengan prinsip: tak mencaplok radio daerah melainkan memberdayakan dalam kerangka kemitraan.

Embrio KBR 68H dimulai sebagai satu unit kegiatan milik Institut Studi Arus Informasi (ISAI), LSM yang aktif meningkatkan kualitas jurnalisme dan lancarnya arus Informasi di Indonesia. Pascatumbangnya rezim otoritaran, banyak pihak mulai dihadapkan pada pilihan-pilihan cara bergerak. Salah satunya program layanan berita untuk radio; sektor media paling lemah menangkap peluang kebebasan.

Di hari-hari permulaan, KBR 68H hanya memproduksi program 15 menit dalam sehari, yang terdiri dari 7 sampai 10 file audio. Kini, KBR 68H mampu memproduksi 18 jam program sehari, mulai dari “Buletin Sore” yang mengudara pada Agustus 1999 hingga program-program baru seperti “Kabar Baru 68H” dan pelbagai dialog interaktif seperti “Reformasi Hukum”, “Obrolan Ekonomi”, “Hak Asasi Manusia”, “Apresiasi Seni”, dan “Perspektif Baru”.

Di luar soal jaringan yang luas, KBR 68H adalah contoh radio yang menumbuhkan jurnalisme radio Indonesia lewat giatnya pelatihan jurnalisme diadakan KBR di daerah-daerah, penerbitan buku-buku ihwal jurnalisme radio, juga program magang di KBR bagi anggota jaringan radio.

Jaringan radio yang menembus kantong-kantong perumahan rakyat hingga ujung Indonesia menjadi amunisi bagi KBR. Ia bisa menemani dan ditemani daerah-daerah yang tersebar di Indonesia melewati transisi, mulai mewartakan perdamaian dengan program “Kabar Maluku”, memperkecil angka kabupaten tertinggal di Indonesia dengan program mitra daerah bekerja sama dengan kementrian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, dan melawan korupsi dengan pemberitaan kritis.

Bahkan lewat program “Asia Calling”, siaran KBR 68H direlai beberapa radio luar negeri seperti Radio Nederland, Deutsche Welle, VOA, SBS, dan beberapa lainnya.

Karena peran itulah, radio dengan 13 juta pendengar ini lantas dianugerahi The Tech Museum Award 2003 di Amerika dan King Baudouin International Development Prize 2009 karena dinilai mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk memperluas akses informasi masyarakat dan memajukan kehidupan madani melalui penyebaran informasi.

Di balik lembaga selalu ada alamat pribadi—yang memberi jiwa dan menjaga denyut radio ini agar bertahan. Isaac Santoso adalah pribadi dengan keteguhan tekadnya terus bekerja di balik layar dan mengantar KBR 68H menjadi media yang menampilkan kesegaran baru dalam produksi berita radio dengan mengambil suara akar rumput yang senyap. Kelihaiannya membangun jaringan menobatkan radio ini sebagai gudang berita publik pertama berbasis radio dengan etos yang dibangun dengan semangat melayani kebutuhan informasi publik dengan jangkauan mahaluas.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan